17in-“JANGAN MINUM ITU!” Ayu Menyelamatkan Sang Konglomerat… Tapi Siapa yang Meracuni Anggurnya?

Rahmat masih menatap seluruh meja dengan mata penuh curiga ketika Ayu mengulang pelan, “Ada yang meracuni anggur Anda.” Tidak seorang pun berani bergerak. Nadira masih memegangi pipinya, tetapi wajahnya kini jauh lebih pucat daripada sebelumnya. Rahmat mengambil ponsel Ayu dan memutar rekaman itu sekali lagi. Tangan misterius dengan lengan gelap terlihat meneteskan cairan bening ke dalam decanter yang sama. “Siapa yang punya akses ke ruang makan sebelum acara dimulai?” tanyanya dingin. Salah satu anggota keluarga menjawab gugup, “Hampir semua orang di rumah ini, Pak. Keluarga, staf senior, keamanan…” Rahmat perlahan berdiri. “Berarti orang yang mencoba membunuhku mungkin sedang berdiri beberapa meter dariku sekarang.” Kalimat itu membuat semua orang saling menatap dengan ketakutan baru.
Nadira akhirnya bersuara, “Jangan lihat saya seperti itu! Saya memang marah pada Ayu, tapi saya tidak meracuni siapa pun!” Rahmat menoleh kepadanya. “Aku belum menuduhmu. Kenapa kamu merasa perlu membela diri lebih dulu?” Nadira langsung terdiam. Ayu berkata hati-hati, “Pak Rahmat, saya merekam video itu karena saya melihat seseorang masuk ketika ruangan kosong. Saya pikir hanya mencurigakan, jadi saya menyalakan kamera dari balik pintu.” Rahmat menatapnya tajam. “Kamu melihat wajahnya?” Ayu menggeleng. “Tidak. Tapi saya ingat satu hal. Setelah orang itu pergi, saya mendengar bunyi cincin mengenai gagang pintu. Bunyi logam yang berat.” Beberapa tamu secara refleks menurunkan tangan mereka dari meja. Rahmat langsung memperhatikan gerakan itu.
Salah satu pria tua di ujung meja, Bimo Wirawan, tertawa gugup. “Jangan konyol. Hampir semua pria di keluarga kita memakai cincin.” Rahmat menatap cincin keluarga di jarinya sendiri, lalu ke tangan para tamu. “Benar. Karena itu aku tidak akan menuduh berdasarkan satu suara.” Ia kemudian memerintahkan staf keamanan menutup semua pintu. “Tak seorang pun keluar sebelum rekaman kamera mansion diperiksa.” Nadira tersentak. “Ayah, ini berlebihan! Para tamu kita bukan penjahat!” Rahmat menjawab dingin, “Seseorang baru saja mencoba membunuhku di meja makan keluarga. Malam ini status tidak berarti apa-apa.” Ayu menambahkan, “Dan decanter jangan disentuh. Kalau benar ada racun, itu satu-satunya bukti yang kita punya.” Rahmat mengangguk. “Untuk pertama kalinya malam ini, orang yang paling masuk akal di ruangan ini justru pelayan yang kalian hina.”
Beberapa menit kemudian, kepala keamanan membawa rekaman CCTV koridor. Satu sosok terlihat berjalan menuju ruang makan sebelum acara, tetapi wajahnya tertutup bayangan dan sudut kamera buruk. Namun ketika sosok itu berbalik, sesuatu tampak jelas: sebuah saputangan putih dengan garis burgundy jatuh sebentar dari saku sebelum diambil kembali. Nadira langsung menatap seorang pria bernama Dimas Wirawan, sepupu Rahmat, yang mengenakan saputangan serupa. Dimas bangkit. “Jangan menatap saya! Semua pria di keluarga ini memakai motif itu karena dibuat khusus untuk makan malam ini!” Rahmat berkata, “Duduk.” Dimas membalas, “Anda curiga kepada saya setelah tiga puluh tahun saya berdiri di sisi Anda?” Rahmat menatapnya tanpa emosi. “Malam ini aku curiga kepada semua orang. Termasuk diriku sendiri karena terlalu lama percaya pada keluarga hanya karena mereka memiliki nama yang sama.”
Ayu tiba-tiba melihat sesuatu di video dan berkata, “Tunggu. Putar kembali.” Rekaman dihentikan pada saat sosok misterius membuka pintu. Di pantulan kaca jendela terlihat seseorang lain berdiri di ujung koridor. Tidak cukup jelas untuk mengenali wajahnya, tetapi terlihat bahwa sosok kedua seolah mengawasi. Rahmat membeku. “Jadi bukan satu orang.” Nadira berbisik, “Maksud Ayah… ada yang membantu?” Ayu mengangguk. “Atau ada saksi yang takut bicara.” Rahmat memandang setiap orang satu per satu. “Siapa pun yang tahu sesuatu, bicara sekarang. Kalau aku harus menemukan kebenaran lewat kamera dan racun, aku akan menganggap diam sebagai pengkhianatan.” Seorang wanita tua di sisi meja mulai menangis pelan. “Rahmat… ada hal tentang perusahaan yang belum pernah kamu tahu.” Semua mata langsung beralih kepadanya.
Wanita itu adalah kakak Rahmat sendiri, Lestari. Dengan tangan gemetar ia berkata, “Beberapa bulan terakhir ada konflik soal saham keluarga. Seseorang takut kamu akan mengubah pembagian warisan. Aku mendengar ancaman, tapi aku tidak pernah mengira mereka benar-benar mencoba membunuhmu.” Rahmat menahan napas. “Siapa?” Lestari menggeleng sambil menangis. “Aku tidak tahu pasti. Aku hanya mendengar kalimat: ‘Kalau Rahmat masih hidup sampai rapat bulan depan, semuanya selesai.’” Nadira langsung menatap ayahnya. “Ayah… rapat apa?” Rahmat menjawab pelan, “Rapat untuk menghapus hak kendali beberapa anggota keluarga dari perusahaan.” Dimas memukul meja. “Jadi sekarang semua orang yang akan kehilangan saham dianggap pembunuh?!” Rahmat menatapnya tajam. “Tidak. Tapi sekarang aku tahu ada motif. Dan motif membuat racun itu jauh lebih nyata daripada sekadar ketakutan.”
Beberapa hari kemudian, hasil laboratorium memastikan cairan dalam anggur memang berbahaya dalam jumlah yang cukup besar. Polisi dan penyelidik perusahaan kemudian menemukan pelaku melalui kombinasi rekaman, jejak vial dan akses ruang makan. Ternyata bukan Nadira, bukan Dimas, melainkan seorang kerabat senior yang takut kehilangan kendali atas aset keluarga dan bekerja sama dengan staf internal yang telah disuap. Saat pelaku dibawa pergi, Rahmat berkata dingin, “Kamu hampir membunuhku demi saham yang bahkan tidak akan kamu bawa ke kubur.” Sang pelaku menunduk. “Saya takut kehilangan semuanya.” Rahmat menjawab, “Dan ketakutanmu justru membuatmu kehilangan semuanya.” Setelah itu Rahmat memanggil Ayu. “Kamu menyelamatkan hidupku. Apa yang kamu inginkan?” Ayu tersenyum kecil. “Saya cuma ingin satu hal, Pak: jangan pernah lagi biarkan orang di rumah ini merasa mereka boleh merendahkan seseorang karena seragamnya.” Rahmat menatap Nadira, lalu seluruh keluarganya. “Mulai hari ini, itu aturan pertama di rumah ini. Karena malam ini kita belajar bahwa orang yang paling rendah kedudukannya di meja bisa menjadi satu-satunya orang yang cukup berani untuk menyelamatkan kepala keluarga.”
Comments (0)
Loading comments...


















