24in-Pria Ini Menghentikan Tamparan Arga dalam Satu Gerakan… Mengapa Arga Begitu Takut Setelah Mengenalinya?

Pria tua berambut perak itu masih mencengkeram pergelangan tangan Arga ketika seluruh ballroom mendadak sunyi. Arga menatap wajahnya dan berbisik dengan suara pecah, “Pak Darmawan…” Saskia langsung kehilangan warna wajah. Maya yang masih memeluk Nayla perlahan mengangkat kepala. Pria tua itu melepaskan tangan Arga dengan kasar tetapi terkendali, lalu berkata, “Aku bilang turunkan tanganmu, bukan coba pukul perempuan yang sedang melindungi anaknya.” Arga buru-buru menunduk. “Pak, saya tidak tahu Bapak ada di sini. Ini cuma salah paham.” Darmawan menatapnya dingin. “Kalau aku tidak datang, tanganmu sudah mengenai Maya. Jadi jangan berani menyebutnya salah paham.” Nama Maya yang keluar dari mulut pria itu membuat Saskia langsung menoleh tajam. Maya sendiri membeku. “Anda… mengenal saya?” tanyanya pelan.
Darmawan berjalan mendekati Maya, lalu berhenti ketika melihat kaki prostetiknya. Matanya langsung dipenuhi rasa bersalah. “Aku bukan hanya mengenalmu. Aku mencari kamu selama dua belas tahun.” Maya menatapnya tak percaya. “Mencari saya? Kenapa?” Darmawan mengeluarkan dompet kulit tua dan memperlihatkan foto seorang gadis remaja yang wajahnya sangat mirip Maya. “Karena kamu anak perempuan yang dibawa pergi dari keluargaku setelah kecelakaan besar itu. Kamu adalah putri kandung anakku yang meninggal. Artinya… kamu cucuku.” Nayla langsung memandang ibunya. “Mama… berarti Kakek ini keluarga kita?” Maya menggeleng perlahan, napasnya kacau. “Tidak mungkin. Saya dibesarkan di panti setelah kecelakaan. Tidak ada yang pernah datang mencari saya.” Darmawan menutup mata. “Karena seseorang memastikan semua dokumenmu hilang.”
Saskia tiba-tiba menyela dengan suara tinggi. “Jangan percaya begitu saja! Bisa jadi dia hanya memanfaatkan situasi!” Darmawan menoleh tajam. “Kamu takut sekali, Saskia. Kenapa?” Saskia tersentak. Arga mencoba membela, “Pak, Saskia cuma terkejut.” Tetapi Darmawan mengangkat tangan. “Diam. Aku belum selesai.” Ia kemudian meminta salah satu staf membawa sebuah kotak kecil dari ruang kerjanya. Di dalamnya terdapat gelang bayi, dokumen rumah sakit, dan foto lama Maya kecil bersama seorang perempuan muda. Maya langsung gemetar. “Saya punya gelang yang sama… disimpan di rumah sejak kecil.” Darmawan mengangguk. “Itu gelang identitas keluargamu. Dan orang yang memalsukan kematianmu adalah orang yang takut kamu kembali karena sebagian besar saham keluarga seharusnya menjadi milikmu.” Saskia perlahan mundur. Maya menatapnya. “Kenapa kamu kelihatan seperti tahu sesuatu?”
Darmawan membuka dokumen lain. “Karena ayah Saskia adalah orang yang mengurus pembagian warisan setelah kecelakaan itu. Dan selama bertahun-tahun, saham yang seharusnya jatuh kepadamu dialihkan ke cabang keluarga mereka.” Saskia langsung membentak, “Itu urusan orang tua kami! Saya tidak tahu apa-apa!” Maya menjawab dingin, “Mungkin kamu tidak tahu soal saham. Tapi malam ini kamu tahu persis apa yang kamu lakukan pada anak saya.” Saskia menatap Nayla yang masih basah oleh anggur, lalu menunduk. Arga berkata panik, “Pak Darmawan, jangan campurkan kejadian malam ini dengan perusahaan.” Darmawan tertawa tanpa humor. “Justru malam ini aku melihat karakter kalian saat mengira Maya tidak punya kekuatan. Itu informasi paling penting sebelum menentukan siapa yang pantas duduk di jajaran direksi.” Arga langsung pucat. “Bapak tidak mungkin mencopot saya karena ini.” Darmawan menjawab, “Aku bisa. Dan aku akan.”
Maya perlahan berdiri dengan bantuan kursi, lalu memeluk Nayla. “Saya tidak ingin balas dendam. Saya cuma ingin anak saya tahu bahwa tidak ada siapa pun yang boleh mempermalukannya karena merasa lebih kaya atau lebih kuat.” Saskia mulai menangis. “Maya, saya keterlaluan. Saya marah karena gaun saya terkena anggur. Saya tidak berpikir panjang.” Maya menatapnya tenang. “Kamu sempat berpikir cukup panjang untuk pura-pura menolong anak kecil, lalu sengaja menuangkan anggur ke kepalanya. Itu bukan refleks, Saskia. Itu pilihan.” Nayla memegang tangan ibunya. “Mama, kita pulang saja.” Maya tersenyum dan membelai rambutnya. “Iya, Sayang. Tapi sebelum pulang, Mama ingin satu hal selesai.” Ia menatap Arga. “Kamu hampir menamparku saat aku sedang melindungi anakku. Jangan pernah mendekati kami lagi.” Arga terdiam, akhirnya sadar bahwa kekuasaan yang biasa ia gunakan tidak berguna sama sekali malam itu.
Beberapa minggu kemudian, tes DNA dan dokumen lama memastikan Maya memang cucu Darmawan dan pewaris sah sebagian besar saham keluarga yang selama ini dialihkan. Darmawan memanggilnya ke kantor pusat. “Semua ini milikmu secara hukum. Aku akan mengembalikan setiap bagian yang pernah dirampas.” Maya memandang berkas tebal di meja. “Saya tidak butuh semuanya. Saya hanya ingin cukup untuk memberi Nayla hidup yang aman dan membangun sesuatu yang berguna.” Darmawan tersenyum sedih. “Kamu benar-benar mirip ibumu. Dia juga selalu bilang kekayaan tanpa manfaat hanya membuat orang semakin sombong.” Maya menjawab, “Kalau begitu kita gunakan sebagian untuk pusat rehabilitasi bagi penyandang disabilitas dan anak-anak dari keluarga miskin. Saya tahu rasanya dilihat hanya dari kaki yang hilang, bukan dari siapa diri saya.” Darmawan menggenggam tangannya. “Mulai sekarang, tidak ada lagi yang akan membuatmu merasa kurang.”
Setahun kemudian, Maya berdiri di halaman pusat rehabilitasi baru bersama Nayla dan Darmawan. Kaki prostetiknya kini tetap sama, tetapi ia berjalan tanpa rasa malu sedikit pun. Nayla menunjuk sepatu nude-gold di kaki prostetik ibunya dan tertawa. “Mama, jangan dilempar lagi ya. Mahal!” Maya tertawa sambil memeluknya. “Kalau tidak ada yang ganggu kamu, Mama janji.” Darmawan ikut tersenyum lalu berkata, “Maya, dulu aku pikir kegagalan terbesar hidupku adalah kehilangan keluargaku. Ternyata kegagalan sebenarnya adalah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan siapa yang pantas disebut keluarga.” Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Dan saya dulu pikir kaki ini membuat saya lemah. Ternyata malam itu justru kaki inilah yang membawa saya kembali ke keluarga saya sendiri.” Nayla memeluk mereka berdua dan berkata, “Berarti kita sekarang lengkap?” Maya tersenyum. “Lengkap bukan karena kita punya banyak orang, Sayang. Lengkap karena akhirnya kita punya orang yang benar-benar saling menjaga.” Dan sejak saat itu, malam penghinaan yang hampir menghancurkan Maya justru dikenang sebagai malam ketika sebuah keluarga lama menemukan pewarisnya kembali—dan ketika orang-orang yang paling sombong akhirnya belajar bahwa kekuasaan terbesar bukan berdiri di atas orang lain, melainkan berani berdiri lagi setelah dunia mencoba menjatuhkan kita.
Comments (0)
Loading comments...
May You Like

















