Logo

22iutt Kau Mencurinya Dariku!” Tuduhan Nayla Membuat Pesta Elite Berubah Jadi Skandal Besar

Article image

 

Nayla masih memeluk Bara ketika seluruh halaman vila mendadak sunyi. Medali perak tua di tangannya bergetar, sementara Armand berdiri di balik jeruji dengan wajah sepucat dinding batu. Nayla mengusap ukiran kecil di belakang medali itu, lalu menatapnya tajam. “Ini medali yang kupasang sendiri saat Bara masih anak-anak. Namaku bahkan masih terukir di belakangnya.” Beberapa tamu mulai berbisik. Armand mencoba tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. “Itu tidak membuktikan apa-apa. Anjing seperti ini bisa berpindah tangan berkali-kali.” Nayla berdiri perlahan. Bara berdiri rapat di sampingnya, seolah melindungi perempuan yang baru dikenali kembali itu. “Kalau begitu, kenapa kau kelihatan ketakutan?” tanya Nayla dingin. Armand langsung membentak pengawalnya, “Buka kandangnya! Bawa perempuan itu keluar dari sini!” Namun tidak seorang pun bergerak. Untuk pertama kalinya malam itu, semua orang menyadari bahwa suara Armand tidak lagi terdengar seperti perintah seorang raja, melainkan teriakan seorang pria yang mulai kehilangan kendali.

Pintu kandang akhirnya dibuka, tetapi Nayla keluar bersama Bara tanpa menyerahkan medali itu. Seorang pria tua bernama Surya Mahendra, investor senior yang sejak tadi mengamati semuanya, maju dari kerumunan. “Armand, aku pernah melihat anjing ini sebelumnya,” katanya pelan. Armand menatapnya tajam. “Jangan ikut campur, Pak Surya.” Surya justru mengeluarkan ponselnya. “Empat tahun lalu kau menunjukkan foto Bara kepadaku. Kau bilang kau membelinya dari kennel luar negeri dengan harga fantastis.” Nayla langsung menoleh. “Empat tahun lalu?” Suaranya berubah berat. “Bara hilang dari rumah keluargaku tepat empat tahun lalu.” Armand membalas kasar, “Kebetulan! Jangan membuat drama murahan di rumahku!” Nayla mendekat satu langkah. “Rumahmu? Bahkan anjing yang kau pamerkan untuk mempermalukan orang ternyata hasil curian.” Para tamu mulai menjauh dari Armand. Tawa yang tadi memenuhi pesta berubah menjadi tatapan jijik. Surya lalu berkata, “Kalau memang tidak ada yang kau sembunyikan, tunjukkan dokumen pembelian Bara sekarang.” Armand terdiam. Dan diamnya menjadi jawaban yang jauh lebih keras daripada teriakan apa pun.

Armand tiba-tiba merebut koper berisi Rp30 miliar dan berbalik hendak pergi, tetapi Nayla berkata, “Kau lupa sesuatu.” Ia mengangkat ponselnya. Layar menampilkan halaman arsip digital dengan foto Bara saat masih kecil, mengenakan medali yang sama. Di samping foto itu terlihat seorang pria yang sangat mirip dengan salah satu kepala keamanan Armand. “Aku tidak datang ke pesta ini secara kebetulan,” ujar Nayla. “Selama berbulan-bulan aku mencari Bara. Seseorang mengirimiku foto dari vila ini.” Armand membeku. “Siapa?” bentaknya. Dari barisan pengawal, seorang pria bernama Dimas maju dengan wajah tegang. “Saya.” Armand menatapnya seperti hendak menerkam. “Pengkhianat!” Dimas menggeleng. “Saya sudah terlalu lama diam. Saya yang disuruh mengambil Bara dari rumah keluarga Nayla empat tahun lalu.” Para tamu tersentak. Nayla menahan napas dan bertanya, “Siapa yang memberi perintah?” Dimas menatap langsung kepada Armand. “Dia.” Nayla memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, tidak ada lagi kesedihan di sana. Hanya kemarahan yang sangat tenang.

Armand mundur. “Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!” Nayla langsung menjawab, “Kalau begitu katakan.” Armand menelan ludah. Untuk pertama kalinya, suaranya turun. “Ayahmu berutang padaku.” Nayla mengernyit. “Ayahku meninggal tanpa pernah menyebut namamu.” Armand tertawa hambar. “Karena utangnya bukan uang. Ayahmu memiliki dokumen tentang bisnis keamanan yang bisa menghancurkan perusahaanku. Aku mengambil Bara untuk memaksanya menyerahkan dokumen itu.” Surya memandang Armand dengan jijik. “Jadi kau menculik hewan kesayangan anaknya untuk mengancam keluarga?” Armand berteriak, “Aku tidak pernah menyakiti anjing itu!” Nayla menatapnya tajam. “Kau mengambil anggota keluargaku, membiarkanku mencarinya selama empat tahun, lalu malam ini kau menjadikannya alat taruhan untuk mempermalukanku. Dan sekarang kau ingin dianggap tidak bersalah?” Bara mengeluarkan suara rendah sambil berdiri di depan Nayla. Armand refleks mundur satu langkah. Nayla mengusap kepala Bara. “Tenang, Bara. Kita tidak perlu menjadi seperti dia.”

Suara sirene mulai terdengar dari kejauhan. Armand langsung menatap Dimas. “Apa yang kau lakukan?” Dimas menjawab, “Saya menyerahkan rekaman lama, log kendaraan, dan perintah transfer yang Anda buat.” Armand berlari menuju pintu vila, tetapi dua pengawal lain justru menghalangi jalannya. “Minggir!” bentaknya. Salah satu pengawal berkata, “Maaf, Pak. Kami bekerja untuk perusahaan, bukan untuk menutupi kejahatan Anda.” Armand berbalik kepada para tamu. “Kalian semua makan dari meja saya! Kalian pikir bisa meninggalkan saya begitu saja?” Surya menjawab datar, “Kekuasaan yang dibangun dari ketakutan akan runtuh begitu orang berhenti takut.” Nayla lalu mendorong koper uang itu kembali ke arah Armand. “Simpan tiga puluh miliarmu.” Armand menatapnya tidak percaya. Nayla melanjutkan, “Aku masuk ke kandang bukan karena uang. Aku masuk karena saat melihat mata Bara, aku tahu sebagian hidupku yang hilang sedang berdiri di sana.” Bara menempelkan kepalanya ke pinggang Nayla. “Dan malam ini,” katanya, “kau kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang—nama baikmu.”

Beberapa minggu kemudian, kasus Armand menjadi skandal besar di kalangan bisnis Jakarta. Rekaman pengambilan Bara, transaksi ilegal, dan dokumen pemerasan yang disimpan Dimas membuka penyelidikan jauh lebih luas terhadap perusahaan keamanan miliknya. Saat seorang wartawan bertanya kepada Nayla di luar gedung pengadilan, “Apakah Anda puas melihat Armand kehilangan perusahaannya?” Nayla berhenti dan menjawab, “Aku tidak mengejar kehancurannya. Aku hanya ingin kebenaran.” Di sampingnya, Surya tersenyum. “Kadang kebenaran memang menghancurkan orang yang terlalu lama hidup dari kebohongan.” Dimas kemudian menghampiri Nayla. “Maaf saya baru berani bicara sekarang.” Nayla memandangnya beberapa detik sebelum berkata, “Empat tahun keterlambatan tidak bisa dikembalikan. Tapi keberanianmu hari ini mencegah dia melakukan hal yang sama kepada orang lain.” Dimas menunduk. Dari dalam mobil, Bara menggonggong pendek, membuat Nayla tersenyum untuk pertama kalinya tanpa beban. “Sepertinya dia sudah bosan menunggu,” katanya.

Beberapa bulan kemudian, Nayla kembali ke vila kecil keluarganya di pinggir Bogor, tempat Bara dibesarkan. Pagar tua dibuka, dan Bara langsung berlari ke halaman, mengendus pohon mangga, teras kayu, lalu berhenti di depan sebuah mangkuk logam lama yang masih tersimpan di sudut. Nayla tertawa sambil menahan air mata. “Kau masih ingat semuanya, ya?” Bara berlari kembali dan meletakkan kepalanya di pangkuannya. Nayla menggenggam medali perak yang kini sudah terpasang kembali di kalungnya. Ibunya keluar dari rumah, terpaku melihat mereka, lalu berbisik, “Itu benar-benar Bara?” Nayla mengangguk. “Dia pulang, Bu.” Ibunya memeluk Nayla dan Bara sekaligus sambil menangis. Nayla menatap langit sore dan berkata pelan, “Empat tahun lalu seseorang mencurinya untuk membuat kita takut. Tapi ternyata yang dia curi tidak pernah benar-benar melupakan jalan pulang.” Ibunya tersenyum di antara air mata. “Lalu bagaimana dengan tiga puluh miliar itu?” Nayla tertawa kecil. “Biarkan Armand menyimpannya. Aku sudah mendapatkan kembali sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.” Bara menjilat tangannya. Nayla memeluknya erat dan berbisik, “Selamat datang pulang, Bara. Kali ini, tidak ada siapa pun yang akan mengambilmu lagi.”












Comments (0)

Loading comments...