Logo

27iutt Hamil 8 Bulan Tapi Dibiarkan Kelaparan… Sampai Sang Istri Akhirnya Berkata, “Cukup!

Article image

Aruna baru beberapa langkah meninggalkan dapur ketika suara kursi bergeser keras terdengar dari ruang makan. Rangga mengejarnya dengan wajah merah karena marah dan malu di depan keluarganya. “Aruna! Kembali ke sini. Jangan bikin drama!” Aruna berhenti di tengah lorong marmer, tetapi tidak menoleh. Tangannya mengusap perutnya perlahan, seolah mengingatkan dirinya bahwa sekarang ia bukan hanya harus melindungi harga dirinya, tetapi juga anak yang dikandungnya. Ratna muncul di belakang Rangga dan berkata dingin, “Perempuan yang sudah masuk keluarga Wiratama harus tahu tempatnya.” Aruna akhirnya berbalik. Matanya masih basah, tetapi suaranya tenang. “Benar, Bu. Malam ini aku akhirnya tahu tempatku. Dan ternyata tempatku bukan di rumah yang membiarkan perempuan hamil kelaparan demi melayani orang-orang yang bahkan tidak pernah menganggapnya keluarga.” Suasana makan langsung sunyi. Untuk pertama kalinya, tak seorang pun berani tertawa.

Rangga berjalan mendekat dan mencoba meraih lengan Aruna. Aruna langsung mundur. “Jangan sentuh aku.” Rangga membeku. Selama bertahun-tahun, Aruna selalu mengalah, sehingga dua kata itu terasa seperti tamparan bagi kesombongannya. “Kamu istriku!” bentaknya. Aruna menatap lurus ke matanya. “Istri? Istri tidak direbut makanannya ketika sedang hamil delapan bulan. Istri tidak disuruh menunggu lapar sementara suaminya sibuk menyenangkan ibunya.” Ratna memotong tajam, “Jangan salahkan anakku hanya karena kamu terlalu manja!” Aruna tertawa kecil, pahit. “Manja? Aku memasak untuk kalian sejak sore dengan kaki bengkak dan perut berat. Yang kuminta cuma satu mangkuk kecil.” Ia menunjuk Rangga. “Tapi lelaki yang bersumpah akan menjagaku justru mengambilnya dari tanganku.” Rangga mulai kehilangan kata-kata. Aruna melanjutkan, “Malam ini bukan soal makanan. Malam ini aku sadar bahwa selama ini kalian tidak pernah melihatku sebagai manusia.”

Ratna melipat tangan di dada. “Kalau tidak tahan hidup di keluarga ini, silakan pergi. Tapi jangan berharap membawa nama, fasilitas, atau uang Wiratama.” Beberapa anggota keluarga saling pandang, yakin ancaman itu akan membuat Aruna gentar. Namun Aruna justru membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal. Ia meletakkannya di meja konsol. Rangga mengernyit. “Apa itu?” Aruna menjawab, “Surat pengunduran diriku dari seluruh yayasan keluarga Wiratama, kartu akses rumah ini, dan daftar semua aset yang pernah kalian berikan.” Ratna terdiam. Aruna mengeluarkan satu map lagi. “Dan ini bukti bahwa apartemen tempat aku akan tinggal, rekening pribadiku, serta saham perusahaan peninggalan ayahku tidak pernah menjadi milik kalian.” Wajah Rangga berubah. “Kamu sudah merencanakan ini?” Aruna menggeleng. “Tidak. Aku menyiapkannya berbulan-bulan lalu kalau suatu hari penghinaan kalian melewati batas.” Ia menatap mangkuk yang tadi direbut darinya. “Ternyata batas itu cuma satu suapan makanan.”

Rangga mulai panik. “Aruna, cukup. Kita bicara di kamar. Jangan permalukan aku di depan keluarga.” Aruna tersenyum tipis. “Kamu takut dipermalukan?” tanyanya. “Bagaimana rasanya?” Ratna membentak, “Rangga, biarkan dia pergi! Besok juga dia akan kembali menangis.” Aruna menoleh kepadanya. “Tidak, Bu Ratna. Besok pagi pengacara saya akan menghubungi keluarga ini.” Rangga langsung pucat. “Pengacara?” Aruna mengangguk. “Aku mengajukan pisah rumah dan meninjau kembali pernikahan ini secara hukum. Hak anakku akan diamankan sebelum dia lahir.” Rangga menatapnya seakan baru sadar semuanya sungguh-sungguh. “Kamu mau menghancurkan keluarga kita hanya karena makan malam?” Aruna mendekat satu langkah. “Bukan aku yang menghancurkannya. Kamu menghancurkannya setiap kali memilih diam saat ibumu menghinaku. Dan malam ini, kamu sendiri yang mengambil makanan dari tangan istrimu yang sedang mengandung anakmu.”

Tiba-tiba Rangga menurunkan suaranya. Kemarahannya berubah menjadi ketakutan. “Aruna… aku salah. Jangan pergi malam ini. Aku akan suruh koki buat makanan baru. Aku akan minta Mama minta maaf.” Ratna langsung menoleh tajam. “Rangga!” Namun Rangga tak mempedulikannya. “Aku serius. Aku bisa berubah.” Aruna menatap lelaki yang dulu dicintainya begitu lama sampai Rangga kesulitan mempertahankan tatapannya. “Kamu tidak takut kehilangan aku,” kata Aruna. “Kamu takut kehilangan kenyamanan karena selama ini aku selalu kembali.” Rangga berbisik, “Kasih aku satu kesempatan.” Aruna menggeleng. “Kesempatanmu bukan malam ini. Kesempatanmu ada setiap hari ketika melihat aku diperlakukan seperti pembantu dan memilih diam.” Rangga mencoba berkata, “Demi anak kita…” Aruna memotong, “Justru demi anak kita aku pergi. Aku tidak mau anakku tumbuh dan mengira cinta berarti membiarkan orang yang kita cintai dihina.”

Ratna mendengus meski wajahnya mulai kehilangan ketenangan. “Kamu pikir bisa hidup sendiri dengan bayi?” Aruna menatapnya tanpa sedikit pun gentar. “Lebih baik membesarkan anakku sendirian dengan martabat daripada membesarkannya di rumah penuh kemewahan tetapi tanpa belas kasih.” Salah satu perempuan keluarga yang sejak tadi diam akhirnya menundukkan kepala. Seorang paman Rangga bahkan berkata pelan, “Ratna… cukup. Kalian memang keterlaluan.” Ratna langsung memelototinya. “Ini urusan keluargaku!” Aruna menjawab, “Bukan lagi urusan saya.” Ia mengambil koper kecil yang sudah disiapkan dari dekat tangga. Rangga baru sadar bahwa keputusan Aruna bukan gertakan. “Aruna, jangan lakukan ini!” teriaknya. Aruna berhenti di depan pintu utama. Rangga berkata putus asa, “Apa yang harus kulakukan supaya kamu tinggal?” Aruna menjawab tanpa menoleh, “Belajar menjadi manusia yang pantas disebut suami. Tapi jangan lakukan itu untuk membawaku kembali. Lakukan supaya anakmu kelak tidak malu memiliki ayah sepertimu.”

Pintu mansion terbuka. Udara malam Jakarta menyentuh wajah Aruna. Sopir yang sudah ia hubungi menunggu di luar. Tepat sebelum melangkah pergi, Aruna kembali menghadap ruang makan. Ratna berdiri membisu, sementara Rangga terlihat seperti kehilangan seluruh kekuasaannya hanya dalam beberapa menit. Aruna melepas cincin pernikahannya, berjalan kembali dua langkah, lalu meletakkannya pelan di atas meja—tepat di samping mangkuk makanan yang tadi Rangga rampas. “Dulu aku pikir rumah ini adalah tempatku membangun keluarga,” katanya. “Ternyata aku hanya sedang melayani keluarga kalian.” Rangga menahan air mata. “Aruna… maaf.” Untuk pertama kalinya malam itu, Aruna tersenyum tulus. “Aku memaafkanmu. Tapi memaafkan bukan berarti kembali.” Ia mengusap perutnya. “Anakku akan lahir di tempat di mana ibunya dihargai.” Lalu ia menatap Ratna untuk terakhir kali. “Besok kalau kalian lapar, kalian tahu di mana dapurnya.” Aruna berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, mansion yang selama ini terasa seperti istana mendadak menjadi sangat sunyi. Dan malam itu, keluarga Wiratama akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah mereka hargai sebelumnya: perempuan yang mereka anggap pelayan ternyata adalah orang yang selama ini menjaga rumah itu tetap menjadi sebuah keluarga.











Comments (0)

Loading comments...