Logo

28iutt Pergi dari Hidupku!” Kata Suaminya… Tapi Ucapan Nadira di Podium Membungkam Semua Orang

Article image

Ruangan itu membeku setelah Nadira berkata, “Rumah ini milikku.” Marissa menatapnya seolah baru saja kehilangan pijakan, sementara Arya masih berdiri di bawah podium dengan wajah pucat. Beberapa tamu mulai saling berbisik. Seorang pria tua berjas hitam maju dari barisan depan membawa map kulit. “Nyonya Nadira, apakah Anda ingin saya menjelaskan semuanya sekarang?” Nadira mengangguk. “Silakan, Pak Surya. Biar tidak ada lagi yang merasa saya datang ke sini tanpa hak.” Pak Surya membuka map itu dan berkata lantang, “Properti ini tidak pernah menjadi aset pribadi keluarga Adiningrat. Mansion, tanah, dan sebagian besar saham holding keluarga tercatat sebagai bagian dari Maheswari Trust.” Marissa langsung membentak, “Bohong! Rumah ini milik keluarga saya selama puluhan tahun!” Pak Surya menatapnya tenang. “Keluarga Anda hanya diberi hak tinggal dan mengelola. Pemilik manfaat akhirnya adalah pewaris tunggal keluarga Maheswari.” Semua mata beralih kepada Nadira.

Arya melangkah maju dengan napas memburu. “Tidak mungkin. Nadira cuma anak keluarga biasa. Ayahnya bahkan sudah meninggal sebelum kami menikah.” Nadira menuruni satu anak tangga podium dan menatap mantan suaminya. “Itulah yang selama ini kamu percaya karena kamu tidak pernah benar-benar ingin mengenal keluargaku.” Arya terdiam. Nadira melanjutkan, “Ayahku bukan orang miskin. Dia memilih hidup sederhana setelah meninggalkan bisnis keluarganya karena tidak ingin aku tumbuh dikelilingi orang yang hanya menghormati uang.” Marissa tertawa sinis, tetapi suaranya mulai bergetar. “Kalau begitu kenapa baru sekarang kamu muncul membawa cerita ini?” Nadira menjawab, “Karena ayahku menetapkan satu syarat. Aku baru mendapat kendali penuh atas warisan setelah berusia tiga puluh tahun atau setelah pernikahanku berakhir secara sah.” Arya menatap dokumen di tangan Pak Surya. “Jadi perceraian itu...” Nadira tersenyum tipis. “Ya. Kalian sendiri yang mempercepat hari ketika semua kekuasaan ini jatuh ke tanganku.”

Marissa tiba-tiba naik beberapa langkah menuju podium. “Jangan kurang ajar! Kalau bukan karena keluarga kami, kamu tidak akan punya nama di Jakarta!” Nadira tidak mundur sedikit pun. “Nama saya Maheswari. Saya tidak pernah membutuhkan nama Adiningrat untuk berdiri.” Marissa menunjuk wajahnya. “Kamu sengaja menjebak kami!” Nadira membalas, “Saya tidak memaksa Ibu menghina saya. Saya tidak memaksa Arya diam saat saya dipaksa berlutut. Saya juga tidak menyuruh kalian membuang saya seperti sampah.” Lalu ia memandang seluruh ruangan. “Kalian melakukan semuanya karena yakin saya tidak punya apa-apa.” Seorang sosialita di sudut ruangan berbisik, “Astaga...” Arya menunduk. Marissa masih mencoba mempertahankan harga dirinya. “Saya tidak akan meninggalkan rumah ini!” Nadira mengangkat dagu. “Tidak ada yang mengusir Ibu malam ini. Saya cuma memberi waktu dua puluh empat jam untuk memindahkan barang pribadi. Setelah itu, akses seluruh keluarga Adiningrat ke properti ini dibekukan.”

Arya akhirnya kehilangan ketenangan. Ia naik ke podium dan berdiri hanya beberapa langkah dari Nadira. “Nadira, cukup. Kita masih bisa memperbaiki ini.” Nadira menatapnya tanpa emosi. “Memperbaiki apa?” Arya menelan ludah. “Pernikahan kita. Aku salah. Aku terbawa tekanan Mama.” Marissa langsung menyela, “Arya!” Namun Arya mengabaikannya. “Aku bisa berubah. Kita bisa mulai lagi.” Nadira tersenyum kecil, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Saat aku berlutut dan bertanya apakah kamu akan diam melihat ibumu menginjak harga diriku, kamu punya kesempatan.” Arya mencoba mendekat. “Aku takut melawan keluargaku.” Nadira menjawab, “Tidak. Kamu tidak takut. Kamu nyaman.” Arya terpukul. Nadira melanjutkan, “Kamu baru takut sekarang, setelah tahu perempuan yang kamu buang ternyata memegang rumah, saham, dan masa depan keluargamu.” Arya berbisik, “Aku masih mencintaimu.” Nadira menatapnya lama. “Kalau cinta baru muncul setelah melihat nilai asetku, itu bukan cinta. Itu kepanikan.”

Pak Surya lalu menyerahkan satu dokumen lain. Nadira membukanya dan berkata, “Masih ada satu hal.” Marissa memucat. “Apa lagi?” Nadira menatap Arya. “Selama tiga tahun terakhir, beberapa perusahaan di bawah Adiningrat Group mengambil pinjaman dengan menjaminkan aset yang sebenarnya milik Maheswari Trust.” Arya langsung menoleh ke ibunya. “Mama, apa maksudnya ini?” Marissa menjawab cepat, “Itu urusan bisnis!” Pak Surya memotong, “Tanpa persetujuan pemilik manfaat, tindakan itu dapat dibatalkan.” Nadira berkata, “Dan saya sudah membatalkannya sore tadi.” Suasana ruangan berubah total. Beberapa pengusaha langsung mengambil ponsel. Arya berkata panik, “Kalau semua jaminan ditarik, perusahaan kita bisa runtuh!” Nadira menatapnya dingin. “Perusahaan kalian tidak runtuh karena saya. Ia runtuh karena dibangun di atas kesombongan dan aset yang bukan milik kalian.” Marissa akhirnya kehilangan kontrol. “Kamu mau menghancurkan keluarga kami?” Nadira menjawab, “Tidak. Saya hanya mengambil kembali apa yang sejak awal bukan milik kalian.”

Marissa menatap para tamu yang kini mulai menjaga jarak darinya. Untuk pertama kalinya, sosialita yang selalu berdiri paling tinggi itu terlihat benar-benar kecil. Ia berkata pelan, “Nadira... kita bisa membuat kesepakatan.” Nadira turun dari podium dan berdiri tepat di depannya. “Dulu, saat saya memohon diperlakukan sebagai manusia, Ibu bilang saya cuma numpang hidup.” Marissa tidak menjawab. “Sekarang Ibu yang meminta belas kasihan di rumah saya.” Marissa mengatupkan rahang. “Apa yang kamu inginkan?” Nadira menjawab, “Permintaan maaf.” Marissa menatapnya tidak percaya. “Di depan semua orang?” Nadira mengangguk. “Di depan orang-orang yang dulu Ibu jadikan saksi penghinaan saya.” Arya berbisik, “Mama, lakukan saja.” Marissa menutup mata beberapa detik. Kemudian, dengan suara bergetar, ia berkata, “Saya... minta maaf karena telah merendahkanmu.” Nadira menatapnya tajam. “Bukan karena saya kaya.” Marissa menelan ludah. “Karena kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu, meski kamu tidak punya apa-apa.”

Nadira akhirnya tersenyum tipis. “Sekarang saya percaya Ibu mulai mengerti.” Ia berbalik menuju pintu utama. Arya memanggil, “Nadira! Apa benar semuanya selesai?” Nadira berhenti tanpa menoleh. “Pernikahan kita sudah selesai saat kamu memilih berdiri di belakang ibumu dan melihat aku berlutut sendirian.” Arya menunduk, air matanya mulai jatuh. “Apa aku masih punya kesempatan sebagai manusia?” Nadira menjawab, “Itu tergantung apa yang kamu lakukan setelah kehilangan semua hal yang membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain.” Ia kemudian menatap staf mansion yang berdiri di sepanjang lorong. “Mulai besok, semua pegawai tetap bekerja. Tidak ada yang kehilangan pekerjaan karena kesalahan keluarga ini.” Seorang pelayan tua menahan air mata dan berkata, “Terima kasih, Nyonya Nadira.” Nadira mengangguk. Lalu ia melihat Marissa dan Arya untuk terakhir kali. “Dulu kalian menyuruh saya pergi dengan koper. Sekarang kalian punya waktu sampai besok malam.” Arya tidak mampu menjawab. Marissa hanya berdiri diam. Nadira membuka pintu besar mansion itu, lalu berkata pelan, “Dan kali ini, jangan lupa membawa milik kalian sendiri. Karena tidak ada lagi satu pun yang boleh kalian ambil dari saya.” Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan keluarga Adiningrat dalam keheningan yang akhirnya terasa lebih kejam daripada semua penghinaan yang pernah mereka berikan.








Comments (0)

Loading comments...