Logo

32iutt “Sentuh Aku Lagi, Kita Selesai.” — Ultimatum Sang Istri Setelah Dipermalukan di Meja Makan

Article image

 

Keisya berdiri tegak di ujung meja makan, sementara gulai merah-oranye masih menetes dari rambut dan kemeja mahal Aryasatya. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak. Ratih menatap menantunya seolah baru pertama kali melihat perempuan yang selama ini ia kira bisa dikendalikan. Dimas bahkan sudah meletakkan ponselnya. Keisya memandang cincin yang baru saja ia letakkan di atas meja, lalu berkata dengan suara rendah namun tajam, “Dua hari cukup untuk membuatku tahu keluarga seperti apa yang baru saja kumasuki.” Aryasatya mengepalkan tangan, wajahnya merah karena malu. “Ambil kembali cincin itu, Keisya. Jangan membuat masalah ini lebih besar.” Keisya tersenyum tipis. “Masalah ini bukan dimulai ketika aku melepas cincin. Masalah ini dimulai ketika tanganmu menyentuh wajahku.” Ratih langsung menyela, “Kamu terlalu dramatis! Seorang istri harus tahu cara menghormati suaminya.” Keisya menoleh padanya. “Dan seorang ibu seharusnya mengajari anak laki-lakinya menghormati perempuan, bukan mengajari menantunya menjadi pelayan.”

Aryasatya meraih serbet, mengusap wajahnya kasar, lalu membantingnya ke meja. “Kamu mempermalukanku di rumahku sendiri!” bentaknya. Keisya maju setengah langkah, sama sekali tidak gentar. “Rumahmu? Bahkan sebelum pernikahan, kau sendiri yang mengatakan rumah ini akan menjadi rumah kita.” Ratih tertawa sinis. “Jangan bermimpi. Semua yang ada di sini milik keluarga Wiradinata.” Keisya menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab, “Bagus. Kalau begitu aku tidak perlu membawa apa pun dari rumah ini ketika aku pergi.” Aryasatya langsung terdiam. “Pergi?” tanyanya, kali ini nada suaranya berubah. Keisya mengangguk. “Aku tidak menikah untuk mencari rumah mewah. Aku menikah karena mengira aku mendapatkan pasangan.” Ia menunjuk Aryasatya. “Ternyata aku hanya mendapatkan laki-laki dewasa yang masih menunggu persetujuan ibunya untuk menentukan bagaimana istrinya harus hidup.” Dimas menelan ludah. Aryasatya menatapnya tajam. “Jangan ikut campur.” Namun Dimas justru berkata pelan, “Mas… untuk kali ini, dia benar.”

Ratih bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser keras. “Dimas!” bentaknya. “Jangan berani-berani melawan Mama!” Dimas akhirnya menatap ibunya tanpa senyum manja seperti biasanya. “Mama yang menyuruh Kak Keisya melayaniku padahal aku punya tangan. Aku diam karena sejak kecil Mama membuat semua itu terasa normal.” Ratih terpaku. Dimas melanjutkan, “Tapi setelah melihat Mas Arya menampar istrinya hanya karena dia menolak melayaniku… aku malah malu pada diriku sendiri.” Aryasatya menunjuk adiknya. “Cukup!” Keisya memandang Dimas sesaat, lalu berkata, “Setidaknya masih ada satu orang di rumah ini yang bisa mengakui kesalahan.” Ratih menatap Keisya penuh kebencian. “Kamu baru dua hari di keluarga ini dan sudah membuat anak-anakku melawanku!” Keisya menjawab tanpa meninggikan suara, “Tidak, Bu Ratih. Saya tidak membuat siapa pun melawan Anda. Saya hanya berhenti tunduk. Bedanya sangat besar.”

Suasana semakin panas ketika kepala rumah tangga muncul di ambang pintu bersama seorang pria berjas abu-abu yang membawa map tipis. Aryasatya mengernyit. “Pak Surya? Kenapa pengacara keluarga ada di sini?” Pria itu menatap Keisya, lalu Aryasatya. “Saya datang karena Nona Keisya menghubungi saya sebelum makan siang.” Ratih langsung pucat. Keisya menyilangkan tangan di depan dada. “Aku sudah merasa ada yang salah sejak malam pertama setelah pernikahan, ketika ibumu mengambil kartu bankku dan berkata semua pengeluaran istri harus melalui keluarga.” Aryasatya tampak terkejut. “Mama melakukan itu?” Ratih buru-buru menjawab, “Itu untuk menjaga nama keluarga!” Keisya menatapnya tajam. “Lalu pagi ini Anda meminta staf memindahkan semua barang pribadiku ke kamar belakang karena katanya istri baru harus belajar rendah hati.” Pak Surya membuka map. “Nona Keisya juga meminta saya menyiapkan pernyataan pemisahan aset dan dokumen awal pembatalan perjanjian pernikahan bila terjadi kekerasan.” Aryasatya membeku. “Kamu sudah merencanakan semua ini?” Keisya menggeleng. “Tidak. Aku hanya menyiapkan pintu keluar kalau kalian menunjukkan wajah asli kalian. Dan hari ini, kalian melakukannya sendiri.”

Ratih mendadak kehilangan ketenangannya. “Kamu pikir kamu bisa mempermalukan keluarga ini lalu pergi begitu saja?” Keisya menjawab, “Saya tidak butuh izin Anda untuk meninggalkan tempat yang memperlakukan saya seperti barang milik.” Aryasatya maju, tetapi berhenti ketika Keisya mengangkat telapak tangannya. “Jangan mendekat.” Suaranya begitu tegas sehingga Aryasatya benar-benar berhenti. “Keisya…” katanya lebih pelan, “aku salah. Aku emosi. Kita bisa bicara berdua.” Keisya menatap bekas saus di wajahnya, lalu bekas kemerahan di pipinya sendiri yang terlihat dari pantulan kaca. “Dua menit lalu kau berteriak agar aku tunduk padamu. Sekarang ketika kau sadar aku benar-benar bisa pergi, kau ingin bicara baik-baik?” Aryasatya menunduk sesaat. “Aku tidak ingin kehilanganmu.” Keisya menjawab, “Seharusnya kau memikirkan itu sebelum tanganmu terangkat.” Ratih menyela, “Arya, jangan memohon pada perempuan ini!” Kali ini Aryasatya justru menoleh pada ibunya. “Mama, cukup. Semua ini dimulai karena Mama tidak pernah membiarkan siapa pun hidup tanpa tunduk pada Mama.”

Untuk pertama kalinya, Ratih benar-benar kehilangan kata-kata. Dimas berdiri dan menarik piring kosongnya sendiri. “Mulai hari ini aku ambil makanan sendiri,” katanya getir. “Seharusnya hal sesederhana ini tidak perlu menunggu sampai keluarga kita hancur.” Keisya menarik napas panjang lalu mengambil tas kecilnya dari kursi. Aryasatya menatap cincin di atas meja. “Kalau kamu keluar dari pintu itu, apa semuanya benar-benar selesai?” Keisya berhenti, tetapi tidak berbalik. “Pernikahan bisa diperbaiki hanya kalau rasa hormat masih hidup. Yang kau lakukan hari ini membunuhnya.” Aryasatya berkata, “Beri aku satu kesempatan.” Keisya akhirnya menoleh. “Kesempatan bukan berarti aku kembali hari ini. Kesempatan berarti kau belajar hidup tanpa kekerasan, berhenti berlindung di balik ibumu, dan membuktikan bahwa perubahanmu nyata. Kalau tidak, dokumen itu akan langsung diajukan.” Aryasatya bertanya lirih, “Dan kalau aku berubah?” Keisya menjawab, “Kalau kau berubah hanya supaya aku kembali, berarti kau belum berubah.”

Enam bulan kemudian, Keisya berdiri di balkon apartemennya sendiri di Jakarta ketika bel pintu berbunyi. Di luar berdiri Aryasatya, tanpa sopir, tanpa pengawal, tanpa kemewahan keluarga. Ia memegang sebuah amplop dan cincin yang dulu ditinggalkan Keisya. “Aku tidak datang untuk memintamu langsung kembali,” katanya. “Aku datang untuk mengembalikan sesuatu setelah aku belajar apa artinya menjadi suami.” Keisya membuka amplop itu. Di dalamnya ada bukti bahwa Aryasatya telah pindah dari rumah Ratih, mengikuti konseling, memisahkan urusan rumah tangganya dari kendali keluarga, dan meminta maaf secara tertulis kepada staf yang selama ini diperlakukan semena-mena. Keisya menatapnya lama. “Dan ibumu?” Aryasatya tersenyum pahit. “Mama masih marah. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, itu bukan lagi alasan untuk menyakiti orang lain.” Keisya tidak langsung mengambil cincin itu. Ia berkata, “Aku tidak butuh suami yang sempurna. Aku butuh laki-laki yang tahu bahwa cinta tanpa hormat bukan cinta.” Aryasatya mengangguk. “Aku tahu sekarang.” Keisya akhirnya mengambil cincin tersebut, tetapi tidak memakainya. Ia menggenggamnya lalu berkata, “Kita mulai lagi dari nol. Kalau suatu hari aku memakainya kembali, itu karena kau pantas mendapatkannya, bukan karena aku takut kehilanganmu.” Aryasatya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dari dalam apartemen, Keisya membuka pintu lebih lebar. Bukan sebagai istri yang kembali tunduk, melainkan sebagai perempuan yang memilih sendiri siapa yang layak berjalan di sampingnya.

 










Comments (0)

Loading comments...