Logo

21in-Ratih Menghina Remaja Kelaparan Ini di Depan Semua Orang… Tapi Saat Melihat Wajahnya, Ia Langsung Membeku!

Article image



Ratih masih berdiri membeku, menatap wajah Arga yang lebam seperti sedang melihat seseorang yang kembali dari kematian. Piring di tangannya jatuh ke meja, sementara Raka menatap ibunya dengan bingung. “Ibu… Ibu kenal dia?” Ratih tidak menjawab. Ia perlahan mendekati Arga dan menyingkap sedikit rambut di dekat pelipis kirinya. Di sana terdapat tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit. Tubuh Ratih langsung gemetar. “Tanda itu… tidak mungkin salah.” Arga mundur ketakutan. “Jangan sentuh saya.” Ratih mulai menangis. “Siapa nama ibumu? Siapa yang membesarkanmu?” Arga menjawab lirih, “Namanya Lestari. Tapi sebelum meninggal dia bilang saya bukan anak kandungnya.” Ratih menutup mulut. “Ya Tuhan… kamu anakku.”

Seluruh ballroom seketika dipenuhi bisikan. Raka menatap Arga, lalu Ratih. “Anak Ibu? Berarti dia… kakak saya?” Ratih berlutut di depan Arga. “Enam belas tahun lalu aku melahirkan seorang bayi laki-laki. Keluarga mengatakan bayiku meninggal beberapa jam kemudian. Aku bahkan tidak diizinkan melihat wajahnya untuk terakhir kali.” Arga menggeleng keras. “Tidak. Saya tumbuh di rumah kontrakan. Saya tidur lapar berkali-kali. Kalau Anda ibu saya, kenapa Anda tidak mencari saya?” Ratih menangis semakin deras. “Aku mencari! Bertahun-tahun aku mencari diam-diam, tapi semua dokumen rumah sakit mengatakan kamu meninggal.” Arga menatap pakaian mewah Ratih dengan pahit. “Sementara saya hidup di jalan, Anda mengadakan pesta untuk orang kaya.” Ratih hanya mampu berbisik, “Dan beberapa menit lalu aku sendiri menghinamu karena terlihat miskin.”

Raka tiba-tiba memeluk lengan Arga. “Kak, jangan pergi dulu. Kita cari tahu benar atau tidak.” Arga menatap anak kecil yang tadi memberinya makanan. “Kamu bahkan tidak tahu siapa aku, tapi kamu membela aku.” Raka menjawab, “Karena kamu lapar. Itu sudah cukup.” Kalimat sederhana itu membuat Ratih menundukkan kepala karena malu. Malam itu ia memerintahkan tes DNA dilakukan secepatnya. Dua hari kemudian, Ratih membuka amplop hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar. “Probabilitas hubungan biologis ibu dan anak… 99,99 persen.” Arga mematung. Ratih menangis. “Aku benar-benar ibumu.” Namun Arga tidak langsung memeluknya. “Kalau begitu seseorang mencuri enam belas tahun hidup saya. Saya ingin tahu siapa.”

Penyelidikan keluarga kemudian menemukan arsip rumah sakit yang selama ini disembunyikan. Ratih memanggil kakak laki-lakinya, Bima, yang dahulu mengurus semua urusan keluarga. Ia melempar dokumen ke meja. “Kenapa tanda tanganmu ada di surat kematian palsu anakku?” Bima pucat. “Ratih, waktu itu keluarga kita sedang menghadapi skandal besar. Ayah tidak ingin bayi dari hubunganmu sebelum menikah menjadi ancaman bagi nama keluarga.” Ratih berdiri dengan mata merah. “Jadi kalian mengambil anakku?” Bima menjawab gugup, “Ayah memerintahkan bayi itu diberikan kepada keluarga lain. Aku hanya menjalankan perintah.” Ratih menampar meja. “Kamu membiarkan aku menangisi anak yang masih hidup!” Arga yang berdiri di pintu berkata dingin, “Dan saya membayar dosa nama besar kalian dengan enam belas tahun kemiskinan.”

Bima mencoba mendekati Arga. “Kamu tidak mengerti. Kami melindungi masa depan keluarga.” Arga tertawa pahit. “Keluarga siapa? Bukan keluarga saya.” Ratih berdiri di antara mereka. “Mulai hari ini semua jabatanmu di grup keluarga dicabut. Semua bukti pemalsuan dokumen akan diserahkan kepada pengacara dan pihak berwenang.” Bima membentak, “Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri demi anak jalanan ini?!” Ratih menjawab tanpa ragu, “Dia menjadi anak jalanan karena keluarga kita. Jangan sekali lagi gunakan kemiskinan yang kita ciptakan untuk merendahkannya.” Arga menatap Ratih untuk pertama kalinya tanpa kebencian penuh. “Saya belum bisa memanggil Anda Ibu.” Ratih mengangguk. “Aku tidak berhak memintanya. Biarkan aku mendapatkannya perlahan.”

Ratih menawarkan Arga rumah, sekolah terbaik dan bagian warisan yang selama ini seharusnya menjadi haknya. Arga menggeleng. “Saya mau sekolah, tapi saya tidak mau tiba-tiba hidup seperti pangeran hanya karena tes DNA.” Ratih bertanya, “Lalu apa yang kamu inginkan?” Arga menunjuk Raka. “Saya ingin tetap mengenal anak kecil yang memberi saya makanan ketika semua orang lain menganggap saya sampah. Dan saya ingin uang yang seharusnya menjadi milik saya dipakai membantu anak-anak yang tidur lapar seperti saya dulu.” Raka langsung tersenyum. “Berarti Kak Arga benar-benar kakak saya?” Arga akhirnya tersenyum kecil. “Kalau kamu masih mau punya kakak yang bajunya jelek seperti ini.” Raka memeluknya erat. “Saya yang akan belikan jaket baru. Tapi makanan dulu. Kakak masih kurus.”

Setahun kemudian, Ratih membuka sebuah rumah perlindungan dan pusat pendidikan untuk remaja terlantar dengan Arga ikut mengelolanya. Pada peresmian, Ratih berdiri di antara kedua putranya dan berkata, “Dulu aku percaya martabat keluarga terlihat dari siapa yang duduk di meja kita. Arga mengajariku bahwa martabat justru terlihat dari siapa yang kita izinkan duduk ketika dia lapar.” Arga menatapnya, lalu berkata pelan, “Saya belum melupakan enam belas tahun yang hilang. Tapi saya sudah berhenti membiarkan masa lalu menentukan seluruh hidup saya.” Ratih menahan air mata. “Bolehkah hari ini aku memanggilmu anakku?” Arga diam beberapa detik, kemudian tersenyum. “Boleh… Ibu.” Raka langsung memeluk mereka berdua. Dan Ratih akhirnya memahami bahwa malam ketika ia hampir mengusir seorang remaja miskin ternyata menjadi malam ketika keluarganya sendiri pulang kepadanya—karena kadang orang yang paling kita rendahkan justru membawa kembali bagian hidup yang selama bertahun-tahun kita kira telah hilang selamanya.

Comments (0)

Loading comments...