Logo

23in-“Aku Lihat Kapsul yang Sama di Tanganmu!” Satu Kalimat Raka Membuat Gelas Citra Jatuh Pecah!

Article image



Citra berdiri kaku di samping pecahan gelas, wajahnya pucat ketika Adrian perlahan mengambil tas hitam kecil dari kursinya. Raka masih menangis sambil menunjuk ke arahnya. “Ayah, malam Ibu meninggal aku melihat kapsul yang sama di tas itu. Aku tidak lupa.” Adrian membuka tas Citra dan menemukan sebuah kotak kecil berisi beberapa kapsul yang bentuknya identik dengan cangkang di piringnya. Tangannya langsung gemetar. “Citra… jelaskan sekarang.” Citra menelan ludah. “Itu obat. Bukan racun. Aku bisa menjelaskan semuanya.” Adrian mengangkat kapsul itu di depan wajahnya. “Lalu bagaimana benda yang sama bisa berada di makananku?” Citra menggeleng keras. “Aku tidak memasukkannya! Demi Tuhan, Adrian, aku tidak mencoba membunuhmu!” Raka menatapnya penuh luka. “Ibu saya juga meninggal setelah melihat kapsul itu.”

Adrian menarik kursinya dan berkata dengan suara yang jauh lebih dingin, “Tidak ada seorang pun keluar dari rumah ini sebelum aku mendengar seluruh kebenaran.” Citra akhirnya terduduk. “Maya mengetahui sesuatu tentang keluargamu sebelum dia meninggal. Dia menemukan transaksi gelap di perusahaan dan bilang seseorang sedang menggunakan rekening pribadimu untuk memindahkan uang.” Adrian membeku. “Apa hubungannya dengan kapsul?” Citra menutup wajahnya. “Maya menderita insomnia berat saat itu. Dokter keluarga memberinya obat tidur dalam kapsul yang sama. Tapi beberapa minggu sebelum meninggal, dia meneleponku dan berkata obatnya membuatnya jauh lebih lemah dari biasanya.” Raka langsung bertanya, “Kalau kamu tahu, kenapa kamu tidak menolong Ibu?” Citra menangis. “Aku mencoba. Tapi aku takut kepada orang yang ada di balik semuanya.”

Raka tiba-tiba berlari menuju lemari kecil di ruang makan dan mengambil jaketnya. Dari saku dalam, ia mengeluarkan sebuah kartu memori yang dibungkus plastik. “Ibu memberikan ini kepadaku sebelum meninggal. Dia bilang hanya boleh kubuka kalau sesuatu terjadi kepada Ayah.” Adrian langsung mengambilnya. Rekaman suara Maya terdengar dari ponsel: “Kalau Adrian mendengar ini, berarti mereka sudah bergerak lagi. Jangan percaya obat dari rumah ini. Seseorang sedang mencoba membuat kematianku terlihat alami.” Citra langsung menangis lebih keras. Adrian menatapnya. “Kamu tahu rekaman ini ada?” Citra menjawab, “Tidak. Tapi aku tahu Maya takut. Dan aku tahu siapa yang menyuruh dokter mengganti obatnya.” Adrian berdiri. “Siapa?” Citra mengangkat wajahnya dan berbisik, “Pamanmu sendiri… Surya Wijaya.”

Ruangan langsung meledak oleh bisikan. Surya, yang sejak tadi duduk di ujung meja, bangkit dengan wajah merah. “Jangan dengarkan perempuan itu! Dia sedang menyelamatkan dirinya sendiri!” Adrian menatapnya tajam. “Duduk.” Surya membalas, “Aku kakak ayahmu! Aku membangun perusahaan ini bersamamu!” Raka tiba-tiba berkata, “Kalau Bapak tidak bersalah, kenapa Bapak takut?” Semua orang terdiam. Adrian mengambil ponsel Citra dan menemukan pesan lama yang selama bertahun-tahun disimpan: ancaman terhadap Citra agar tidak membicarakan obat Maya. Surya langsung kehilangan warna wajah. Citra berkata, “Aku diam karena dia mengancam akan membuat Raka kehilangan ayahnya juga. Tapi malam ini saat melihat kapsul di piringmu, aku sadar dia benar-benar akan melakukannya lagi.” Adrian menatap Surya. “Jadi ini bukan pertama kalinya?”

Surya mencoba berjalan pergi, tetapi Adrian memerintahkan keamanan menutup pintu. “Tidak ada yang menyentuh dia. Kita serahkan semuanya kepada penyidik. Aku ingin kebenaran, bukan balas dendam.” Surya tertawa pahit. “Kebenaran? Maya akan menghancurkan seluruh perusahaan! Dia menemukan penggelapan yang melibatkan puluhan miliar. Aku hanya melindungi keluarga!” Adrian mendekat perlahan. “Kamu melindungi uangmu. Jangan gunakan kata keluarga untuk menutupi ketakutan kehilangan kekuasaan.” Raka menatap Surya sambil menangis. “Apa Bapak yang membuat Ibu meninggal?” Surya tidak menjawab. Keheningan itu lebih mengerikan daripada pengakuan. Adrian kemudian berkata, “Mulai malam ini semua jabatanmu dibekukan. Semua rekening perusahaan diperiksa. Dan jika satu bukti saja menunjukkan kamu menyentuh obat Maya, aku sendiri yang akan memastikan kasus ini sampai pengadilan.”

Beberapa minggu kemudian, hasil penyelidikan membuktikan bahwa Surya memang memerintahkan perubahan obat Maya melalui orang kepercayaannya agar perempuan itu terlalu lemah untuk menghadiri rapat perusahaan dan membongkar penggelapan. Dosis berlebihan yang kemudian terjadi berkontribusi pada kematiannya. Ketika Surya dibawa pergi, ia masih berteriak, “Aku melakukan semuanya supaya nama Wijaya tetap berdiri!” Adrian menjawab, “Nama keluarga yang berdiri di atas kematian seseorang seharusnya memang runtuh.” Citra kemudian mendekati Raka. “Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku bersalah karena diam saat ibumu membutuhkan seseorang untuk berani bicara.” Raka menatapnya lama. “Kamu bukan yang membunuh Ibu. Tapi diam juga bisa menyakiti orang.” Citra mengangguk sambil menangis. “Aku tahu. Dan aku akan hidup dengan itu.”

Setahun kemudian, Adrian mengubah sebagian yayasan keluarga menjadi pusat bantuan hukum dan kesehatan bagi pekerja perusahaan yang takut melaporkan penyalahgunaan kekuasaan. Di ruang utama tergantung foto Maya. Raka berdiri di bawahnya bersama ayahnya. “Ayah masih marah sama Citra?” tanyanya. Adrian menjawab, “Ayah marah pada apa yang dia sembunyikan. Tapi dia akhirnya memilih bicara ketika masih ada waktu untuk menyelamatkan kita. Memaafkan tidak berarti melupakan.” Citra yang berdiri beberapa langkah di belakang berkata pelan, “Aku hanya berharap suatu hari kalian percaya bahwa aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya.” Raka menatapnya lalu menjawab, “Buktikan pelan-pelan. Ibu selalu bilang kepercayaan bukan hadiah.” Adrian memeluk putranya. “Ibumu benar.” Raka menatap foto Maya dan berbisik, “Ibu, kali ini aku berhasil menghentikannya.” Adrian menahan air mata dan menjawab, “Bukan hanya menghentikan mereka, Nak. Kamu juga akhirnya membuat keluarga ini berhenti hidup di dalam kebohongan.”

Comments (0)

Loading comments...