Logo

31in-Dia Menghina Pria Berbaju Hitam karena Terlihat Miskin… Tapi Ferrari Itu Ternyata Miliknya!

Article image





Lampu Ferrari masih menyala ketika seluruh pesta mendadak sunyi. Pria berbaju hitam itu membuka pintu pengemudi dengan tenang, lalu menatap pria arogan yang beberapa detik sebelumnya menertawakannya. “Masih yakin mobil ini cuma cocok buat orang selevel kamu?” tanyanya dingin. Wajah pria arogan langsung pucat. “Tunggu… Ferrari ini punya lo?” Beberapa perempuan yang tadi ikut tertawa perlahan menjauh. Wanita berbikini hitam di sampingnya berbisik, “Reza, kamu bilang mobil ini punya kamu.” Reza gugup. “Gue cuma bilang gue yang bawa ke pesta!” Pria berbaju hitam mengangkat kunci mobil di tangannya. “Kamu membawanya karena valet menyerahkan kunci cadangan yang salah. Itu tidak membuatmu menjadi pemiliknya.” Reza menelan ludah. “Siapa sebenarnya lo?” Pria itu tersenyum tipis. “Damar Adiprana. Nama yang seharusnya kamu kenal sebelum menghina orang berdasarkan bajunya.”

Nama itu membuat dua pengusaha senior di dekat kolam langsung saling pandang. Salah satunya berbisik, “Damar Adiprana? Pemilik Adiprana Capital?” Reza seketika kehilangan keberanian. Damar menutup pintu Ferrari dan berkata, “Benar. Tapi malam ini aku datang bukan sebagai pemilik perusahaan. Aku datang sebagai tamu biasa. Aku ingin melihat bagaimana orang-orang di sini memperlakukan seseorang yang tampak tidak membawa status.” Reza mencoba tertawa. “Bro, jangan dibawa serius. Gue cuma bercanda.” Damar menatapnya tanpa senyum. “Bercanda? Kamu menghina penghasilan orang, menyuruhnya pergi seperti pelayan, lalu memakai mobil orang lain untuk membuktikan bahwa kamu lebih tinggi. Lucunya di bagian mana?” Wanita di samping Reza segera melepaskan lengannya. “Reza, aku nggak tahu kamu bahkan bukan pemilik mobil itu.” Damar menjawab, “Masalahnya bukan mobilnya. Masalahnya kalian baru berhenti tertawa setelah tahu siapa yang punya kekuasaan.”

Reza mulai panik ketika ponselnya berdering. Ia melihat nama ayahnya di layar, lalu menjawab. Suara marah langsung terdengar, “Kamu sedang bersama Damar Adiprana?!” Reza membeku. “Ayah… kok Ayah tahu?” Sang ayah membentak, “Karena besok kita dijadwalkan menandatangani investasi terbesar dalam sejarah perusahaan, dan investor utamanya adalah dia!” Reza perlahan menatap Damar. “Jadi… dana lima ratus miliar itu dari perusahaan lo?” Damar mengangguk. “Timku memang sedang mempertimbangkan investasi.” Reza langsung mendekat. “Damar, gue minta maaf. Gue bodoh. Jangan campur kejadian malam ini dengan bisnis keluarga gue.” Damar menjawab, “Aku tidak akan menghukum ribuan pegawai karena kelakuan satu anak pemilik perusahaan. Tapi aku juga tidak akan menyerahkan uang besar kepada manajemen yang menganggap karakter tidak penting.”

Wanita berbikini hitam yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “Saya juga minta maaf. Saya ikut tertawa karena saya kira Reza benar-benar lebih kaya dan lebih berkuasa.” Damar menoleh kepadanya. “Setidaknya kamu jujur. Tapi dengarkan baik-baik: kalau harga diri seseorang berubah berdasarkan saldo rekening orang di depannya, itu bukan harga diri. Itu ketakutan yang dibungkus kemewahan.” Salah satu perempuan lain yang tadi mengejek ikut menundukkan kepala. Reza mengepalkan tangan. “Jadi sekarang semua orang mau pura-pura suci karena ternyata dia miliarder?” Damar menjawab tenang, “Tidak. Justru aku ingin kalian mengingat bagaimana kalian memperlakukanku sebelum tahu siapa aku. Itulah wajah kalian yang sebenarnya.” Reza terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun di pesta itu yang tertawa bersamanya.

Keesokan paginya, Reza dipanggil ke rapat perusahaan keluarganya. Ayahnya melempar laporan di meja. “Damar tidak membatalkan investasi. Tapi dia memberi satu syarat: kamu keluar dari posisi direktur operasional selama evaluasi.” Reza langsung berdiri. “Ayah mau memecat anak sendiri karena satu kejadian di pesta?!” Sang ayah menjawab, “Bukan karena satu pesta. Karena pesta itu menunjukkan masalah yang selama ini kami abaikan. Kamu pikir nama keluarga membuat semua orang wajib tunduk.” Reza membalas, “Saya bisa memperbaikinya.” Ayahnya berkata, “Kalau begitu mulai dari bawah. Enam bulan. Tidak ada sopir, tidak ada kartu perusahaan, tidak ada jabatan eksekutif. Belajar bekerja tanpa nama belakangmu menyelamatkanmu.” Reza menatap meja lama sekali sebelum akhirnya berkata, “Kalau itu satu-satunya cara membuktikan saya bisa berubah… saya lakukan.”

Beberapa bulan kemudian, Reza bertemu lagi dengan Damar di sebuah acara bisnis Jakarta. Kali ini ia mengenakan setelan sederhana dan tidak dikelilingi siapa pun. “Damar, gue nggak datang buat minta jabatan gue balik. Saya cuma mau bilang terima kasih karena waktu itu lo nggak menghancurkan perusahaan keluarga gue.” Damar menjawab, “Aku tidak pernah ingin menghancurkanmu. Aku hanya ingin keputusan bisnis kami tidak bergantung pada ego seseorang.” Reza mengangguk. “Enam bulan kerja dari bawah bikin gue sadar betapa gampangnya dulu gue menghina orang yang gajinya lebih kecil. Sekarang gue tahu mereka justru yang menjalankan perusahaan setiap hari.” Damar tersenyum tipis. “Kalau kamu benar-benar memahami itu, jangan buktikan kepadaku. Buktikan kepada orang-orang yang dulu tidak kamu anggap penting.” Reza mengulurkan tangan. “Kali ini, boleh gue mulai dari minta maaf tanpa lihat jam tangan atau mobil lo dulu?” Damar menerima jabat tangannya. “Itu jauh lebih mahal daripada Ferrari.”

Setahun setelah pesta Uluwatu itu, Reza kembali ke vila yang sama untuk menghadiri acara amal perusahaan. Ferrari merah Damar kembali terparkir di tempat yang sama, tetapi kali ini Reza hanya tersenyum ketika melihatnya. Damar mendekat dan bertanya, “Nggak mau duduk di kap mobilnya lagi?” Reza tertawa malu. “Sekali seumur hidup cukup. Saya hampir kehilangan masa depan gara-gara sok jadi pemilik barang orang.” Damar menjawab, “Kamu hampir kehilangan lebih dari itu. Kamu hampir menjadi orang yang hanya menghormati mereka yang lebih kuat darimu.” Reza menatap para staf hotel yang sedang bekerja lalu berkata, “Sekarang saya belajar satu hal: orang yang kelihatannya sederhana belum tentu tidak punya kuasa, tapi bahkan kalau benar tidak punya apa-apa, mereka tetap pantas dihormati.” Damar mengangguk. “Nah, itu pelajaran yang sebenarnya.” Reza tersenyum. “Dan kalau suatu hari saya lihat Ferrari lagi, saya pastikan dulu siapa pemiliknya.” Damar tertawa kecil. “Lebih baik pastikan dulu siapa dirimu sendiri sebelum menilai orang lain.” Malam itu Reza akhirnya memahami bahwa kemewahan bisa membeli mobil, pesta, dan perhatian—tetapi kelas seseorang baru terlihat ketika ia berhadapan dengan orang yang ia kira tidak punya apa-apa.

Comments (0)

Loading comments...