Logo

16iutt Foto USG Jatuh ke Lantai, Lalu Ibu Mertuanya Melakukan Hal yang Tak Terduga

Article image

 

Raka masih berlutut di lantai marmer sambil memeluk Nadira erat, napasnya memburu ketika ia menatap ke balkon lantai dua. Miranti berdiri kaku di sana, wajahnya pucat dan kedua tangannya gemetar. “Ibu mendorong dia?” suara Raka terdengar rendah, tetapi penuh kemarahan yang belum pernah Nadira dengar sebelumnya. Miranti segera menggeleng. “Raka, dengarkan Ibu. Dia hampir jatuh sendiri. Ibu hanya mencoba menahannya.” Nadira yang masih ketakutan mengangkat wajahnya perlahan. “Jangan bohong lagi, Bu. Raka melihat semuanya.” Raka menatap ibunya tanpa berkedip, lalu berkata, “Kalau aku terlambat satu detik saja, istri dan anakku bisa mati.” Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Miranti turun dari tangga dengan langkah cepat, berusaha mempertahankan wibawanya. “Kamu mau memilih perempuan ini daripada ibumu sendiri?” katanya tajam. Raka berdiri perlahan sambil tetap menopang Nadira. “Aku tidak sedang memilih antara istri dan ibu,” jawabnya. “Aku sedang memilih antara benar dan salah.” Miranti tercekat. Raka kemudian melihat pakaian yang berserakan, kotak yang jatuh, dan foto USG di lantai. Ia mengambil foto itu, lalu menatap Nadira dengan mata penuh rasa bersalah. “Kamu benar-benar mau pergi?” Nadira mengangguk pelan. “Aku tidak punya pilihan. Aku tidak mau anak kita lahir di rumah yang membuatku takut setiap hari.” Raka menutup mata sebentar. “Kenapa kamu tidak pernah bilang semuanya kepadaku?” Nadira menjawab lirih, “Karena setiap kali aku mencoba, kamu selalu bilang, ‘Ibu cuma ingin yang terbaik.’”

Ucapan itu seperti tamparan bagi Raka. Ia memandang Miranti lagi. “Berapa lama ini terjadi?” Miranti mencoba menjawab, tetapi Nadira lebih dulu berkata, “Sejak awal pernikahan kami.” Ia menahan tangis. “Ibu bilang aku tidak pantas masuk keluarga ini. Ibu mengkritik caraku berpakaian, keluargaku, bahkan kehamilanku. Tapi hari ini… Ibu bilang aku harus pergi, lalu mendorongku.” Miranti membentak, “Karena kamu terus melawan!” Raka langsung meninggikan suara. “Dia sedang hamil, Bu!” Miranti terdiam. “Itu cucu Ibu juga!” lanjutnya. Untuk pertama kalinya, Raka tidak lagi tampak seperti anak yang patuh, tetapi seorang suami yang akhirnya memahami apa yang selama ini gagal ia lindungi.

Miranti kemudian mengubah nada suaranya. “Baik. Ibu salah. Tapi jangan hancurkan keluarga ini hanya karena satu kejadian.” Nadira tersenyum pahit. “Satu kejadian?” katanya. “Yang terjadi hari ini hanya membuat semua yang selama ini disembunyikan akhirnya terlihat.” Raka menggenggam tangan Nadira. “Mulai malam ini, kita pergi dari rumah ini.” Miranti menatapnya tak percaya. “Kamu serius? Rumah ini milik keluarga kita!” Raka menjawab tegas, “Kalau harga tinggal di sini adalah membiarkan istriku dihina dan hampir dibunuh, aku tidak membutuhkan rumah ini.” Miranti mulai panik. “Raka, kamu tidak bisa meninggalkan Ibu begitu saja!” Raka menatapnya dingin. “Ibu yang membuat pilihan ini ketika Ibu mendorong Nadira.”

Saat Raka hendak membawa Nadira pergi, kepala keamanan rumah tiba-tiba masuk bersama dua petugas. Miranti membeku. Raka mengeluarkan ponselnya dan berkata, “Aku sudah melihat rekaman kamera lorong.” Wajah Miranti langsung berubah. “Kamera?” bisiknya. Raka mengangguk. “Semuanya terekam jelas.” Miranti buru-buru mendekat. “Raka, jangan lakukan ini. Kita bisa menyelesaikannya sebagai keluarga.” Nadira memandangnya dengan mata tenang. “Saat Ibu menjatuhkan barang-barangku, kita keluarga. Saat Ibu mengusirku, kita keluarga. Tapi sekarang setelah ada bukti, Ibu baru ingin bicara soal keluarga?” Miranti kehilangan kata-kata. Raka kemudian menyerahkan ponselnya kepada petugas. “Saya ingin rekaman ini disimpan. Tidak boleh ada yang menghapusnya.”

Miranti mulai menangis. Untuk pertama kalinya, kesombongannya benar-benar runtuh. “Raka, Ibu membesarkanmu sendirian. Semua yang Ibu lakukan selalu untuk masa depanmu.” Raka menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tegas. “Dan karena itu aku selalu membiarkan Ibu mengatur hidupku.” Ia menarik napas panjang. “Tapi malam ini aku hampir kehilangan istri dan anakku karena aku terlalu lama diam.” Miranti menoleh kepada Nadira. “Maafkan Ibu. Tolong jangan bawa cucu Ibu pergi.” Nadira memegang perutnya dan menjawab, “Aku bisa memaafkan suatu hari nanti. Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali hidup di bawah ketakutan yang sama.” Miranti terisak. Raka lalu berkata, “Ibu harus bertanggung jawab atas apa yang Ibu lakukan. Kalau aku melindungi Ibu sekarang, berarti aku sedang mengkhianati keluargaku sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, Nadira melahirkan seorang bayi laki-laki sehat. Raka berada di sampingnya sejak awal hingga akhir, menggenggam tangannya ketika tangisan pertama bayi mereka memenuhi ruang bersalin. Ia menangis sambil berbisik, “Terima kasih sudah tetap bertahan saat aku gagal melindungimu.” Nadira menatap suaminya dan menjawab, “Aku tidak butuh suami yang sempurna, Raka. Aku cuma butuh suami yang berani berdiri di sisiku ketika semuanya menjadi sulit.” Miranti menjalani proses hukum dan setelah beberapa bulan mulai mengikuti konseling keluarga. Ia tidak lagi memiliki kendali atas kehidupan rumah tangga Raka dan Nadira. Ketika suatu hari ia meminta izin untuk melihat cucunya, Nadira hanya berkata, “Kepercayaan tidak kembali karena permintaan maaf. Kepercayaan kembali karena perubahan.” Miranti mengangguk sambil menangis. Dan saat Raka menggendong putranya di rumah baru mereka, ia memandang Nadira lalu berkata, “Sekarang aku tahu arti keluarga yang sebenarnya.” Nadira tersenyum kecil. “Keluarga bukan tempat kita dipaksa bertahan. Keluarga adalah tempat kita merasa aman.”









Comments (0)

Loading comments...