29iutt “Keluar dari Rumah Ini!” Bentak Sang Suami… Ia Tak Tahu Siapa Ayah Istrinya Sebenarnya!

Lampu konvoi masih membanjiri ruang utama ketika Arga berdiri seperti kehilangan kemampuan bicara. Beberapa detik kemudian, pintu mansion terbuka dan dua petugas keamanan berpakaian hitam masuk lebih dulu. Di belakang mereka muncul seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan langkah tenang, rambut mulai memutih dan tatapan yang membuat seluruh ruangan langsung sunyi. Alyara tidak bergerak dari tempatnya. “Ayah…” katanya lirih. Jenderal Darma Prameswari berhenti di samping putrinya, lalu melihat bekas kemerahan di pipinya. Tatapannya langsung berubah dingin. “Siapa yang menyentuhmu?” Arga buru-buru maju. “Pak Darma, ini cuma masalah rumah tangga.” Darma menoleh kepadanya. “Masalah rumah tangga?” suaranya rendah. “Kamu menampar putriku, mengusirnya, lalu masih merasa berhak menjelaskan kepadaku apa yang harus disebut masalah?”
Selena perlahan mundur dari sisi Arga, tetapi Darma sudah melihatnya. “Dan kamu siapa?” tanyanya. Selena mencoba tersenyum. “Saya… teman Arga.” Alyara akhirnya tertawa pendek, pahit. “Teman yang dia cium di ruang tamu rumahku.” Selena langsung pucat. Arga membentak, “Alyara, cukup!” Darma menatap Arga begitu tajam hingga lelaki itu langsung diam. “Jangan pernah meninggikan suara pada putriku lagi.” Arga mencoba mempertahankan harga dirinya. “Rumah ini milik saya. Pernikahan kami juga urusan saya.” Alyara mengambil napas panjang, lalu berkata, “Itu juga yang selama ini kamu yakini.” Arga mengernyit. “Maksudmu apa?” Darma mengangkat satu tangan. Seorang pengacara dari rombongan maju membawa map hitam tebal. Darma berkata, “Sekarang waktunya kamu tahu siapa yang sebenarnya memiliki rumah ini.”
Pengacara membuka dokumen di atas meja marmer. “Properti ini dibeli melalui Prameswari Family Trust tiga tahun sebelum pernikahan,” katanya. “Nama Pak Arga tidak pernah tercatat sebagai pemilik.” Wajah Arga berubah. “Itu bohong.” Alyara menjawab tenang, “Kamu tinggal di sini karena aku mengizinkannya.” Selena menatap Arga dengan kaget. “Kamu bilang rumah ini milik keluargamu!” Arga memotong, “Diam!” Namun pengacara melanjutkan, “Selain itu, tiga perusahaan yang selama ini menopang bisnis Anda adalah mitra strategis Prameswari Group.” Darma memandang Arga tanpa emosi. “Kamu membangun kesombonganmu di atas koneksi yang kuberikan karena Alyara mencintaimu.” Arga menelan ludah. “Pak Darma, jangan campur bisnis dengan urusan pribadi.” Darma menjawab, “Kamu yang mencampurnya saat merasa uang membuatmu berhak menghina anakku.”
Alyara berjalan mendekati Arga. Kali ini tidak ada air mata di wajahnya. “Tadi kamu bilang aku beban yang numpang hidup dari kamu, kan?” Arga tidak menjawab. “Jawab aku.” Arga akhirnya berbisik, “Aku sedang emosi.” Alyara tersenyum dingin. “Lucu. Orang selalu bilang ‘emosi’ setelah topengnya jatuh.” Selena tiba-tiba mencoba membela diri. “Alyara, aku nggak tahu hubungan kalian separah ini.” Alyara menatapnya. “Kamu tahu dia menikah.” Selena terdiam. Alyara melanjutkan, “Kamu berdiri di sampingnya ketika dia menamparku. Kamu bahkan ikut tertawa.” Selena berkata pelan, “Aku salah.” Alyara mengangguk. “Benar. Tapi kesalahan tidak otomatis hilang hanya karena kamu menyesal setelah melihat siapa ayahku.” Arga mulai panik. “Alyara, kita bisa bicara berdua.” Alyara menjawab, “Kita sudah selesai bicara sebagai suami istri.”
Darma kemudian memberi isyarat kepada pengacara. “Mulai malam ini, semua fasilitas yang diberikan keluarga kami kepada perusahaan Arga dihentikan sesuai kontrak,” katanya. Arga langsung meninggikan suara. “Kalian mau menghancurkan perusahaan saya hanya karena pertengkaran?” Alyara menggeleng. “Tidak. Kalau perusahaanmu hancur hanya karena satu keluarga berhenti menopangnya, berarti sejak awal itu bukan kerajaanmu.” Kalimat itu membuat Arga benar-benar diam. Darma menambahkan, “Aku tidak akan mengambil sesuatu yang memang milikmu. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu terus memakai nama, aset, dan jaringan keluargaku.” Selena menatap Arga dengan jijik. “Jadi selama ini semua gaya hidupmu bergantung pada keluarga istrimu?” Arga menatapnya tajam. “Jangan mulai.” Selena tertawa pahit. “Tadi kamu bilang Alyara yang numpang hidup. Ternyata kamu yang numpang.”
Arga akhirnya kehilangan seluruh kesombongannya. Ia mendekati Alyara dengan mata merah. “Aku salah. Aku akui. Tapi jangan akhiri semuanya seperti ini.” Alyara menatap pria yang pernah sangat dicintainya. “Yang menghancurkan semuanya bukan teleponku kepada Ayah. Bukan konvoi itu. Bukan dokumen ini. Kamu menghancurkannya ketika memilih perempuan lain, lalu mengangkat tanganmu kepadaku.” Arga berbisik, “Aku bisa berubah.” Alyara menjawab, “Mungkin. Tapi bukan untukku.” Ia melepaskan cincin pernikahannya dan meletakkannya perlahan di atas meja. Suara logam kecil itu terdengar lebih keras daripada teriakan apa pun. “Besok pengacaraku mengirim surat cerai.” Arga menatap cincin tersebut. “Alyara…” Alyara memotong, “Jangan panggil namaku seolah aku masih perempuan yang akan memaafkan semuanya hanya karena kamu takut kehilangan kenyamananmu.”
Beberapa bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai. Arga tidak kehilangan seluruh hidupnya, tetapi untuk pertama kalinya ia harus menjalankan bisnis tanpa perlindungan keluarga Prameswari, dan semua orang di lingkaran elite Jakarta akhirnya melihat seberapa besar bagian kesuksesannya yang selama ini ia banggakan sebenarnya berasal dari Alyara. Selena meninggalkannya tidak lama setelah berbagai fasilitas mewah mulai menghilang. Sementara itu, Alyara kembali memimpin yayasan dan salah satu divisi investasi keluarganya dengan namanya sendiri. Suatu malam, Darma berdiri di balkon rumah keluarga dan bertanya, “Kamu menyesal pernah mencintainya?” Alyara tersenyum kecil. “Tidak. Aku cuma menyesal terlalu lama lupa mencintai diriku sendiri.” Darma merangkul bahunya. “Sekarang kamu mau ke mana?” Alyara melihat lampu Jakarta di kejauhan. “Ke mana pun aku mau, Ayah. Kali ini bukan karena ada seseorang yang menyuruhku pergi.” Dan untuk pertama kalinya, ia melangkah menuju hidup barunya bukan sebagai istri yang diusir, melainkan sebagai perempuan yang akhirnya tahu bahwa harga dirinya tidak pernah bergantung pada siapa pun.
Comments (0)
Loading comments...


















