39in-Nadira Menghina Aruna karena Dianggap Tak Mampu Beli Supercar… Padahal Mobil Itu Milik Aruna!

Aruna baru berjalan beberapa langkah ketika suara kunci elektronik terdengar dari belakang. Lampu supercar merah itu tiba-tiba menyala, kaca spion terbuka, lalu pintunya terkunci otomatis tepat saat Nadira masih bersandar dengan angkuh di sampingnya. Tawa Viona dan Keisha langsung terhenti. Seorang petugas mansion berlari keluar sambil membawa kunci cadangan dan berkata, “Bu Aruna, maaf, mobil Anda sudah selesai diperiksa. Kuncinya tadi sempat tertinggal di ruang valet.” Nadira membeku. “Mobil… Anda?” Aruna berbalik perlahan. “Bukankah tadi kamu yakin sekali itu mobilmu?” Nadira buru-buru menarik tangannya dari atap mobil. “Aku cuma… meminjamnya untuk foto. Aku tidak tahu kamu pemiliknya.” Aruna tersenyum tipis. “Menarik. Jadi ketika kamu pikir pemiliknya tidak ada, mobil orang lain bisa berubah jadi milikmu?”
Viona menatap Nadira dengan tidak percaya. “Kamu bilang mobil ini hadiah ulang tahun dari ayahmu!” Keisha ikut menekan, “Bahkan tadi kamu bilang baru dikirim dari Singapura khusus buat kamu.” Nadira langsung membentak, “Diam! Kalian juga ikut foto dan pamer!” Aruna berjalan kembali ke arah mereka dengan langkah tenang. “Tenang. Aku tidak marah karena kalian berfoto. Aku cuma penasaran kenapa kalian perlu merendahkan orang lain supaya terlihat lebih tinggi.” Nadira mencoba mempertahankan harga dirinya. “Kalau soal mobil, aku bisa beli yang sama besok. Jangan merasa menang cuma karena kebetulan ini milikmu.” Aruna mengangkat alis. “Aku tidak sedang menang. Kamu sendiri yang baru saja kalah dari kebohonganmu.” Para tamu yang mulai berkumpul berbisik satu sama lain, dan untuk pertama kalinya Nadira tidak lagi tampak seperti pusat pesta, melainkan seseorang yang sedang mencari tempat untuk bersembunyi.
Saat itu pintu utama mansion terbuka. Seorang pria tua berjas krem turun dari tangga dan langsung menghampiri Aruna. “Nona Aruna, para anggota dewan sudah menunggu di dalam. Ayah Anda meminta rapat dimulai setelah Anda selesai menerima tamu.” Wajah Nadira berubah semakin pucat. “Rapat dewan? Rumah ini… rumah siapa sebenarnya?” Pria itu menatapnya heran. Aruna menjawab sendiri, “Rumah keluarga saya. Malam ini aku mengundang beberapa calon mitra dan keluarga mereka.” Viona langsung menutup mulut. Keisha berbisik, “Aruna Adiprana… jangan bilang kamu putri keluarga Adiprana?” Aruna mengangguk kecil. Nadira berkata nyaris tanpa suara, “Keluarga yang punya Adiprana Holdings?” Aruna menatapnya lurus. “Ya. Tapi tadi sebelum kamu tahu nama belakangku, kamu sudah memutuskan hidupku bahkan tidak semahal roda mobil ini.”
Nadira langsung mengubah sikap. “Aruna, dengarkan aku. Aku cuma bercanda. Dunia sosial Jakarta memang seperti ini. Jangan dibawa serius.” Aruna menjawab, “Kalau korban tertawa, mungkin itu bercanda. Kalau hanya orang yang menghina yang tertawa, itu bukan humor.” Tiba-tiba seorang staf menyerahkan tablet kepada Aruna. Di layar terlihat daftar tamu dan proposal investasi malam itu. Aruna membaca sebentar lalu menatap Nadira. “Keluarga Kusuma mengajukan pendanaan untuk proyek properti baru, kan?” Nadira langsung panik. “Jangan campur urusan pribadi dengan bisnis keluarga saya!” Aruna menjawab tenang, “Aku tidak akan menolak proposal hanya karena kamu menghina aku. Tapi malam ini memberiku informasi penting tentang karakter orang yang akan mewakili perusahaan itu. Besok dewan akan menilai semuanya secara objektif.” Nadira berbisik, “Jadi masa depan perusahaan keluargaku sekarang ada di tanganmu?” Aruna menjawab, “Bukan. Ada di tangan keputusan kalian sendiri. Aku hanya berhenti menutup mata.”
Keesokan harinya, rekaman pesta dan keterangan staf menunjukkan bahwa Nadira memang sering menggunakan barang milik keluarga lain untuk membangun citra sosial palsu. Ayahnya memanggilnya ke ruang kerja. “Kamu mempermalukan keluarga bukan karena ketahuan mobil itu bukan milikmu, tapi karena kamu menghina seseorang yang kamu kira lebih rendah.” Nadira membela diri, “Ayah, semua orang di lingkaran kita juga seperti itu!” Sang ayah membalas, “Kalau semua orang melompat ke jurang, apa kamu ikut? Mulai hari ini kamu keluar dari tim negosiasi perusahaan.” Nadira terkejut. “Karena Aruna?” Ayahnya menggeleng. “Karena dirimu sendiri. Aruna bahkan tidak meminta kamu dihukum. Justru itu yang membuat saya semakin malu.” Nadira menunduk untuk pertama kalinya. “Kalau begitu beri aku kesempatan memperbaiki semuanya.” Ayahnya menjawab, “Mulailah dengan berhenti membangun harga diri dari barang yang bahkan bukan milikmu.”
Beberapa bulan kemudian, Nadira meminta bertemu Aruna tanpa Viona, Keisha, ataupun kamera sosial media. Ia datang dengan pakaian sederhana dan berkata, “Aku tidak datang meminta perusahaanmu menyetujui proyek kami. Aku cuma mau minta maaf.” Aruna mempersilahkannya duduk. Nadira melanjutkan, “Waktu itu aku takut dianggap biasa. Aku selalu berpikir kalau orang melihat mobil mahal, gaun mahal, dan teman-teman yang tepat, mereka akan menghormatiku.” Aruna menjawab, “Tapi rasa hormat yang dibeli dengan barang akan hilang saat barangnya hilang.” Nadira mengangguk. “Aku tahu sekarang. Yang paling memalukan bukan ketika semua orang tahu Ferrari itu milikmu. Yang paling memalukan adalah ketika aku sadar betapa kejamnya aku saat merasa aman karena mengira kamu tidak bisa melawan.” Aruna tersenyum tipis. “Kalau kamu benar-benar paham itu, maka malam tersebut tidak sia-sia.”
Setahun kemudian, mansion Adiprana kembali mengadakan gala. Supercar merah yang sama terparkir di driveway, tetapi kali ini tidak ada seorang pun menjadikannya pusat perhatian. Nadira datang sebagai perwakilan perusahaan keluarganya setelah menjalani masa panjang membangun kembali reputasinya. Saat melihat Aruna, ia tersenyum dan berkata, “Mobilnya masih cantik. Tapi sekarang aku tahu itu bagian paling tidak menarik dari pemiliknya.” Aruna tertawa kecil. “Itu pujian atau sindiran?” Nadira menjawab, “Pujian. Karena dulu aku mengira kekayaan adalah sesuatu yang harus diteriakkan. Kamu mengajariku bahwa orang yang benar-benar punya kuasa justru tidak perlu membuktikannya.” Aruna memandang para tamu lalu berkata, “Dan orang yang benar-benar punya kelas tidak pernah membutuhkan seseorang yang lebih rendah untuk merasa tinggi.” Nadira mengangguk. “Pelajaran termahal dalam hidupku ternyata bukan harga Ferrari itu.” Aruna tersenyum. “Lalu apa?” Nadira menjawab, “Menyadari bahwa malam itu aku bukan dipermalukan karena mobil itu bukan milikku—aku dipermalukan oleh sikapku sendiri.”
Comments (0)
Loading comments...


















