Logo

30iutt Anak Kecil Itu Menunjuk ke Bawah Meja… Apa yang Mereka Temukan Membuat Wajah Zahra Pucat Seketika

Article image

Aryawan menahan napas ketika matanya akhirnya terbiasa dengan gelap di bawah meja. Di sudut sempit itu, seorang pria muda berjas kusut berjongkok sambil memeluk sebuah tas kulit ke dadanya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya. Zahra langsung mundur setengah langkah, tetapi meja membatasi geraknya. Aryawan mengenali pria itu sebagai Raka, mantan staf keuangan keluarga yang menghilang dua minggu sebelumnya setelah dituduh mencuri dokumen perusahaan. “Raka?” suara Aryawan berubah berat. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Raka menatap Zahra sebelum menjawab, “Saya tidak mencuri apa pun, Pak. Saya bersembunyi karena dia mau menghancurkan hidup saya.” Zahra langsung membentak, “Pembohong! Jangan dengarkan dia!” Namun Aryawan sudah melihat sesuatu di tangan Raka: sebuah amplop cokelat dengan stempel perusahaan Pradana Group. Ia menatap Zahra tajam. “Kalau dia berbohong, kenapa kamu tadi hampir mematahkan pergelangan tanganku supaya aku tidak melihat ke bawah sini?”

Aryawan keluar dari bawah meja lebih dulu lalu menarik Raka berdiri. Seluruh ruangan perlahan sunyi ketika para tamu melihat wajah Zahra yang tak lagi mampu menyembunyikan ketakutannya. Raka meletakkan tas kulit itu di atas meja utama dan membuka resletingnya. Di dalamnya terdapat salinan kontrak, laporan transfer, sebuah flash drive, dan beberapa dokumen yang telah ditandatangani menggunakan tanda tangan Aryawan. “Dua minggu lalu saya menemukan transfer ke tiga perusahaan fiktif,” kata Raka dengan suara bergetar. “Semua uang itu keluar dari rekening keluarga.” Zahra menatap para tamu lalu tertawa pendek. “Kertas seperti itu bisa dibuat siapa saja.” Raka menggeleng. “Benar. Karena itu saya membawa rekaman aslinya.” Ia mengangkat flash drive. Zahra langsung menerjang hendak merebutnya, tetapi Aryawan menahan tangannya. “Cukup, Zahra.” Suaranya rendah, tetapi membuat ruangan terasa membeku. “Kamu bilang Raka pencuri. Sekarang dia berdiri di depan kita membawa bukti bahwa justru kamu yang menguras perusahaan saya.”

Maya segera memindahkan layar presentasi acara ke laptop di meja samping. Beberapa detik kemudian terdengar suara Zahra dari rekaman tersembunyi. Jernih. Tidak mungkin disangkal. “Setelah Aryawan menandatangani dokumen pertunangan, akses aset keluarga akan lebih mudah,” suara Zahra terdengar dari pengeras suara. Lalu terdengar seorang pria bertanya, “Bagaimana dengan Raka?” Zahra menjawab dingin, “Jadikan dia kambing hitam. Kalau dia melawan, hancurkan reputasinya.” Seluruh ruangan meledak dalam bisikan. Zahra kehilangan warna di wajahnya. “Itu hasil edit!” teriaknya. Aryawan menatapnya tanpa berkedip. “Kau masih mau berbohong?” Zahra mengangkat dagu, berusaha mempertahankan martabat terakhirnya. “Aku melakukan semua ini karena keluargamu tidak pernah menganggapku cukup baik!” Aryawan menjawab, “Jangan sebut keserakahanmu sebagai luka. Orang yang terluka mencari keadilan. Kamu memilih menghancurkan orang lain.”

Zahra tiba-tiba menunjuk Raka. “Dia juga menerima uang dariku!” Raka menunduk sesaat, lalu mengeluarkan ponselnya. “Benar. Dan semua uang itu tidak pernah saya pakai.” Ia memperlihatkan rekening penampung yang masih utuh. “Saya mengikuti permainannya supaya bisa mengumpulkan bukti. Ketika dia sadar saya merekam semuanya, orang-orangnya mulai mencari saya.” Aryawan menatap Raka lama. “Kenapa tidak langsung datang kepadaku?” Raka tersenyum pahit. “Karena tanda tangan Bapak sudah dipalsukan. Saya tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.” Saat itulah Alika maju sambil memeluk boneka rusa kecilnya. Dengan polos ia berkata, “Om Arya… tadi Kak Raka takut sekali. Makanya dia sembunyi.” Keheningan yang mengikuti kalimat sederhana itu justru terasa paling menyakitkan. Aryawan berjongkok di depan Alika. “Kamu sudah melakukan hal yang sangat berani malam ini.” Alika menjawab, “Aku cuma bilang apa yang aku lihat.” Aryawan berdiri kembali dan menatap semua orang. “Dan ternyata seorang anak kecil lebih jujur daripada banyak orang dewasa di ruangan ini.”

Zahra tahu permainan sudah berakhir, tetapi ia belum menyerah. Ia menatap Aryawan dengan mata basah. “Setelah semua yang kita jalani, kamu akan mempermalukanku di depan mereka?” Aryawan mendekat satu langkah. “Kamu yang memilih panggungnya.” Zahra berbisik, “Aku mencintaimu.” Aryawan tertawa kecil tanpa kebahagiaan. “Cinta tidak memalsukan tanda tangan. Cinta tidak menjebak orang tak bersalah. Cinta tidak merampok keluarga orang yang katanya ingin dinikahi.” Ia mengambil cincin pertunangan dari meja kecil tempat Zahra tadi meletakkannya saat makan. Aryawan mendorong kotak cincin itu ke arahnya. “Pertunangan ini selesai malam ini.” Zahra terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada satu tamu pun yang berani membelanya. Maya kemudian menyerahkan ponsel kepada Aryawan. “Pak, bagian legal dan keamanan sudah menunggu instruksi.” Aryawan tidak mengalihkan tatapan dari Zahra. “Amankan semua dokumen. Bekukan akses rekening yang terhubung dengan transfer ini. Dan jangan biarkan satu bukti pun keluar dari rumah ini.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan internal membuktikan bahwa Raka tidak pernah mencuri uang perusahaan. Namanya dibersihkan sepenuhnya, sementara transaksi yang dilakukan Zahra berhasil dilacak dan sebagian besar dana dikembalikan. Di ruang rapat Pradana Group, Aryawan berdiri di hadapan para direktur dan berkata, “Orang ini kehilangan pekerjaan, nama baik, dan hampir kehilangan masa depannya karena kita terlalu cepat percaya pada tuduhan.” Salah satu direktur bertanya, “Apa keputusan Anda tentang Raka?” Aryawan menoleh kepadanya. “Saya ingin dia kembali.” Raka tampa









Comments (0)

Loading comments...