25iutt Mustang Ini Bukan untuk Orang Sepertimu!” Katanya… Jawaban Sang Pemilik Membuatnya Tak Berkutik!

Suara “BEEP” dari Mustang hitam itu seolah membelah udara di depan gedung mewah. Enzo berdiri kaku, sementara lampu mobil berkedip dan kaca spion terbuka tepat setelah Caio menekan remote. Senyum mengejek yang sejak tadi melekat di wajah Enzo lenyap begitu saja. Caio melangkah maju, menatapnya tanpa sedikit pun emosi. “Mobilku. Minggir.” Enzo refleks mundur setengah langkah. “Tunggu... ini benar-benar mobilmu?” tanyanya terbata-bata. Caio mengangkat alis. “Tadi kamu begitu yakin aku bahkan tidak pantas menyentuhnya. Sekarang kenapa malah bertanya?” Lívia menutup mulut, wajahnya memerah karena malu. Enzo mencoba tertawa untuk menyelamatkan harga dirinya. “Aku cuma bercanda.” Caio langsung membalas dingin, “Menghina orang bukan bercanda kalau cuma kamu yang tertawa.”
Beberapa orang yang sejak tadi lewat di area valet mulai memperhatikan mereka. Enzo semakin gelisah ketika seorang petugas valet datang tergesa-gesa sambil membawa kartu parkir. “Pak Caio, maaf, mobil Bapak sudah kami bersihkan seperti biasa,” katanya sopan. Enzo menoleh tajam. “Pak Caio?” Petugas itu mengangguk kebingungan. “Iya, Pak. Beliau memang pemilik Mustang ini.” Lívia langsung melepaskan tangannya dari lengan Enzo dan bergeser menjauh. “Enzo... kamu bilang tadi mobil itu milikmu,” bisiknya. Enzo buru-buru menjawab, “Aku nggak pernah bilang begitu!” Caio tertawa kecil untuk pertama kalinya. “Benar. Kamu cuma berdiri di samping mobil orang lain, menyentuhnya seperti milikmu, lalu merendahkan pemilik aslinya.” Wajah Enzo semakin pucat. “Caio, dengar dulu—” Caio memotong, “Sekarang kamu yang dengar.”
Caio meletakkan tasnya sebentar di tanah. Tatapannya tetap tenang, tetapi setiap kata terasa seperti pukulan bagi kesombongan Enzo. “Aku datang pakai kaus sederhana, sepatu biasa, dan ransel. Lalu hanya dalam beberapa detik kamu memutuskan nilai hidupku.” Enzo menelan ludah. “Aku salah menilai, oke? Aku minta maaf.” Caio menatap langsung ke matanya. “Kamu minta maaf karena sadar aku punya Mustang, atau karena sadar cara kamu memperlakukan orang itu menjijikkan?” Enzo terdiam. Lívia menundukkan kepala. “Caio... aku juga ikut tertawa. Maaf,” katanya pelan. Caio menoleh kepadanya. “Setidaknya kamu mengaku.” Lívia menarik napas dan berkata tegas kepada Enzo, “Aku malu berdiri di sebelah orang yang merasa harga seseorang ditentukan dari pakaian.” Enzo langsung membentak, “Lívia, jangan sok suci! Kamu tadi juga tertawa!” Lívia membalas, “Iya. Dan aku cukup dewasa untuk mengaku kalau aku salah.”
Enzo mulai kehilangan kendali karena sadar semua mata kini tertuju kepadanya. “Jangan mentang-mentang punya mobil mahal terus merasa lebih hebat!” katanya keras. Caio justru tersenyum tipis. “Lucu. Lima menit lalu kamu sendiri yang menganggap mobil mahal membuat seseorang lebih hebat.” Beberapa orang di sekitar mereka menahan senyum. Enzo semakin dipermalukan oleh ucapannya sendiri. Ia menunjuk Caio. “Kamu sengaja menjebakku!” Caio menggeleng. “Aku cuma mau masuk ke mobilku. Kamu sendiri yang memilih berdiri di depan pintunya dan mempermalukan dirimu.” Seorang pria berpakaian formal yang mengenal Enzo berbisik kepada temannya, “Jadi Mustang itu bukan punya Enzo?” Enzo mendengarnya dan langsung berteriak, “Diam!” Caio mengambil kembali tasnya lalu berkata, “Tidak ada yang menjatuhkanmu hari ini, Enzo. Kesombonganmu sendiri yang melakukannya.”
Lívia kemudian menatap Caio dengan penasaran. “Tapi kenapa kamu berpakaian sesederhana ini kalau sebenarnya mampu membeli mobil seperti itu?” Caio berhenti sebelum membuka pintu. “Karena aku berpakaian untuk kenyamananku, bukan untuk mendapat persetujuan orang asing.” Lalu ia melihat Enzo sekali lagi. “Ayahku dulu montir. Sebelum punya apa pun, aku pernah ditolak masuk ke tempat-tempat mewah hanya karena bajuku berminyak. Jadi aku tahu rasanya dianggap rendah.” Enzo akhirnya menunduk, tetapi Caio belum selesai. “Dan satu hal yang dia ajarkan kepadaku: hormati petugas parkir sama seperti kamu menghormati direktur perusahaan.” Petugas valet yang berdiri di dekat mereka tersenyum kecil. Enzo berbisik, “Aku benar-benar minta maaf.” Caio menjawab, “Kalau serius, jangan buktikan kepadaku. Buktikan pada orang berikutnya yang kamu anggap berada di bawahmu.”
Caio membuka pintu Mustang, tetapi Lívia tiba-tiba berkata, “Caio, tunggu.” Ia berjalan mendekat, lalu melepas blazer mahal dari bahunya seolah tak lagi peduli menjaga citra. “Terima kasih sudah bikin aku sadar aku tadi sama buruknya.” Caio mengangguk singkat. Enzo memandang Lívia dengan tidak percaya. “Kamu mau pergi begitu saja?” Lívia berbalik. “Bukan karena Caio punya Mustang. Aku pergi karena baru hari ini aku benar-benar melihat siapa kamu.” Enzo membeku. “Kita sudah bersama hampir setahun!” Lívia menggeleng. “Dan dalam lima belas detik, kamu menunjukkan sisi yang selama ini aku abaikan.” Enzo berusaha memegang tangannya, tetapi Lívia menariknya. “Jangan sentuh aku. Belajar dulu menghargai orang sebelum menuntut dihargai.” Orang-orang di sekitar mereka kini tidak lagi menertawakan Caio. Yang mereka pandangi hanyalah Enzo, sendirian dengan kesombongannya.
Caio akhirnya duduk di balik kemudi. Mesin Mustang menyala dengan suara berat yang menggema di area valet. Sebelum menutup pintu, ia menatap Enzo untuk terakhir kalinya. Enzo berdiri diam, wajahnya penuh malu. “Caio...” panggilnya lirih. “Apa?” Enzo menarik napas panjang. “Kalau suatu hari kita bertemu lagi... aku harap aku bukan orang yang sama seperti hari ini.” Caio terdiam sesaat, lalu menjawab, “Kalau begitu, pastikan hari ini benar-benar menjadi hari terakhir kamu seperti ini.” Ia menutup pintu. Mustang bergerak perlahan meninggalkan gedung, tanpa pamer, tanpa suara klakson, tanpa Caio menoleh kembali. Lívia berjalan ke arah berlawanan, meninggalkan Enzo seorang diri. Enzo melihat bayangannya sendiri di kaca gedung dan akhirnya berbisik, “Aku memang keterlaluan...” Hari itu ia kehilangan gengsi, kehilangan perempuan yang berdiri di sisinya, dan kehilangan ilusi bahwa kekayaan membuatnya lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan Caio pergi dengan tenang, membuktikan satu hal sederhana: orang yang benar-benar bernilai tidak perlu memamerkan apa yang dimilikinya—dan orang yang merendahkan orang lain karena penampilan, suatu hari bisa dipermalukan oleh prasangkanya sendiri.
Comments (0)
Loading comments...
















