Logo

28in-“Om… Ada Sesuatu di Bawah Meja.” Satu Kalimat Almira Membuat Malam Mewah Itu Berubah Jadi Mimpi Buruk!

Article image





Raka menahan napas ketika akhirnya melihat apa yang tersembunyi di bawah meja: sebuah ponsel hitam yang terus bergetar di samping tas kecil milik Cassandra, sementara layar ponsel menampilkan rekaman video yang masih berjalan. Di dalam rekaman terlihat Cassandra sedang berbicara dengan seorang pria di ruang privat hotel beberapa jam sebelumnya. “Pastikan dokumen itu hilang sebelum malam ini selesai. Kalau Raka melihatnya, semuanya tamat,” suara Cassandra terdengar jelas. Wajah Cassandra langsung pucat. “Matikan itu! Sekarang!” bentaknya sambil mencoba meraih ponsel. Namun Raka lebih cepat mengambilnya. Almira yang masih berdiri di luar meja bertanya polos, “Om… itu yang tadi bergerak?” Raka keluar dari bawah meja dengan wajah dingin. “Bukan cuma itu, Almira. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang disembunyikan.”

Cassandra berdiri cepat dan mencoba merebut ponsel itu. “Raka, kasih ke aku! Itu bukan urusanmu!” Raka mundur satu langkah. “Kalau bukan urusanku, kenapa kamu panik sejak Almira menunjuk ke bawah meja?” Para tamu mulai memperhatikan. Nayla yang membawa teko kopi ikut membeku saat melihat layar. Raka kemudian membuka tas Cassandra dan menemukan sebuah amplop tebal berisi salinan akta saham, surat perjanjian keluarga, serta foto lama seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip Almira. Raka mengangkat foto itu. “Siapa perempuan ini?” Cassandra langsung kehilangan kendali. “Jangan buka amplop itu!” Almira menatap foto tersebut dan berkata pelan, “Itu mirip Mama waktu muda.” Seluruh tubuh Raka menegang. “Mama kamu? Almira… siapa nama lengkap ibumu?”

Almira menjawab, “Namanya Maya Maheswari.” Nama itu membuat beberapa tamu senior langsung saling memandang. Seorang pengusaha tua berdiri dan berbisik, “Maya Maheswari? Pewaris keluarga Maheswari yang menghilang delapan tahun lalu?” Cassandra membentak, “Jangan dengarkan anak kecil!” Raka membuka salah satu dokumen dan melihat tanda tangan Cassandra pada surat pemindahan saham. “Cassandra, kenapa nama Maya ada di sini? Dan kenapa sebagian saham keluarganya dipindahkan ke perusahaanmu setelah dia dinyatakan hilang?” Cassandra menggertakkan gigi. “Itu transaksi legal. Maya menyerahkan semuanya sendiri.” Almira langsung menggeleng. “Mama selalu bilang hartanya dirampas orang yang paling dia percaya.” Raka menatap Cassandra dengan marah. “Jadi selama ini kamu bukan takut pada sesuatu di bawah meja. Kamu takut rahasiamu keluar.”

Tiba-tiba Nayla berkata, “Pak Raka… saya tahu sesuatu.” Semua mata beralih kepadanya. Nayla meletakkan teko kopi dan mengeluarkan sebuah kartu memori kecil dari sakunya. “Bu Maya pernah bekerja sama dengan saya sebelum menghilang. Malam terakhir saya melihatnya, dia memberikan kartu ini dan bilang: ‘Kalau sesuatu terjadi pada saya, jangan berikan kepada siapa pun kecuali Raka.’” Cassandra langsung berteriak, “Nayla, diam!” Raka menatapnya. “Kenapa namaku disebut?” Nayla menjawab, “Karena Bu Maya percaya Anda satu-satunya orang yang tidak bisa dibeli keluarga Maheswari.” Kartu itu diputar di laptop hotel. Muncul video Maya yang berkata, “Kalau kalian melihat ini, berarti Cassandra sudah mencoba mengambil kendali perusahaan. Jangan percaya surat pengunduran diri atau pemindahan saham yang memakai namaku. Semuanya dibuat di bawah tekanan.”

Cassandra mundur perlahan, tetapi Raka menghentikannya. “Kamu mau ke mana?” Cassandra mulai menangis. “Aku tidak menculik Maya! Aku cuma membantu keluarganya menyingkirkannya dari perusahaan. Mereka bilang Maya tidak stabil dan akan menghancurkan semuanya!” Raka membalas tajam, “Jadi kamu tahu dia dipaksa menghilang?” Cassandra mengangguk dengan tubuh gemetar. “Aku tahu dia dibawa keluar Jakarta. Tapi aku tidak tahu ke mana setelah itu. Aku hanya menerima saham sebagai imbalan untuk tutup mulut.” Almira langsung menangis. “Jadi Tante tahu Mama saya masih hidup?” Cassandra tidak mampu menatapnya. “Aku… tidak yakin.” Raka mengambil ponselnya. “Mulai malam ini, semua aset yang berasal dari saham Maya dibekukan sampai audit selesai. Dan semua rekaman ini diserahkan kepada pengacara.” Cassandra berbisik putus asa, “Kamu akan menghancurkan hidupku.” Raka menjawab, “Tidak. Kamu sendiri yang melakukannya saat memilih uang daripada kebenaran.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan menemukan bahwa Maya ternyata masih hidup di sebuah kota kecil di Jawa Tengah dengan identitas berbeda setelah bertahun-tahun bersembunyi karena ancaman terhadap dirinya dan Almira. Ketika Almira akhirnya melihat seorang perempuan kurus keluar dari rumah sederhana, ia langsung berlari sambil berteriak, “Mama!” Maya jatuh berlutut dan memeluk putrinya. “Almira… Mama pikir mereka tidak akan pernah membiarkan kita bertemu lagi.” Raka berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan mata berkaca-kaca. Maya menatapnya dan berkata, “Terima kasih sudah menemukan bukti itu.” Raka menggeleng. “Bukan saya. Almira yang melihat sesuatu bergerak di bawah meja. Kalau bukan karena dia, mungkin semua ini tetap terkubur.” Almira tersenyum sambil menangis. “Aku bilang aku nggak bohong.” Raka tertawa kecil. “Iya. Dan kali ini Om akan selalu percaya kalau kamu bilang lihat sesuatu aneh.”

Setahun kemudian, saham Maya dikembalikan, Cassandra kehilangan seluruh keuntungan ilegalnya dan harus menghadapi proses hukum atas keterlibatannya dalam pemalsuan dokumen. Di gala keluarga berikutnya, Maya berdiri bersama Almira di meja yang sama tempat misteri itu dimulai. Raka bertanya sambil tersenyum, “Masih takut lihat bawah meja?” Almira langsung menjawab, “Enggak. Sekarang kalau ada sesuatu bergerak, aku panggil Om dulu.” Maya tertawa lalu memeluk putrinya. “Anak ini memang selalu terlalu berani.” Raka menatap Cassandra yang kini tidak lagi menjadi bagian dari lingkaran keluarga elite itu dan berkata pelan, “Kadang rahasia besar tidak jatuh dari langit. Kadang cuma bersembunyi beberapa sentimeter dari kaki kita.” Maya mengangguk. “Dan kadang orang dewasa terlalu sibuk menjaga gengsi sampai anak kecil justru menjadi orang pertama yang berani menunjuk kebenaran.” Almira tersenyum bangga. “Berarti aku yang menyelamatkan semuanya?” Raka menjawab, “Iya. Karena malam itu, saat semua orang sibuk melihat ke atas, cuma kamu yang berani melihat ke bawah.”

Comments (0)

Loading comments...