21iutt Raka Mengusir Alyssa dari Rumahnya… Tanpa Tahu Wanita Itu Kini Memegang Masa Depan Seluruh Keluarganya!

Ruangan itu tetap sunyi setelah Raka hanya mampu berbisik, “Alyssa…” Namun kali ini Alyssa tidak menundukkan kepala. Ia mengusap air mata di pipinya, lalu menatap suaminya dengan tenang. Surya berdiri di belakangnya sambil menggenggam dokumen kendali Grup Wijaya. Cassandra perlahan mundur, seolah baru menyadari bahwa pria yang tadi dibelanya mungkin tidak lagi memiliki apa-apa. Raka maju satu langkah. “Alyssa, dengarkan aku. Aku sedang emosi. Aku tidak bermaksud mengatakan semua itu.” Alyssa tersenyum pahit. “Kau melihat dia menamparku. Kau melihat aku melindungi anakmu. Tapi yang kau lakukan justru mengusir kami.” Raka menelan ludah. “Aku bisa memperbaikinya.” Alyssa menggeleng. “Tidak semua yang dihancurkan bisa dibeli kembali, Raka.”
Cassandra tiba-tiba memotong, “Jangan sok menang hanya karena satu dokumen!” Ia mendekati Surya dengan wajah tegang. “Pak Surya, Anda tidak mungkin menyerahkan perusahaan sebesar itu kepada perempuan yang bahkan bukan darah keluarga Wijaya.” Surya menatapnya tanpa emosi. “Justru karena dia bukan darah keluarga ini, aku bisa melihat siapa yang benar-benar layak.” Cassandra terpaku. Surya lalu menatap Raka. “Selama dua tahun aku menguji kalian diam-diam. Alyssa menyelamatkan tiga proyek yang hampir kau bangkrutkan, memperbaiki hubungan dengan investor, dan melindungi nama keluarga saat kau sibuk bermain dengan perempuan lain.” Raka membeku. “Ayah memata-mataiku?” Surya menjawab dingin, “Aku mengawasi pewarisku. Dan yang kutemukan adalah seorang anak manja yang mengira nama belakangnya cukup untuk membuat dunia berlutut.”
Raka mulai kehilangan kendali. “Jadi ini semua jebakan? Ayah sengaja memberinya kekuasaan tanpa memberitahuku?” Surya mengangkat dokumen itu. “Aku memberinya kekuasaan karena dia sudah membuktikan dirinya jauh sebelum malam ini.” Alyssa menatap Surya dengan terkejut. “Ayah… kenapa tidak pernah bilang padaku?” Surya menoleh padanya dan suaranya melunak. “Karena aku ingin tahu apakah kau tetap bertahan demi keluarga ini tanpa mengetahui apa yang akan kau dapatkan.” Alyssa terdiam. Surya melanjutkan, “Dan kau bertahan terlalu lama.” Raka segera memegang tangan Alyssa. “Kita masih bisa mulai lagi. Demi bayi kita.” Alyssa menarik tangannya perlahan. “Jangan gunakan anakku untuk menyelamatkan posisimu.” Wajah Raka jatuh. “Anak kita.” Alyssa menatapnya tajam. “Beberapa menit lalu kau bilang dia bukan keluargamu.”
Cassandra menyadari Raka mulai kehilangan semuanya dan langsung mengubah sikap. Ia mencengkeram lengan Raka. “Kita pergi saja dari sini. Kita tidak butuh mereka.” Raka menoleh padanya dengan marah. “Diam.” Cassandra tercengang. “Apa?” Raka menarik lengannya. “Semua ini terjadi karena kau!” Cassandra tertawa sinis. “Karena aku? Aku tidak pernah menyuruhmu mengusir istrimu yang hamil!” Alyssa menyaksikan keduanya saling menyalahkan, lalu berkata pelan, “Akhirnya topeng kalian jatuh juga.” Cassandra menoleh tajam. “Kau pikir kau lebih baik dariku?” Alyssa menjawab, “Tidak. Aku hanya tidak perlu merebut suami orang lain untuk merasa berharga.” Beberapa tamu menundukkan kepala menahan reaksi. Cassandra memucat. Surya kemudian berkata, “Keluar dari rumah ini, Cassandra. Mulai malam ini, tidak ada satu pun perusahaan Grup Wijaya yang akan berbisnis dengan keluargamu.”
Raka panik dan berlutut di depan Alyssa tanpa memedulikan para tamu. “Tolong jangan lakukan ini. Aku salah. Aku benar-benar salah.” Alyssa menatap pria yang dulu sangat dicintainya. “Aku menunggu kalimat itu selama berbulan-bulan, Raka. Tapi kau baru mengatakannya setelah tahu aku memegang perusahaan.” Raka menggeleng cepat. “Bukan karena itu!” Alyssa bertanya, “Kalau dokumen ini tidak pernah muncul, apakah kau akan mengejarku saat aku keluar dari pintu tadi?” Raka tidak mampu menjawab. Diamnya cukup. Alyssa mengusap perutnya, lalu berkata, “Aku akan mengurus anak ini. Kau tetap ayahnya, dan aku tidak akan menghapus hakmu untuk mencintainya. Tapi menjadi ayah tidak otomatis membuatmu layak kembali menjadi suamiku.” Raka menutup mata, seolah kalimat itu lebih menyakitkan daripada kehilangan seluruh kekayaan.
Beberapa bulan kemudian, Alyssa resmi memimpin Grup Wijaya bersama Surya sebagai penasihat utama. Dalam rapat pemegang saham pertamanya, ia berdiri di depan puluhan direktur dengan perut yang kini sudah jauh lebih besar. Salah satu komisaris bertanya, “Bu Alyssa, apakah Anda akan menyingkirkan Pak Raka sepenuhnya dari perusahaan?” Alyssa menjawab tegas, “Tidak. Dia akan tetap bekerja, tapi bukan sebagai pewaris. Dia harus membuktikan dirinya dari bawah.” Raka yang duduk jauh di ujung meja mengangkat wajah. Setelah rapat, ia menghampirinya. “Terima kasih karena tidak menghancurkanku.” Alyssa menjawab, “Jangan salah paham. Aku tidak menyelamatkanmu. Aku memberimu kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.” Raka mengangguk pelan. “Kalau suatu hari aku berubah?” Alyssa menatapnya lama. “Berubahlah bukan untuk mendapatkanku kembali. Berubahlah supaya anakmu kelak tidak malu menyebutmu ayah.”
Setahun kemudian, di taman rumah Surya, seorang bayi laki-laki tertawa dalam pelukan Alyssa. Raka datang tanpa pengawal, tanpa mobil mewah, hanya membawa sebuah kotak kecil berisi mainan kayu. Ia berjongkok di depan putranya dan berkata, “Ayah datang.” Alyssa memperhatikannya dari jauh. Raka kini bekerja tanpa jabatan istimewa dan perlahan mendapatkan kembali kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Ia menatap Alyssa dan berkata, “Aku tidak akan meminta kesempatan kedua hari ini. Aku hanya ingin terus membuktikan bahwa aku bisa berubah.” Alyssa tersenyum tipis. “Itu pertama kalinya kau mengatakan sesuatu tanpa menuntut apa pun.” Surya yang berdiri di teras tertawa kecil. “Akhirnya kau belajar juga, Raka.” Alyssa kemudian mencium kening putranya dan berkata, “Kita tidak bisa mengubah malam ketika semuanya hancur. Tapi kita bisa memilih apa yang dibangun setelahnya.” Raka mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, keluarga itu tidak berdiri di atas kekuasaan, uang, atau nama besar, melainkan pada satu hal yang pernah hampir mereka kehilangan sepenuhnya: kejujuran.
Comments (0)
Loading comments...


















