26iutt Selingkuhan Itu Menyebutnya Bodoh… Mereka Tak Tahu Sang Miliarder Sudah Menyiapkan Balasan!

Adhitya tidak langsung masuk. Ia berdiri beberapa detik di balik kaca, membiarkan Nayara dan Reynaldi tertawa seolah dunia sudah berada di tangan mereka. Lalu ia menekan satu tombol di ponselnya dan menelepon seseorang. “Pak Surya, bekukan semua akses rekening pribadi atas nama Nayara. Jangan sentuh rekening perusahaan sampai saya datang.” Dari seberang terdengar suara terkejut. “Sekarang juga, Pak?” Adhitya menjawab tanpa emosi, “Sekarang. Dan kirim seluruh salinan kontrak yang dia siapkan ke pengacara keluarga.” Bu Marlina memandangnya cemas. “Pak Adhitya… Bapak mau masuk?” Adhitya menyimpan ponselnya. “Belum. Saya ingin tahu seberapa jauh mereka mau menghancurkan saya.” Di dalam, Reynaldi menuangkan minuman sambil tertawa. “Besok setelah dia tanda tangan, kita pergi dari Jakarta.” Nayara tersenyum puas. “Bukan pergi. Kita akan tinggal di rumah ini. Adhitya yang akan pergi.”
Beberapa menit kemudian, Adhitya akhirnya mendorong pintu kaca dan masuk ke ruang kerja. Suara langkah sepatunya membuat Nayara dan Reynaldi membeku. Gelas di tangan Nayara hampir terlepas. “A-Adhitya?” bisiknya pucat. Reynaldi buru-buru menjauh darinya. Adhitya menatap mereka berdua, lalu melihat kontrak di atas meja. “Kenapa berhenti? Tadi kalian terdengar sangat percaya diri.” Nayara langsung mendekat. “Sayang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan.” Adhitya tertawa pendek. “Benarkah? Jadi tangan dia di pinggangmu juga bagian dari rapat bisnis?” Reynaldi mencoba menyela, “Pak Adhitya, dengar dulu—” Adhitya menoleh tajam. “Kamu diam. Saya belum bertanya kepada parasit.” Nayara tersentak. “Jangan hina dia!” Adhitya mengangguk perlahan. “Menarik. Jadi sekarang kamu membela pria yang baru saja menyebut suamimu bodoh.”
Nayara sadar kebohongannya runtuh. Wajah manisnya berubah dingin. Ia menegakkan tubuh dan berkata, “Baik. Kalau kamu sudah tahu, lebih bagus. Aku sudah muak hidup di bawah bayang-bayang keluarga Wiranata.” Adhitya menatapnya tanpa berkedip. “Jadi itu alasanmu tidur dengan dia dan mencoba mengambil perusahaan?” Nayara mengambil kontrak dari meja. “Aku istrimu. Aku berhak atas separuh.” Adhitya tersenyum tipis. “Kamu berhak atas apa yang sah. Bukan atas hasil penipuan.” Reynaldi maju satu langkah. “Kontrak itu legal.” Adhitya meraih map cokelat dari meja dan melemparkannya di depan mereka. “Baca halaman terakhir.” Reynaldi membukanya, lalu wajahnya berubah. “Apa ini?” Adhitya menjawab, “Audit internal. Rekaman transfer. Email kalian. Dan bukti bahwa tanda tangan direksi yang kalian pakai ternyata dipalsukan.” Nayara langsung pucat. “Kamu… sudah tahu sejak kapan?” Adhitya menjawab, “Cukup lama untuk membiarkan kalian menggali lubang sendiri.”
Tiba-tiba ponsel Reynaldi berbunyi berkali-kali. Ia melihat layar lalu panik. “Rekening saya diblokir.” Nayara cepat mengambil ponselnya sendiri. “Apa?” Beberapa notifikasi masuk bersamaan. Akses kartu, rekening investasi, dan rekening bersama semuanya ditangguhkan. “Adhitya! Kamu nggak bisa melakukan ini!” teriak Nayara. Adhitya menjawab tenang, “Saya tidak mengambil uangmu. Saya hanya mencegah uang saya kabur bersamamu.” Reynaldi marah dan menunjuk wajah Adhitya. “Kamu pikir selesai sampai sini?” Adhitya mengangkat alis. “Belum. Justru baru mulai.” Pintu ruang kerja terbuka. Dua pengacara keluarga masuk bersama kepala keamanan. Salah satu pengacara berkata, “Pak Adhitya, laporan penipuan dan pemalsuan dokumen sudah siap.” Nayara mundur satu langkah. “Laporan?” Adhitya menatapnya. “Kamu ingin separuh hartaku. Sekarang kamu akan mendapat separuh dari akibat perbuatanmu.”
Reynaldi tiba-tiba kehilangan keberanian. Ia menoleh kepada Nayara. “Kamu bilang semuanya aman!” Nayara membalas keras, “Jangan salahkan aku! Kamu yang mengurus dokumen itu!” Reynaldi langsung membentak, “Karena kamu bilang suamimu terlalu bodoh untuk memeriksa!” Adhitya hanya menatap mereka saling menghancurkan. Nayara terdiam, menyadari kata-kata itu baru saja menjadi pengakuan terbuka di depan pengacara. “Reynaldi, tutup mulut!” teriaknya. Salah satu pengacara mengangkat ponsel. “Terlambat, Bu. Percakapan ini sedang direkam dengan persetujuan pemilik rumah.” Reynaldi langsung pucat. “Saya nggak mau terlibat. Semua ini ide Nayara!” Nayara menampar meja. “Pengecut! Kamu bilang kita akan mengambil semuanya!” Reynaldi mundur. “Aku nggak akan masuk penjara demi kamu!” Adhitya akhirnya berkata, “Luar biasa. Lima menit lalu kalian saling mencium. Sekarang kalian saling menjual.”
Air mata Nayara mulai jatuh, tetapi Adhitya tidak lagi terpengaruh. Ia mendekati suaminya dan meraih lengannya. “Adhitya, aku salah. Kita bisa memperbaiki semuanya. Aku istrimu.” Adhitya melepaskan tangannya perlahan. “Istriku mati saat kamu memutuskan bahwa cintaku lebih murah daripada uangku.” Nayara menangis. “Aku masih mencintaimu.” Adhitya menatapnya lama. “Tidak. Kamu mencintai rumah ini, nama belakangku, rekeningku, dan kekuasaan yang ikut bersamaku.” Nayara berbisik, “Jangan usir aku.” Adhitya mengangguk ke arah pintu. “Saya tidak mengusirmu. Saya mengembalikanmu ke kehidupan yang kamu pilih sendiri.” Reynaldi mencoba pergi diam-diam, tetapi kepala keamanan menghalangi. Adhitya berkata, “Dan kamu, Reynaldi… jangan buru-buru. Pengacara saya masih punya beberapa pertanyaan tentang transaksi tiga bulan terakhir.” Wajah Reynaldi langsung kehilangan warna.
Tiga bulan kemudian, perceraian Adhitya dan Nayara selesai. Pengadilan menolak klaim Nayara atas aset yang terbukti terkait dengan skema penipuan, sementara Reynaldi menghadapi proses hukum karena pemalsuan dan penggelapan. Di mansion Pondok Indah, Bu Marlina menyerahkan secangkir kopi kepada Adhitya yang berdiri di taman pagi hari. “Pak, apakah Bapak menyesal sudah memergoki mereka malam itu?” Adhitya memandang pantulan cahaya di kolam dan tersenyum tipis. “Saya menyesal pernah mempercayai orang yang salah. Tapi saya tidak menyesal mengetahui kebenaran.” Bu Marlina bertanya, “Dan rumah ini?” Adhitya menoleh. “Rumah bukan tentang siapa yang tinggal paling mewah. Rumah adalah tempat kita tidak perlu takut dikhianati.” Ia lalu menatap ruang kerja yang kini kosong dari seluruh dokumen palsu dan berkata pelan, “Mereka ingin mengambil separuh hidup saya. Pada akhirnya, mereka kehilangan semuanya karena keserakahan mereka sendiri.” Untuk pertama kalinya sejak malam pengkhianatan itu, Adhitya benar-benar tersenyum—bukan karena menang, tetapi karena akhirnya bebas.
Comments (0)
Loading comments...
















