Logo

19iutt KAMU YANG MENCURINYA DARIKU!” — SATU KALIMAT MEMBUAT SANG MILIARDER PUCAT

Article image


Raka berdiri kaku di luar kandang, wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini kehilangan warna. Para tamu yang beberapa menit lalu menertawakan Alya mulai berbisik sambil memandangnya dengan curiga. Alya menggenggam medali perak tua itu, lalu berkata dengan suara bergetar namun tajam, “Aku memasang medali ini sendiri di leher Bara tiga tahun lalu, sebelum dia menghilang.” Raka mencoba tertawa, tetapi suaranya terdengar dipaksakan. “Seekor anjing bisa punya medali yang sama. Jangan membuat cerita hanya karena kau ingin uangku.” Alya menatap koper berisi Rp100 miliar di tanah, kemudian menendangnya menjauh. “Aku tidak datang untuk uangmu. Aku datang karena seseorang memberitahuku Bara masih hidup.” Bara berdiri di sisi Alya dan menggeram pelan ke arah Raka. Seketika senyum Raka benar-benar lenyap.

Seorang pria tua berjas hitam yang sejak awal berdiri di belakang para tamu tiba-tiba maju. Ia adalah Bima, mantan pelatih anjing keamanan yang pernah bekerja untuk perusahaan Raka. Tangannya gemetar ketika menunjuk medali itu. “Pak Raka, cukup.” Raka menoleh tajam. “Tutup mulutmu, Bima!” Namun Bima tidak mundur. “Tiga tahun lalu Bapak membawa anjing ini ke fasilitas kami dan memerintahkan semua data identitasnya dihapus.” Para tamu langsung terdiam. Alya mencengkeram jeruji kandang. “Jadi kau tahu Bara dicuri?” Bima menunduk penuh rasa bersalah. “Saya tahu dia bukan milik Pak Raka. Tapi saya takut kehilangan pekerjaan.” Raka membentak, “Dia berbohong!” Bima menatapnya dan menjawab, “Kalau saya berbohong, kenapa Bapak memerintahkan kami memanggilnya ‘Bravo’, bukan Bara?”

Alya membuka pintu kandang yang kini tidak lagi terkunci dan berjalan keluar bersama Bara. Untuk pertama kalinya malam itu, Raka mundur satu langkah. Alya berhenti tepat di depannya. “Mengapa?” tanyanya. “Mengapa kau mengambil satu-satunya makhluk yang tersisa setelah ayahku meninggal?” Raka menarik napas berat. Ia masih berusaha mempertahankan harga dirinya. “Ayahmu berutang kepadaku.” Alya langsung menggeleng. “Bohong.” Raka akhirnya membentak, “Ayahmu menolak menjual perusahaan keamanannya kepadaku! Bara adalah anjing terbaik yang pernah dia latih. Aku mengambilnya untuk membuktikan bahwa semua yang dia banggakan bisa menjadi milikku.” Mata Alya memerah. “Jadi ini bukan tentang seekor anjing.” Raka menjawab dingin, “Ini tentang kekuasaan.” Alya mendekat satu langkah. “Dan malam ini kau baru saja menunjukkan kepada semua orang betapa kecilnya dirimu tanpa kekuasaan itu.”

Keheningan pecah ketika salah satu tamu, seorang investor senior bernama Surya, menutup koper uang dengan keras. “Saya datang ke sini karena mengira Anda pengusaha terhormat, Raka.” Raka berbalik. “Jangan ikut campur.” Surya menggeleng. “Anda menggunakan pesta ini untuk mempermalukan seorang perempuan, lalu ternyata anjing yang Anda jadikan taruhan pun bukan milik Anda.” Tamu lain ikut berdiri. “Kalau cerita tentang Bara benar, bagaimana dengan aset lain yang Anda klaim?” Raka mulai panik. “Kalian percaya perempuan itu hanya karena seekor anjing mengenalinya?” Alya mengangkat medali perak. “Bukan hanya anjingnya. Medali ini punya nomor registrasi lama perusahaan ayahku.” Bima menambahkan, “Dan saya masih menyimpan salinan dokumen penerimaan Bara tiga tahun lalu.” Wajah Raka seketika runtuh.

Raka mencoba berjalan pergi, tetapi Alya memanggilnya. “Belum selesai.” Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman suara. “Orang yang memberitahuku tentang Bara juga mengirim ini.” Suara Raka terdengar jelas dari rekaman lama: hapus tanda pengenalnya, ganti namanya, jangan sampai keluarga Prameswari menemukannya. Semua orang menoleh kepadanya. Raka mendadak berteriak, “Matikan itu!” Alya menurunkan ponsel dan berkata, “Selama tiga tahun aku mengira Bara mati. Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa menemukannya.” Bara mendekat dan menempelkan kepalanya pada tangan Alya. Ia tersenyum sambil menangis. “Ternyata dia menungguku.” Kemudian tatapannya kembali dingin kepada Raka. “Dan kau bukan hanya mencuri anjingku. Kau mencuri tiga tahun hidup kami.”

Raka menatap para tamunya satu per satu, berharap masih ada seseorang yang berdiri di pihaknya. Tidak ada. Surya mengambil jasnya. “Mulai malam ini, seluruh kerja sama perusahaan saya dengan Wiratama Security dihentikan.” Seorang pengusaha lain menyahut, “Saya juga.” Raka berteriak, “Kalian tidak bisa melakukan ini kepadaku!” Alya menjawab tenang, “Bukankah tadi kau bilang uang bisa membeli keberanian?” Ia mendorong koper Rp100 miliar kembali ke depan Raka. “Simpan uangmu. Kau akan membutuhkannya.” Raka memandangnya dengan mata merah. “Kau pikir kau menang?” Alya menggeleng perlahan. “Tidak. Aku cuma mengambil kembali apa yang menjadi milikku.” Bara berdiri di sampingnya, tenang namun tidak pernah melepaskan pandangan dari Raka.

Alya kemudian berlutut, memeluk Bara erat, dan berbisik, “Kita pulang.” Bara menjilat tangannya seperti dahulu, membuat Alya akhirnya tersenyum di tengah air mata. Ketika ia berbalik meninggalkan halaman, Raka memanggil dengan suara pecah, “Alya!” Ia berhenti tanpa menoleh. Raka bertanya, “Apa yang akan kau lakukan padaku?” Alya akhirnya menoleh dengan wajah tenang. “Tidak ada.” Raka terlihat bingung. Alya melanjutkan, “Aku tidak perlu menghancurkanmu. Malam ini kau melakukannya sendiri di depan semua orang.” Para tamu berjalan pergi satu demi satu, meninggalkan Raka sendirian di bawah cahaya taman yang dingin. Alya membuka gerbang bersama Bara. Sebelum melangkah keluar, ia menatap sahabat lamanya dan berkata pelan, “Tiga tahun aku mencarimu, Bara. Sekarang tidak ada seorang pun yang akan mengambilmu dariku lagi.” Bara berjalan di sisinya, sementara di belakang mereka Raka hanya berdiri mematung—dikelilingi uang, kemewahan, dan kekuasaan yang akhirnya tidak mampu membeli satu pun orang untuk tetap tinggal.









Comments (0)

Loading comments...