Logo

44in-Arya Menampar Raka karena Merusak Mobilnya… Beberapa Detik Kemudian, Ia Melihat Dirinya Sendiri di Foto Lama!

Article image




Arya masih menatap foto tua itu dengan tangan gemetar, lalu perlahan membandingkan wajah Raka dengan dirinya sendiri. “Siapa nama ibumu?” tanyanya dengan suara serak. Raka mengusap air mata sambil tetap memegangi pipinya yang merah. “Namanya Laras Prameswari. Ibu bilang kalau Om lihat foto itu, Om pasti ingat.” Nama itu menghantam Arya jauh lebih keras daripada pecahan kaca mobilnya. “Laras… masih hidup?” Raka mengangguk cepat. “Ibu dirawat di rumah sakit kecil dekat sini. Dokter bilang harus segera operasi, tapi kami nggak punya uang. Ibu melarang saya mencari Om… sampai tadi malam dia pingsan dan menyerahkan foto ini.” Arya menutup mata sejenak. “Ya Tuhan… aku mencari Laras bertahun-tahun.” Raka menatapnya bingung. “Kalau begitu kenapa Om nggak pernah datang?” Arya tidak mampu menjawab.

Arya langsung membawa Raka ke rumah sakit. Begitu melihat Laras terbaring lemah dengan bantuan oksigen, langkahnya berhenti di ambang pintu. Laras membuka mata perlahan. “Arya… akhirnya kamu datang.” Arya mendekat dengan wajah hancur. “Kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku soal Raka?” Laras menangis. “Aku mencoba. Ayahmu datang ketika aku hamil. Dia bilang kamu sudah bertunangan dan tidak menginginkan anak ini. Dia memberiku surat dengan tanda tanganmu dan uang agar aku pergi dari Jakarta.” Arya langsung menggeleng. “Aku tidak pernah menulis surat itu!” Laras tersenyum pahit. “Aku baru tahu beberapa bulan lalu setelah mantan sekretaris ayahmu menghubungiku dan mengaku semuanya dipalsukan.” Raka berdiri di samping ranjang, lalu bertanya pelan, “Jadi… Om Arya benar-benar ayah saya?” Laras memejamkan mata. “Iya, Nak. Dia ayahmu.”

Arya langsung berlutut di depan Raka. “Aku tidak punya hak meminta kamu memanggilku Ayah sekarang. Tapi aku minta satu kesempatan untuk memperbaiki apa yang hilang.” Raka menatap pipinya sendiri lalu berkata, “Tadi Om menampar saya sebelum tahu siapa saya.” Arya menunduk dalam-dalam. “Dan itu salah. Tidak peduli kamu anakku atau bukan, aku tidak berhak memukul anak yang bahkan belum sempat menjelaskan. Maafkan aku.” Raka bertanya, “Kalau saya bukan anak Om, apa Om tetap akan menolong Ibu?” Arya mengangkat wajah. “Sekarang aku tahu jawaban yang seharusnya: iya. Orang sakit tidak harus punya hubungan darah denganku untuk layak ditolong.” Raka akhirnya mengangguk kecil. “Kalau begitu tolong selamatkan Ibu dulu. Soal Ayah… nanti saja.” Arya menggenggam bahunya. “Itu permintaan paling adil yang bisa kamu berikan kepadaku.”

Operasi Laras berhasil, dan tes DNA beberapa hari kemudian memastikan Raka adalah putra biologis Arya. Namun kebenaran lain segera terbongkar. Arya memanggil ayahnya, Darmawan, ke rumah sakit dan meletakkan surat palsu di atas meja. “Ayah kenal ini?” Darmawan membeku. “Aku melakukan itu untuk melindungi masa depanmu. Laras bukan berasal dari keluarga kita.” Arya menahan amarah. “Jadi Ayah mencuri sepuluh tahun hidup anak saya karena merasa darah keluarganya tidak cukup mahal?” Darmawan menjawab, “Aku pikir suatu hari kamu akan berterima kasih.” Arya berkata dingin, “Yang saya rasakan sekarang cuma jijik. Mulai hari ini Ayah keluar dari seluruh keputusan pribadi dan perwalian keluarga saya.” Darmawan memandang Raka. “Kamu akan memilih anak yang baru kamu kenal daripada ayahmu sendiri?” Arya menjawab, “Saya memilih memperbaiki dosa yang Ayah ciptakan.”

Setelah pulih, Laras menolak pindah langsung ke rumah mewah Arya. “Aku tidak ingin Raka bangun besok dan merasa hidupnya tiba-tiba dibeli,” katanya. Arya mengangguk. “Aku juga tidak ingin itu. Kita mulai perlahan.” Raka kemudian meminta satu hal. “Saya mau tetap sekolah di tempat yang sama sampai akhir tahun. Teman-teman saya di sana nggak pernah peduli saya miskin.” Arya tersenyum. “Baik. Dan aku yang akan menyesuaikan diri dengan hidupmu, bukan memaksa hidupmu menyesuaikan diri denganku.” Laras menatap Arya lama. “Kamu berubah.” Arya menjawab, “Bukan berubah. Mungkin baru sekarang aku sadar berapa banyak yang hilang karena aku terlalu percaya pada keluargaku dan terlalu cepat menghakimi orang lain.” Raka tertawa kecil. “Termasuk mobilnya?” Arya ikut tertawa. “Kaca depan bisa diganti. Sepuluh tahun tidak bisa.”

Setahun kemudian, Arya dan Raka menjadi sangat dekat. Suatu sore mereka berdiri di depan mobil yang dulu kaca depannya dihancurkan Raka. Arya bertanya, “Masih mau lempar batu lagi?” Raka tersenyum malu. “Nggak. Sekarang saya tahu ada cara lebih murah buat panggil Ayah.” Arya berhenti. “Kamu baru saja bilang apa?” Raka pura-pura tidak tahu. “Apa?” Arya menahan senyum. “Kamu bilang Ayah.” Raka menunduk sebentar lalu berkata, “Ya… karena sekarang Ayah memang datang kalau saya butuh.” Mata Arya langsung berkaca-kaca. “Terima kasih sudah memberiku kesempatan mendengar kata itu.” Laras yang berdiri tidak jauh dari mereka berkata, “Jangan bikin anaknya malu.” Raka tertawa. “Ibu, biarin. Sekali-sekali orang kaya boleh nangis.”

Beberapa tahun kemudian, foto tua yang dulu mengubah segalanya dipasang dalam bingkai sederhana di ruang keluarga mereka. Raka menunjuk foto itu dan berkata, “Kalau hari itu saya tidak berani melempar batu, mungkin kita tidak pernah bertemu.” Arya menggeleng. “Jangan jadikan itu alasan untuk melempar mobil orang lagi.” Laras tertawa. “Tapi memang aneh, satu batu membuka rahasia sepuluh tahun.” Raka menatap ayahnya. “Ayah menyesal karena dulu menampar saya?” Arya menjawab tanpa ragu, “Setiap kali mengingatnya. Tapi penyesalan cuma berguna

Comments (0)

Loading comments...