Logo

38in-Alyssa Ditampar Dua Kali di Depan Keluarga… Tapi Pria yang Mereka Takuti Justru Membungkuk Kepadanya!

Article image




Baskara masih membungkuk di depan Alyssa ketika seluruh ruang makan berubah sunyi seperti makam. Miranda menatap menantunya dengan wajah pucat, sementara Reza berdiri kaku di samping kursinya. “Bos? Maksud Bapak… Alyssa?” tanya Reza terbata. Baskara perlahan berdiri tegak dan menoleh kepadanya. “Ya. Perempuan yang barusan kalian perlakukan seperti pelayan adalah pemilik mayoritas Arunika Capital, perusahaan yang selama tiga tahun terakhir menyelamatkan bisnis keluarga Atmaja dari kebangkrutan.” Miranda refleks mundur satu langkah. “Tidak mungkin. Dia tinggal di rumah ini dan melayani kami setiap hari!” Alyssa menyentuh sudut bibirnya yang masih berdarah tipis lalu menjawab dingin, “Karena aku ingin tahu bagaimana kalian memperlakukanku ketika kalian mengira aku tidak punya apa-apa. Malam ini aku akhirnya mendapatkan jawabannya.”

Reza segera mendekat. “Alyssa, dengarkan aku. Aku tidak tahu kamu pemilik Arunika.” Alyssa menatapnya lama. “Itu justru masalahnya, Reza. Kalau kamu tahu aku kaya, kamu akan membelaku. Karena kamu mengira aku lemah, kamu memilih duduk diam saat ibumu menamparku dua kali.” Miranda langsung menyela, “Saya cuma marah! Ini urusan keluarga, jangan dibesar-besarkan!” Baskara memandangnya tajam. “Bu Miranda, rumah ini bahkan sedang berdiri di atas kredit yang dijamin oleh perusahaan Alyssa. Jadi sebelum mengatakan dia tidak tahu diri, mungkin Ibu perlu bertanya siapa yang sebenarnya selama ini memberi keluarga ini tempat untuk berdiri.” Para kerabat mulai saling berbisik. Reza menelan ludah. “Berarti semua investasi yang masuk dua tahun terakhir… dari kamu?” Alyssa menjawab, “Dari perusahaan yang kubangun sebelum menikah denganmu. Aku sengaja tidak memakai namaku di depan keluarga kalian.”

Miranda kehilangan ketenangannya. “Kalau begitu kenapa kamu membiarkan kami menganggapmu biasa saja? Ini seperti jebakan!” Alyssa menggeleng. “Tidak. Aku tidak pernah meminta kalian menghormatiku karena uang. Aku hanya menunggu apakah kalian bisa menghormati seseorang tanpa tahu nilai rekeningnya.” Baskara kemudian membuka sebuah map tipis dan meletakkannya di atas meja. “Bos, sesuai instruksi Anda, audit terakhir sudah selesai. Ada penarikan dana perusahaan melalui tiga anak usaha keluarga Atmaja tanpa persetujuan investor utama.” Reza langsung menatap ibunya. “Ibu tahu soal ini?” Miranda membalas cepat, “Itu untuk menyelamatkan arus kas keluarga!” Alyssa tersenyum tanpa kehangatan. “Jadi bukan cuma aku yang diperlakukan seperti pembantu. Uangku pun kalian anggap milik kalian.” Reza berbisik, “Alyssa… aku benar-benar tidak tahu.” Alyssa menjawab, “Tapi kamu menikmati semua hasilnya tanpa pernah bertanya.”

Baskara melanjutkan, “Mulai besok pagi, seluruh fasilitas pendanaan yang menggunakan jaminan Arunika Capital dibekukan sementara sampai audit independen selesai.” Miranda langsung panik. “Tidak! Kalau itu dilakukan, perusahaan keluarga bisa berhenti beroperasi!” Alyssa menatap para staf rumah dan kerabat yang sejak tadi diam. “Karyawan tidak akan menjadi korban. Gaji dan operasional penting tetap kami lindungi. Yang dibekukan adalah akses keluarga terhadap dana yang selama ini mereka gunakan sesuka hati.” Reza akhirnya berlutut di depan Alyssa. “Tolong jangan akhiri pernikahan kita malam ini. Aku salah. Aku pengecut. Tapi aku bisa berubah.” Alyssa memandang cincin yang sudah ia lepaskan tadi. “Aku tidak meninggalkanmu karena keluargamu miskin atau bisnis kalian bermasalah. Aku meninggalkanmu karena saat aku dipukul, kamu memilih kenyamananmu sendiri daripada martabat istrimu.”

Miranda mulai menangis. “Alyssa, saya akui saya keterlaluan. Tapi jangan hancurkan keluarga ini karena kesalahan saya.” Alyssa mendekatinya perlahan. “Saya tidak akan menghancurkan keluarga ini. Saya hanya berhenti menopangnya secara diam-diam. Kalau kalian memang kuat, berdirilah dengan kemampuan kalian sendiri.” Miranda berkata lirih, “Apakah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya?” Alyssa menjawab, “Untuk bisnis, ada. Untuk hubungan kita, mungkin suatu hari ada ruang untuk saling menghormati. Tapi untuk pernikahanku dengan Reza, selesai.” Reza menutup wajahnya. Baskara kemudian bertanya, “Bos, apakah Anda ingin saya menyiapkan mobil?” Alyssa mengangguk. “Ya. Dan besok pagi, panggil dewan. Tidak ada balas dendam. Semua keputusan harus berdasarkan audit, bukti, dan hukum.” Baskara menjawab, “Baik, Bos.”

Enam bulan kemudian, keluarga Atmaja berhasil mempertahankan bisnis inti mereka setelah dewan profesional mengambil alih pengelolaan dari Miranda dan Reza. Reza kehilangan jabatan direktur sementara dan menjalani program evaluasi kepemimpinan. Dalam pertemuan terakhir bersama Alyssa, ia berkata, “Aku dulu berpikir aku kepala keluarga karena rumah ini memakai namaku. Sekarang aku sadar aku bahkan tidak mampu berdiri ketika kamu membutuhkan aku.” Alyssa menjawab tenang, “Kesadaran itu lebih penting daripada jabatan. Tapi jangan berubah untuk mendapatkanku kembali.” Reza mengangguk. “Aku tahu. Aku sedang belajar meminta maaf kepada orang-orang di rumah yang dulu kubiarkan diperlakukan seenaknya.” Alyssa berkata, “Bagus. Kalau suatu hari kamu benar-benar berubah, itu bukan hadiah untukku. Itu hadiah untuk dirimu sendiri.” Miranda juga kemudian meminta maaf secara pribadi. “Saya malu mengingat malam itu.” Alyssa menjawab, “Rasa malu berguna kalau membuat seseorang berhenti mengulangi kesalahan.”

Setahun setelah malam Natal itu, Alyssa berdiri di kantor pusat Arunika Capital bersama Baskara, menatap Jakarta dari jendela besar. “Bos, keluarga Atmaja sudah melunasi sebagian besar kewajiban mereka tanpa meminta tambahan bantuan,” kata Baskara. Alyssa tersenyum tipis. “Bagus. Berarti untuk pertama kalinya mereka belajar berdiri tanpa menggunakan namaku sebagai tongkat.” Baskara lalu bertanya, “Apakah Anda menyesal pernah menyembunyikan siapa diri Anda?” Alyssa menggeleng. “Tidak. Kalau sejak awal mereka tahu aku pemilik Arunika, aku mungkin akan hidup dikelilingi rasa hormat palsu dan tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya.” Baskara tersenyum. “Dan sekarang mereka tahu siapa Anda.” Alyssa memandang pantulan dirinya di kaca. “Yang lebih penting, sekarang aku tahu siapa diriku tanpa cincin, tanpa keluarga suami, tanpa perlu membuktikan apa pun.” Baskara menunduk hormat. “Selamat datang kembali, Bos.” Alyssa menjawab pelan, “Kali ini, aku tidak kembali untuk menyelamatkan siapa pun. Aku kembali untuk menjalani hidup yang tidak lagi meminta izin dari orang yang pernah merendahkanku.”

Comments (0)

Loading comments...