Logo

36in-Arya Ditampar Karena Menghentikan Darmawan Minum… Tapi Tuduhannya Membuat Nadira Langsung Pucat!

Article image


Nadira tetap mundur satu langkah, matanya tidak lepas dari gelas anggur yang masih terulur di tangan Darmawan. Seluruh dek yacht menjadi sunyi. Darmawan mengulangi dengan suara lebih rendah, “Kenapa kamu tidak mau minum?” Nadira menelan ludah. “Karena… saya tidak suka anggur itu.” Arya langsung menyela, “Bohong! Tadi saya lihat sendiri dia menuangkan sesuatu ke gelas Bapak sebelum Bapak datang ke meja.” Nadira membentak, “Kamu cuma pelayan yang ingin memfitnah saya!” Darmawan tidak bereaksi. Ia menyerahkan gelas itu kepada salah satu staf kapal. “Simpan. Jangan ada yang menyentuhnya sampai diuji.” Lalu ia menatap Nadira. “Kalau Arya berbohong, dia akan menanggung akibatnya. Tapi kalau dia benar… kamu akan menjelaskan kenapa orang yang selama ini duduk di meja keluargaku mencoba membunuhku.”

Nadira mulai kehilangan kendali. “Darmawan, Anda mengenal saya bertahun-tahun! Anda benar-benar lebih percaya laki-laki miskin itu daripada saya?” Darmawan menjawab, “Aku percaya bukti, bukan harga gaun seseorang.” Arya kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Saya merekam sebagian kejadian karena saya sudah curiga sejak tadi.” Dalam video terlihat Nadira berdiri sendirian di dekat meja Darmawan dan menjatuhkan isi kapsul kecil ke dalam gelas sebelum menyimpan bungkusnya di clutch. Nadira langsung mencoba merebut ponsel tersebut. “Matikan itu!” Arya mundur. Darmawan menatapnya dingin. “Jadi itu alasan kamu menampar dia? Supaya semua orang menganggap tuduhannya cuma dendam seorang pria yang kamu hina?” Nadira terdiam, lalu berbisik, “Saya bisa menjelaskan.”

Clutch Nadira akhirnya diperiksa di hadapan para saksi. Di dalamnya ditemukan bungkus kapsul yang sama dengan yang terlihat di rekaman, tetapi Darmawan tetap menahan semua orang agar tidak langsung menyimpulkan. “Tidak ada yang menyentuh Nadira. Kita tunggu hasil pemeriksaan.” Arya menatapnya heran. “Bapak masih mau memberinya kesempatan?” Darmawan menjawab, “Aku ingin kebenaran, bukan kemarahan.” Nadira tiba-tiba menangis. “Saya tidak berniat membunuh Anda!” Darmawan menatapnya tanpa berkedip. “Lalu apa yang kamu masukkan?” Nadira menjawab terbata, “Obat yang membuat Anda mengantuk dan bingung. Saya cuma ingin Anda tidak menghadiri rapat malam ini.” Arya langsung bertanya, “Kenapa?” Nadira menutup wajah. “Karena kalau dia datang ke rapat itu, semuanya akan terbongkar.”

Darmawan meminta asistennya membuka dokumen rapat yang akan dibahas malam itu. Audit internal menunjukkan bahwa selama hampir dua tahun, perusahaan investasi milik Nadira telah menerima pembayaran rahasia dari proyek yacht dan properti keluarga. Darmawan mengangkat satu halaman. “Empat ratus miliar rupiah hilang melalui perusahaan cangkang yang terhubung dengan namamu. Ini yang kamu takutkan?” Nadira menangis semakin keras. “Saya tidak mengambil semuanya! Arya Mahendra yang mengatur skemanya. Saya cuma membantu menandatangani dokumen.” Darmawan mengerutkan kening. “Arya Mahendra?” Nadira mengangguk. “Dia menjanjikan saya bagian dan bilang kalau Anda tidak hadir malam ini, audit bisa ditunda.” Arya yang menyelamatkan Darmawan langsung berkata, “Jadi orang yang memerintahkan semua ini masih ada di darat?” Darmawan menjawab tenang, “Dan sekarang dia belum tahu bahwa rencananya gagal. Bagus.”

Beberapa jam kemudian, hasil pemeriksaan awal menunjukkan zat di dalam gelas memang obat penenang dosis tinggi yang berbahaya bila bercampur dengan kondisi kesehatan Darmawan. Nadira langsung jatuh terduduk. “Saya tidak tahu dosisnya sebesar itu. Dia bilang cuma akan membuat Bapak tidur!” Darmawan menjawab, “Ketika kamu memasukkan sesuatu ke minuman seseorang tanpa sepengetahuannya, kamu sudah menyerahkan keselamatan orang itu kepada kebohonganmu sendiri.” Arya menatap Nadira yang sebelumnya menampar dan menghinanya. “Tadi Anda bilang akan menghancurkan hidup saya karena saya miskin. Sekarang hidup siapa yang sebenarnya sedang hancur?” Nadira menunduk. Darmawan berkata, “Cukup, Arya. Jangan berubah menjadi dia hanya karena kamu sekarang berada di pihak yang benar.” Arya terdiam lalu mengangguk. “Benar, Pak. Saya hanya ingin dia bertanggung jawab.”

Penyelidikan berikutnya membongkar seluruh jaringan penggelapan. Arya Mahendra akhirnya ditetapkan sebagai dalang utama, sementara Nadira mengakui perannya dan bekerja sama membuka semua rekening serta dokumen palsu. Sebelum dibawa untuk menjalani proses hukum, Nadira meminta bicara dengan Arya. “Kenapa kamu tetap menyelamatkan saya dari amarah Darmawan setelah saya menamparmu?” Arya menjawab, “Karena saya tidak masuk ke kapal itu untuk membalas Anda. Saya masuk supaya seseorang tidak mati.” Nadira menangis. “Saya pikir orang seperti kamu bisa diperlakukan sesuka hati karena tidak punya kekuasaan.” Arya menatapnya tenang. “Itu kesalahan Anda sejak awal. Martabat tidak muncul setelah seseorang terbukti kaya atau penting. Martabat sudah ada sebelum Anda tahu siapa dia.” Nadira mengangguk. “Saya terlambat memahami itu.”

Setahun kemudian, Darmawan mengangkat Arya sebagai kepala unit kepatuhan independen setelah mengetahui bahwa pemuda itu sebelumnya bekerja sebagai teknisi kapal yang menemukan kejanggalan logistik dan memilih melapor meski berisiko kehilangan pekerjaan. Di dek yacht yang sama, Darmawan bertanya, “Masih ingat hari kamu menerobos pintu sambil berteriak soal anggur?” Arya tersenyum. “Saya ingat tamparannya juga, Pak.” Darmawan tertawa kecil. “Dan sekarang?” Arya melihat laut lalu berkata, “Sekarang saya tahu orang paling berbahaya bukan selalu yang paling keras. Kadang dia justru orang yang tersenyum sambil menyembunyikan sesuatu di dalam gelas.” Darmawan mengangguk. “Dan orang paling berharga bukan selalu yang duduk di kursi tertinggi. Kadang dia adalah orang yang berani berlari masuk dan berkata ‘jangan minum’ ketika semua orang lain memilih diam.” Arya menjawab, “Kalau hari itu saya terlambat beberapa detik, semuanya mungkin berbeda.” Darmawan menepuk bahunya. “Tapi kamu tidak terlambat. Dan karena satu keberanian itu, satu nyawa selamat, satu pengkhianatan terbongkar, dan sebuah keluarga akhirnya tahu siapa yang benar-benar layak dipercaya.”

Comments (0)

Loading comments...