24-Suaminya Menendang Istri Hamilnya Demi Selingkuhan—Tapi Satu Telepon Mengubah Semuanya

Pintu sedan hitam akhirnya terbuka. Seorang pria tua berwibawa turun perlahan, ditemani para pengawal. Marcelo langsung pucat, sementara Alyssa hanya berdiri diam menatap lurus.
“Ayah…” bisik Alyssa. Pria itu berjalan menembus hujan, melepas jasnya, lalu menyelimuti bahu putrinya. Tatapannya kepada Marcelo berubah dingin dan tajam.
“Kau menyentuh putriku saat dia mengandung cucuku?” tanyanya pelan. Marcelo mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, kesombongannya benar-benar runtuh di depan semua orang.
Isabella menggenggam lengan Marcelo semakin kuat. “Siapa dia sebenarnya?” tanyanya gemetar. Marcelo menelan ludah, lalu berbisik, “Pemilik grup yang menguasai perusahaan tempatku bekerja.”
Alyssa menatap Marcelo tanpa air mata lagi. “Jadi sekarang kamu ingat siapa keluargaku?” tanyanya tenang. Marcelo langsung berkata, “Alyssa, dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya.”
“Menjelaskan apa?” jawab Alyssa. “Tamparanmu? Tendanganmu? Atau saat kamu mencium wanita lain ketika anak kita masih berada di dalam tubuhku dan mendengar semuanya?”
Ayah Alyssa mengangkat tangan, menghentikan Marcelo. “Mulai malam ini, kau tidak lagi memegang jabatan apa pun di perusahaan kami. Semua aksesmu dicabut sekarang juga.”
Marcelo terkejut. “Pak, jangan lakukan ini. Semua yang saya bangun ada di sana!” Pria itu menjawab datar, “Kau membangunnya di atas nama keluarga putriku.”
Isabella perlahan melepaskan tangan Marcelo. “Kamu bilang semua ini milikmu,” katanya. Marcelo menatapnya panik, tetapi Isabella sudah menyadari betapa besar kebohongan yang ia percaya.
Alyssa mendekat satu langkah. “Kamu menertawakanku karena hamil, Marcelo. Padahal selama ini aku diam agar kamu merasa besar. Ternyata tanpa namaku, kamu bahkan bukan siapa-siapa.”
Marcelo berlutut di tengah hujan. “Maafkan aku. Demi anak kita, beri aku satu kesempatan.” Alyssa memandangnya lama, lalu menggeleng perlahan tanpa sedikit pun keraguan.
“Anak ini akan tumbuh tanpa melihat ibunya dihina,” kata Alyssa. “Lebih baik dia kehilangan ayah seperti kamu daripada belajar bahwa cinta berarti menerima penghinaan.”
Isabella mencoba pergi diam-diam, tetapi salah satu pengawal menghalangi jalan. Ayah Alyssa berkata, “Tenang. Tidak ada yang menyentuhmu. Tapi jangan pikir semuanya selesai begitu saja.”
Alyssa menoleh kepada Isabella. “Kamu boleh memilikinya sekarang,” katanya dingin. “Aku tidak akan berebut pria yang sanggup menghancurkan keluarganya sendiri hanya demi kesenangan sesaat.”
Isabella memandang Marcelo dengan jijik. “Aku tidak mau pria yang bahkan bukan pemilik hidupnya sendiri.” Ia melepas anting pemberian Marcelo dan menjatuhkannya ke tanah basah.
Marcelo menatap dua wanita itu meninggalkannya. “Alyssa!” teriaknya putus asa. Alyssa berhenti sebentar, namun tidak menoleh. Suaranya terdengar tenang di tengah hujan deras.
“Kamu kehilangan aku bukan hari ini,” katanya. “Kamu kehilangan aku saat tanganmu memilih menyakitiku, dan hatimu memilih mempermalukanku ketika aku paling membutuhkan perlindunganmu.”
Ayah Alyssa membuka pintu sedan untuk putrinya. Sebelum masuk, Alyssa memegang perutnya dan tersenyum tipis. Untuk pertama kali malam itu, senyumnya benar-benar terasa damai.
Beberapa minggu kemudian, Marcelo dipecat, sahamnya dibekukan, dan gugatan perceraian dikirim. Isabella meninggalkannya. Semua teman yang dulu memujinya perlahan menjauh tanpa penjelasan.
Sementara itu, Alyssa melahirkan seorang bayi laki-laki sehat. Saat memeluk putranya, ia berbisik, “Kamu akan tumbuh mengetahui bahwa ibumu pernah jatuh, tetapi tidak pernah menyerah.”
Comments (0)
Loading comments...
May You Like
















