29in-Arga Mendorong Istrinya ke Kolam Lalu Mencium Selingkuhannya… Tapi Pria yang Datang Setelahnya Membuatnya Pucat!

Surya tetap berdiri dengan pistol terarah ke Arga, sementara seluruh pesta membeku dalam keheningan. Maya masih berada di dalam kolam, air menetes dari rambut dan gaunnya yang basah. Arga menelan ludah lalu berkata dengan suara gemetar, “Pak Surya… saya bisa jelaskan. Ini urusan rumah tangga saya.” Surya tidak mengubah ekspresi. “Urusan rumah tangga tidak memberi hak untuk mempermalukan dan menyakiti orang seenaknya. Turunkan tanganmu dari Kirana.” Arga refleks melepaskan pinggang perempuan muda itu. Kirana langsung mundur. Maya memandang Surya dan berkata dingin, “Turunkan senjatanya. Aku tidak mau malam ini berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk.” Surya perlahan menurunkan pistol. Arga menghela napas lega, tetapi Surya menambahkan, “Jangan salah paham. Aku menurunkannya karena Maya meminta, bukan karena aku takut kepadamu.”
Arga mencoba mengembalikan kesombongannya. “Siapa sebenarnya dia sampai Bapak datang sendiri? Dia cuma istriku.” Surya menatapnya seolah jijik mendengar kata itu. “‘Cuma istrimu’? Perempuan yang kamu dorong ke kolam itu adalah Maya Adiprati, pemegang saham terbesar kedua dalam Adiningrat Group dan putri tunggal kakakku yang meninggal dua puluh tahun lalu.” Wajah Arga langsung kosong. Kirana berbisik, “Pemegang saham… Adiningrat Group?” Surya mengangguk. “Dan perusahaan keluargamu bertahan tiga tahun terakhir karena fasilitas kredit yang disetujui atas rekomendasinya.” Arga menoleh ke Maya dengan mata membesar. “Kamu… selama ini kamu yang membantu perusahaan keluargaku?” Maya akhirnya keluar dari kolam dengan bantuan seorang staf. “Aku tidak pernah ingin kamu mencintaiku karena kekuasaan atau uangku. Aku ingin tahu apakah kamu akan tetap menghormatiku jika mengira aku tidak punya apa-apa. Malam ini aku mendapatkan jawabannya.”
Kirana langsung melepaskan tangan dari Arga sepenuhnya. “Kamu bilang Maya tidak punya pengaruh apa pun. Kamu bilang setelah cerai, semua aset akan tetap milikmu.” Arga membentak, “Diam!” Maya tertawa pendek. “Biarkan dia bicara. Aku ingin mendengar bagaimana kalian merencanakan hidup sesudah menyingkirkanku.” Kirana menatap Arga dengan kesal. “Dia bilang akan menceraikanmu setelah investasi baru masuk bulan depan. Katanya setelah itu aku bisa pindah ke rumah kalian.” Maya mengangguk perlahan. “Jadi bahkan perselingkuhanmu menunggu uangku cair dulu. Sangat romantis.” Arga panik. “Maya, dengarkan aku. Kirana cuma—” Maya memotong, “Jangan hina dia untuk menyelamatkan dirimu. Dia salah karena ikut mempermalukanku, tapi pengkhianatan terbesar tetap datang darimu.” Kirana menunduk untuk pertama kalinya. “Saya salah, Maya. Saya pikir Anda cuma perempuan yang dia pertahankan demi citra.” Maya menjawab, “Dan itu membuatmu merasa berhak merendahkanku?”
Ponsel Surya tiba-tiba berdering. Setelah membaca pesan singkat, ia berkata, “Dewan keluarga Wijaya baru saja meminta pertemuan darurat. Mereka mengetahui seluruh kejadian ini karena separuh tamu merekamnya.” Arga langsung pucat. “Pak Surya, jangan libatkan perusahaan.” Maya menatapnya tajam. “Kamu sendiri yang melibatkan perusahaan saat menggunakan nama keluarga dan kekayaan untuk merasa kebal.” Surya melanjutkan, “Semua fasilitas kredit yang belum dicairkan akan ditinjau ulang. Bukan karena dendam, tetapi karena kami tidak akan mempercayakan miliaran kepada orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.” Arga mendekati Maya. “Aku bisa berubah. Aku akan meninggalkan Kirana. Aku akan minta maaf di depan semua orang.” Maya menjawab, “Kamu tidak perlu meninggalkan siapa pun demi aku. Aku justru meninggalkanmu.” Para tamu terdiam saat Maya melepaskan cincin pernikahannya dan meletakkannya di meja samping kolam. “Besok pengacaraku akan menghubungimu.”
Beberapa bulan kemudian, perceraian mereka selesai. Audit internal mengungkap Arga telah menyembunyikan beberapa proyek berisiko dan menggunakan nama Maya sebagai jaminan tidak langsung untuk menjaga kepercayaan investor. Dewan keluarga akhirnya mencopotnya dari posisi direktur utama. Saat mereka bertemu terakhir kali di kantor hukum, Arga tampak jauh berbeda. “Aku kehilangan jabatan, reputasi, bahkan sebagian besar teman yang dulu mengelilingiku. Tapi yang paling sulit tetap kehilanganmu.” Maya menjawab tanpa kebencian, “Aku tidak senang melihatmu jatuh, Arga. Tapi kamu perlu memahami bahwa konsekuensi bukan balas dendam.” Arga menunduk. “Aku sedang menjalani terapi. Aku baru sadar berapa lama aku hidup dengan keyakinan bahwa semua orang harus tunduk kepadaku.” Maya berkata, “Kalau perubahanmu nyata, lakukan tanpa berharap aku kembali.” Arga mengangguk perlahan. “Aku tahu. Kali ini aku akan berubah untuk diriku sendiri.”
Kirana juga menghilang dari lingkaran sosial elite Jakarta selama beberapa bulan. Suatu hari ia meminta bertemu Maya dan datang tanpa gaun mewah atau perhiasan mencolok. “Saya tidak datang untuk minta kita berteman. Saya cuma ingin meminta maaf langsung.” Maya mempersilahkannya duduk. Kirana berkata, “Saya menikmati saat dia mempermalukan Anda. Itu bagian yang paling membuat saya malu sekarang.” Maya menjawab, “Kesalahan terbesar bukan jatuh cinta kepada pria yang salah. Kesalahanmu adalah merasa harus menghancurkan perempuan lain agar merasa menang.” Kirana menahan air mata. “Saya mengerti sekarang.” Maya mengangguk. “Kalau begitu gunakan rasa malu itu untuk berubah, bukan untuk membenci dirimu selamanya.” Kirana tersenyum kecil. “Anda lebih baik daripada yang saya bayangkan.” Maya membalas, “Tidak. Aku hanya tidak ingin menjadi seperti orang yang pernah menyakitiku.”
Setahun setelah pesta di Uluwatu itu, Maya kembali ke vila yang sama untuk menghadiri acara amal keluarga Adiningrat. Kali ini ia berdiri di tepi kolam dengan gaun baru, tenang dan percaya diri. Surya mendekat sambil berkata, “Masih benci tempat ini?” Maya tersenyum. “Tidak lagi. Tempat ini justru mengingatkanku kapan aku berhenti menerima penghinaan sebagai harga sebuah pernikahan.” Surya menatap ke arah laut. “Ayahmu dulu selalu bilang kamu terlalu lembut.” Maya tertawa kecil. “Lembut bukan berarti lemah.” Seorang tamu bertanya, “Bu Maya, apakah Anda menyesal pernah menikah dengan Arga?” Maya menggeleng. “Tidak. Karena malam dia mendorongku ke kolam, dia pikir dia sedang mempermalukanku. Padahal dia hanya mendorongku keluar dari hidup yang sudah tidak pantas kuppertahankan.” Surya tersenyum bangga. “Sekarang semua orang tahu siapa Maya Adiprati.” Maya memandang pantulan dirinya di air dan menjawab, “Yang penting sekarang aku sendiri juga tahu.”
Comments (0)
Loading comments...

















