20iutt Raka Dihina dan Diseret Keluar dari Pemakaman… Tapi Ternyata Dialah yang Menyelamatkan Ratih!

Arya tidak langsung menjawab. Hujan semakin deras, membasahi bahunya ketika ia melangkah perlahan menuju peti putih. Semua tamu menahan napas, sementara Mayang berdiri pucat tanpa mampu bergerak. Raka masih ditahan dua pengawal, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari peti. Arya berhenti tepat di depan Mayang dan berkata dengan suara rendah yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan, “Aku tanya sekali lagi, Mayang. Kamu tahu apa?” Bibir Mayang gemetar. “Aku… aku tidak tahu apa-apa.” Raka langsung berteriak, “Dia bohong! Waktu saya masuk ke kamar tadi, saya lihat tangan Ibu Ratih bergerak!” Arya menoleh tajam. “Kamar mana?” Raka menjawab, “Ruang persiapan jenazah. Saya datang untuk mengucapkan selamat tinggal, tapi saya melihat jarinya bergerak di bawah kain.” Suasana pecah. Beberapa tamu mulai berbisik panik. Arya mengangkat tangan dan memerintahkan, “Buka petinya. Sekarang.” Mayang tiba-tiba menjerit, “Jangan!”
Semua kepala langsung menoleh kepadanya. Arya menatap Mayang seolah baru pertama kali melihat siapa wanita itu sebenarnya. “Kenapa tidak boleh?” tanyanya dingin. Mayang mencoba mundur, tetapi tumitnya hampir terpeleset di batu basah. “Karena… karena Ratih sudah meninggal. Dokter sudah memastikan.” Raka menggeleng keras. “Dokter yang mana? Saya tidak pernah lihat dokter datang!” Arya langsung memandang kepala pengawal. “Panggil dokter keluarga sekarang. Dan jangan biarkan siapa pun meninggalkan rumah ini.” Mayang semakin panik. “Arya, kamu mempermalukan keluarga kita di depan semua orang!” Arya mendekat satu langkah. “Kalau kakakku masih hidup di dalam peti itu, yang mempermalukan keluarga ini bukan aku.” Dua staf mulai membuka pengunci peti. Mayang tiba-tiba mencoba berbalik dan pergi, tetapi pengawal langsung menghalanginya. “Minggir!” bentaknya. Arya berkata tanpa emosi, “Tidak ada yang pergi sebelum aku tahu kebenarannya.”
Ketika tutup peti terangkat, beberapa tamu langsung menutup mulut. Ratih terbaring pucat, tetapi dadanya bergerak sangat pelan. Raka berteriak, “Lihat! Dia bernapas!” Arya langsung mendekat dan menyentuh leher kakaknya. Wajahnya berubah total. “Ada denyut!” teriaknya. “Panggil ambulans!” Kekacauan langsung meledak. Para staf berlari, sementara Raka jatuh berlutut karena lega. Mayang justru berdiri kaku seperti patung. Ratih tiba-tiba menggerakkan jari dan membuka mata sedikit. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik, “Arya…” Arya menggenggam tangannya. “Aku di sini. Kamu aman.” Ratih menelan ludah dengan susah payah lalu matanya bergerak menuju Mayang. “Jangan… biarkan dia pergi.” Seluruh tubuh Mayang langsung gemetar. Arya menoleh perlahan. “Apa yang dia lakukan padamu?” Ratih berbisik, “Dia… memasukkan sesuatu ke minumanku.”
Mayang langsung berteriak, “Dia mengigau! Dia tidak sadar!” Namun Ratih membuka matanya lebih lebar dan berkata, “Aku sadar semuanya.” Ambulans tiba, tetapi sebelum Ratih dibawa pergi, ia meminta Arya mendekat. “Di kamar kerjaku… laci paling bawah… ada rekaman kamera.” Mayang langsung kehilangan warna wajah. Arya memandang pengawal. “Ambil sekarang.” Beberapa menit kemudian, sebuah tablet dibawa keluar. Di layar terlihat jelas Mayang masuk ke kamar Ratih pada malam sebelumnya, menuangkan cairan dari botol kecil ke dalam gelas, lalu berbicara dengan seseorang lewat telepon. Suaranya terdengar, “Besok semuanya akan selesai. Setelah dia dianggap meninggal, sahamnya otomatis berpindah.” Arya mematikan video dan menatap Mayang dengan tatapan penuh jijik. “Kamu mencoba membunuh kakakku demi saham?” Mayang menangis histeris. “Aku melakukan ini untuk kita!” Arya menjawab keras, “Jangan pernah pakai kata ‘kita’ lagi.”
Polisi datang sebelum malam benar-benar turun. Mayang mencoba menyangkal semuanya, tetapi rekaman, botol obat yang ditemukan di kamarnya, dan kesaksian Ratih membuat kebohongannya runtuh satu per satu. Ketika tangannya diborgol, Mayang masih berteriak, “Arya, aku istrimu! Kamu tidak bisa membiarkan mereka membawa aku!” Arya berdiri tanpa bergerak. “Istriku tidak akan mencoba membunuh kakakku.” Mayang menangis semakin keras. “Aku hanya takut kehilangan semuanya!” Raka yang berdiri tidak jauh dari sana berkata lirih, “Karena takut kehilangan harta, Anda hampir menghilangkan nyawa seseorang.” Mayang menatapnya penuh benci. “Diam! Semua ini gara-gara kamu!” Raka menjawab, “Bukan. Semua ini terjadi karena Anda mengira orang miskin seperti saya tidak akan berani membuka mulut.” Arya menatap Raka, lalu berkata, “Dan kalau dia diam hari ini, kita mungkin benar-benar mengubur Ratih hidup-hidup.”
Tiga hari kemudian, Ratih sadar sepenuhnya di rumah sakit. Arya duduk di sisinya, sementara Raka berdiri canggung di dekat pintu. Ratih tersenyum lemah ketika melihat pemuda itu. “Kemari, Raka.” Ia mendekat dan menundukkan kepala. Ratih menggenggam tangannya. “Kamu menyelamatkan hidup saya.” Raka menjawab, “Saya cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” Arya lalu berkata, “Tidak semua orang berani melawan seluruh keluarga Wiranegara di tengah pemakaman.” Raka tersenyum kecil. “Waktu itu saya cuma takut terlambat.” Ratih menatap Arya lalu berkata, “Aku ingin dia bekerja dengan kita.” Raka langsung terkejut. “Bu, saya tidak datang untuk meminta apa pun.” Ratih tersenyum. “Justru karena itu saya percaya padamu.” Arya mengangguk. “Mulai hari ini, kamu bukan orang asing di rumah kami. Kamu orang yang mengembalikan kakakku kepada keluarga ini.”
Beberapa bulan kemudian, taman tempat pemakaman palsu itu pernah berlangsung berubah total. Tidak ada lagi peti, payung hitam, atau wajah penuh ketakutan. Ratih berdiri sehat di bawah sinar matahari, sementara Raka kini mengenakan kemeja rapi sebagai bagian dari yayasan keluarga yang membantu anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan pendidikan. Arya mendekati mereka sambil membawa satu dokumen. “Kasus Mayang sudah diputus. Dia akan menjalani hukuman panjang, dan seluruh saham yang coba dia rebut sudah dikembalikan kepada Ratih.” Ratih menatap Raka lalu tersenyum. “Hari itu semua orang mengira kamu datang untuk menghancurkan pemakaman kami.” Raka tertawa kecil. “Padahal saya cuma tidak mau orang hidup dikubur.” Arya menepuk bahunya. “Kadang orang yang dianggap pengacau justru satu-satunya orang yang berani mengatakan kebenaran.” Ratih memandang taman itu dan berkata pelan, “Aku hampir kehilangan hidup karena orang yang paling dekat denganku… tapi aku mendapatkannya kembali karena seseorang yang bahkan tidak punya alasan untuk menolong.” Raka menjawab, “Kebenaran memang sering datang dari orang yang paling tidak didengar.” Dan kali ini, keluarga Wiranegara akhirnya belajar mendengarkan.
Comments (0)
Loading comments...


















