Logo

17i-DIA MENGHINA WANITA TUA ITU… TANPA TAHU SIAPA DIA

Article image

Arga menatap cincin di jarinya beberapa detik, lalu perlahan menariknya hingga terlepas sepenuhnya. Suara napas para tamu terdengar berat di tengah taman yang mendadak sunyi. Nadira langsung maju satu langkah. “Arga, tunggu! Aku tidak tahu dia ibumu!” katanya dengan suara bergetar. Arga menggenggam cincin itu erat, lalu menatapnya tanpa berkedip. “Justru itu masalahnya, Nadira. Kau merasa boleh menghina seseorang hanya karena kau mengira dia bukan siapa-siapa.” Kalimat itu membuat wajah Nadira semakin pucat. Ibu Ratna masih berlutut sambil memeluk bunga yang rusak. Arga segera berbalik, berjongkok di hadapan ibunya, dan berkata lirih, “Ibu, maafkan aku karena membiarkan Ibu diperlakukan seperti ini di hari yang seharusnya membuat Ibu bahagia.” Ibu Ratna mengusap air matanya. “Bukan salahmu, Nak. Berdirilah. Jangan biarkan amarah membuatmu menjadi seperti orang yang baru saja menyakitiku.”

Nadira mulai menangis, tetapi kali ini tidak ada satu pun tamu yang mendekatinya. Ia menatap puluhan pasang mata yang kini memandangnya dengan kecewa. “Aku khilaf. Aku hanya takut orang-orang mengira pesta ini tidak sempurna,” katanya. Ibu Ratna akhirnya berdiri dengan bantuan Arga. Ia memandang Nadira dengan mata merah, namun tetap tenang. “Kesempurnaan apa yang kau cari, Nak? Gaun mahal? Bunga impor? Tamu-tamu kaya?” Nadira menunduk. Ibu Ratna mengangkat buket yang telah patah. “Kalau untuk membuat pesta terlihat sempurna kau harus merendahkan orang yang berpakaian sederhana, maka sejak awal pesta ini sudah tidak sempurna.” Seorang kerabat tua Arga mengangguk dan berkata keras, “Kami semua melihat apa yang terjadi. Jangan menyalahkan keadaan. Tidak ada yang memaksamu melempar bunga itu.” Nadira menggigit bibirnya, untuk pertama kali tak mampu menjawab.

Arga kemudian berjalan ke tengah taman dan mengangkat tangannya. Para tamu langsung diam. Ia membuka telapak tangannya dan memperlihatkan cincin pernikahan itu. “Pernikahan ini tidak akan dilanjutkan malam ini,” katanya tegas. Nadira tersentak. “Arga, jangan lakukan ini di depan semua orang!” Arga menatapnya tajam. “Kau mempermalukan ibuku di depan semua orang. Jadi jangan meminta kebenaran disembunyikan hanya demi menjaga harga dirimu.” Nadira menangis semakin keras. “Aku mencintaimu!” Arga menjawab, “Kalau cintamu hanya berlaku untuk orang-orang yang menurutmu pantas dihormati, itu bukan cinta yang ingin kubawa ke dalam keluargaku.” Ia kemudian meletakkan cincin tersebut di atas meja akad, tepat di samping buku pernikahan yang belum ditandatangani. Seluruh taman kembali sunyi. Kali ini, tidak ada keraguan dalam wajah Arga.

Nadira tiba-tiba berlari mendekati Ibu Ratna dan hendak berlutut, tetapi perempuan tua itu menahannya dengan lembut. “Jangan berlutut karena takut kehilangan Arga,” kata Ibu Ratna. “Kalau kau ingin meminta maaf, lakukan karena kau benar-benar memahami kesalahanmu.” Nadira menangis sambil menatap bunga yang hancur di tangan Ibu Ratna. “Saya salah, Bu. Saya tidak punya alasan. Saya memandang Ibu dari pakaian, bukan dari hati.” Ibu Ratna terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Aku bisa memaafkanmu sebagai manusia. Tapi memaafkan tidak berarti aku harus menyuruh anakku menikahimu.” Nadira menutup wajahnya. Arga berdiri di samping ibunya dan berkata, “Aku tidak membatalkan pernikahan ini untuk menghukummu. Aku membatalkannya karena hari ini aku melihat sisi dirimu yang selama ini tidak pernah kau tunjukkan kepadaku.”

Beberapa minggu kemudian, berita tentang pembatalan pernikahan itu menjadi pembicaraan di kalangan keluarga mereka, namun Arga tidak pernah menyesali keputusannya. Suatu sore, ia datang ke rumah sederhana Ibu Ratna membawa sebuah buket baru yang dibuat dengan jenis bunga yang sama seperti malam itu. “Ibu, kali ini aku yang membawakan bunga untuk Ibu,” katanya sambil tersenyum. Ibu Ratna tertawa kecil. “Bunga yang rusak waktu itu sudah Ibu simpan.” Arga terkejut. “Untuk apa?” Ibu Ratna menunjukkan beberapa kelopak kering yang disimpan di dalam kotak kayu kecil. “Supaya aku ingat bahwa sesuatu yang patah tidak selalu harus dibuang. Kadang-kadang, yang patah justru mengajarkan kita memilih hidup dengan lebih benar.” Arga memeluk ibunya erat. “Aku hampir menikahi orang yang tidak benar-benar kukenal.” Ibu Ratna menjawab, “Dan sekarang kau mengenal dirimu sendiri lebih baik.”

Enam bulan kemudian, Nadira datang sendiri ke rumah Ibu Ratna. Kali ini tanpa mobil mewah, tanpa perhiasan besar, dan tanpa rombongan. Ia membawa sebuah pot kecil berisi bunga peony. “Saya tidak datang untuk meminta Arga kembali,” katanya pelan. “Saya datang karena perkataan Ibu terus terngiang di kepala saya.” Ibu Ratna menatapnya lama lalu mempersilahkannya duduk. Nadira menarik napas. “Setelah malam itu, saya mulai bekerja di yayasan milik keluarga tanpa jabatan khusus. Saya bertemu orang-orang yang dulu mungkin tidak pernah saya lihat. Saya baru sadar betapa buruknya saya menilai manusia.” Ibu Ratna bertanya, “Lalu apa yang kau harapkan dariku sekarang?” Nadira tersenyum pahit. “Tidak ada. Saya hanya ingin mengatakan terima kasih karena Ibu memaafkan saya tanpa membenarkan kesalahan saya.” Ibu Ratna mengangguk. “Kalau begitu, mungkin untuk pertama kalinya kau datang membawa bunga dengan hati yang benar.”

Setahun setelah malam pernikahan yang gagal itu, Arga menghadiri sebuah acara amal bersama ibunya. Dari kejauhan, ia melihat Nadira membantu seorang perempuan tua berjalan menaiki tangga. Mereka saling bertatapan, tetapi tidak ada lagi kemarahan di antara mereka. Nadira hanya mengangguk kecil. Arga membalas anggukan itu. Ibu Ratna tersenyum dan berkata, “Kau masih mencintainya?” Arga terdiam, lalu menjawab, “Mungkin sebagian dari diriku masih mengingat perempuan yang pernah kucintai. Tapi aku tidak menyesal meninggalkan perempuan yang mempermalukan Ibu malam itu.” Ibu Ratna menggenggam tangannya. “Bagus. Karena cinta tidak selalu berarti kembali.” Arga tersenyum. “Kadang cinta berarti tahu kapan harus berhenti.” Mereka berjalan meninggalkan ruangan bersama. Di belakang mereka, Nadira menatap potret bunga peony di dinding dan berbisik kepada dirinya sendiri, “Aku kehilangan pernikahan itu, tapi akhirnya aku menemukan manusia seperti apa yang seharusnya aku jadi.” Untuk pertama kalinya, akhir cerita itu tidak terasa seperti kekalahan bagi siapa pun.

 

Comments (0)

Loading comments...