Logo

24iutt “Aku Dipaksa Pergi!” Pengakuan Sang Istri Membuat Suaminya Curiga pada Wanita di Sampingnya!

Article image


Arya berdiri membeku di tengah lobby, amplop cokelat itu masih tergenggam erat di tangannya. Vanessa yang tadi begitu percaya diri kini mundur satu langkah, wajahnya pucat seperti kehilangan seluruh darah. Kirana menatap Arya dengan air mata yang terus mengalir. “Buka, Arya,” bisiknya. “Kalau setelah membaca itu kamu masih membenciku, aku akan pergi dan tidak akan pernah muncul lagi.” Vanessa langsung memotong dengan suara tinggi, “Jangan dengarkan dia! Dia sedang menjebak kita!” Arya menoleh tajam. “Kita?” tanyanya dingin. Vanessa tersentak karena sadar salah bicara. Kirana menggigit bibirnya, lalu berkata, “Aku sudah terlalu lama diam. Hari ini semuanya harus selesai.” Arya akhirnya merobek segel amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan hasil pemeriksaan kehamilan, bukti transfer uang, rekaman percakapan yang sudah dicetak transkripnya, serta sebuah surat bertanda tangan notaris. Mata Arya bergerak cepat membaca lembar demi lembar. Semakin jauh ia membaca, semakin keras rahangnya mengatup. “Ini… rekening atas nama Vanessa?” tanyanya pelan. Kirana mengangguk. “Uang itu dipakai untuk membayar seseorang agar membawaku keluar dari Jakarta dan menyembunyikanku di Bali.” Vanessa buru-buru menyela, “Itu palsu! Semua bisa direkayasa!” Arya mengangkat satu lembar lain. “Lalu ini apa? Rekaman percakapanmu dengan pamanku?” Vanessa tidak bisa menjawab. Kirana berkata tegas, “Mereka ingin kamu percaya aku pergi karena selingkuh. Padahal aku sedang hamil anakmu.”

Arya langsung menatap perut Kirana, lalu wajahnya. “Anakku?” suaranya pecah untuk pertama kalinya. Kirana menangis sambil mengangguk. “Aku tahu aku hamil dua hari sebelum mereka membawaku pergi. Aku mencoba menghubungimu, tapi semua nomorku diblokir. Mereka bilang kalau aku kembali, mereka akan menghancurkan hidupmu dan mengambil bayiku.” Arya memejamkan mata, seolah seluruh dunia runtuh di atas pundaknya. Vanessa mendesis, “Jangan percaya sandiwara murahan ini!” Kirana menoleh kepadanya dengan keberanian yang akhirnya muncul. “Sandiwara? Kamu datang sendiri ke rumah tempat aku disembunyikan. Kamu bilang, ‘Kalau Arya tahu kamu hamil, semua rencana kami hancur.’ Aku ingat setiap kata.” Arya menatap Vanessa dengan tatapan yang membuatnya gemetar. “Kamu pernah menemui dia?”

Vanessa mundur lagi. “Arya, aku bisa jelaskan.” Arya tertawa pendek tanpa humor. “Sekarang baru mau menjelaskan?” Ia mengangkat dokumen terakhir. Di sana tertulis rencana pengalihan sebagian saham keluarga melalui manipulasi kondisi mental Arya setelah kehilangan istrinya. Tanda tangan beberapa orang tertera jelas, termasuk paman Arya dan seorang pengacara keluarga. “Kalian ingin aku hancur secara emosional, lalu mengambil kendali perusahaan?” tanyanya. Vanessa mulai menangis. “Aku cuma mengikuti rencana mereka! Aku pikir Kirana sudah pergi selamanya!” Kirana membalas tajam, “Kamu tidak mengikuti rencana. Kamu menikmatinya.” Vanessa membentak, “Diam!” Arya langsung berkata, “Tidak. Mulai sekarang, kamu yang diam.” Suaranya tenang, tetapi cukup membuat seluruh lobby terasa membeku.

Tak lama kemudian, Arya menelepon seseorang dari ponselnya. “Pak Surya, bekukan semua akses rekening yang terkait dengan Vanessa Pradana dan Paman Hendra. Jangan beri tahu siapa pun sebelum tim hukum datang.” Vanessa panik. “Arya, jangan gila! Kamu nggak bisa melakukan itu!” Arya menatapnya datar. “Justru selama ini aku yang dibuat terlihat gila.” Kirana menahan napas. Arya melanjutkan, “Dan satu lagi, siapkan audit penuh atas semua transaksi enam bulan terakhir.” Vanessa mencoba meraih lengannya. “Aku mencintaimu!” Arya menarik tangannya menjauh. “Kalau ini caramu mencintai seseorang, aku lebih baik dibenci.” Vanessa akhirnya kehilangan kendali. “Semua ini karena dia!” teriaknya sambil menunjuk Kirana. Arya berdiri di depan Kirana dan berkata, “Tidak. Semua ini karena kalian mengira aku tidak akan pernah menemukan kebenaran.”

Kirana kemudian menunduk. “Arya… ada satu hal lagi.” Arya menatapnya. “Apa?” Kirana mengeluarkan sebuah gelang bayi kecil dari saku seragamnya. “Aku simpan ini sejak hari pertama tahu aku hamil. Aku tidak tahu apakah suatu hari kamu akan melihatnya.” Arya menerima gelang kecil itu dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya, matanya benar-benar berkaca-kaca. “Kenapa kamu tidak mencoba kabur lebih cepat?” Kirana menjawab lirih, “Aku mencoba tiga kali. Setiap kali mereka mengancam akan mencelakai ibuku.” Arya menggeleng, penuh rasa bersalah. “Aku malah membencimu selama enam bulan.” Kirana menjawab, “Aku tidak butuh kamu merasa bersalah. Aku cuma butuh kamu percaya aku sekarang.” Arya menatapnya lama, lalu berkata, “Aku percaya.”

Beberapa bulan kemudian, seluruh jaringan manipulasi itu akhirnya terbongkar melalui audit perusahaan dan bukti-bukti yang disimpan Kirana. Vanessa dan orang-orang yang terlibat kehilangan akses terhadap keluarga dan bisnis Arya, sementara Kirana kembali ke Jakarta bukan sebagai wanita yang disembunyikan, tetapi sebagai istri yang namanya dibersihkan. Pada hari kelahiran anak mereka, Arya duduk di samping ranjang rumah sakit sambil menggenggam tangan Kirana. Tangisan bayi memenuhi ruangan. Arya tersenyum dengan mata basah. “Aku hampir kehilangan kalian berdua.” Kirana menatapnya dan menjawab, “Tapi kamu memilih mencari kebenaran sebelum semuanya terlambat.” Arya mencium keningnya. “Mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia di antara kita.” Kirana tersenyum kecil. “Janji?” Arya mengangguk. “Janji.” Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan ketakutan, Kirana menutup mata dengan tenang, sementara Arya memeluk anak mereka dan berbisik, “Keluarga ini pernah dihancurkan oleh kebohongan. Sekarang kita bangun lagi dengan kebenaran.”













Comments (0)

Loading comments...