Logo

15ti-Dia Memilih Selingkuhannya, Tapi Tidak Tahu Siapa Istrinya Sebenarnya

Article image

Alya menatap Raka tanpa berkedip. Ponsel hitam itu tetap berada di tangannya, sementara Nara masih memeluk pinggangnya erat. Raka mencoba mempertahankan wajah angkuhnya, tetapi jemarinya mulai mengepal karena gugup. Celine berdiri di belakangnya, pucat. Dengan suara rendah, Alya akhirnya berkata, “Kamu ingin tahu apa yang akan kulakukan? Baik. Aku akan menunjukkan siapa yang selama ini sebenarnya menyelamatkan hidupmu.” Raka tertawa kecil untuk menutupi ketakutannya. “Jangan mencoba menakut-nakutiku, Alya. Kamu bahkan tidak punya apa-apa.” Alya mengangkat dagu. “Itulah kesalahan terbesarmu. Selama tujuh tahun, kamu melihat celemek ini dan mengira aku tidak berharga. Kamu tidak pernah bertanya dari mana uang pertama perusahaanmu berasal.” Senyum Raka langsung menghilang. Celine menoleh kepadanya. “Raka… apa maksudnya?”

Alya membuka sebuah rekaman suara yang selama ini ia simpan, tetapi tidak menunjukkan layar kepada mereka. Suara lama seorang pria tua terdengar dari speaker—ayah Raka sendiri, yang telah meninggal dua tahun sebelumnya. Dalam rekaman itu, sang ayah berkata bahwa ketika perusahaan keluarga hampir bangkrut, Alyalah yang diam-diam menjual saham warisan miliknya dan memasukkan seluruh uang itu melalui perusahaan investasi atas nama lain. Raka mundur satu langkah. “Tidak… itu bohong.” Alya menjawab tenang, “Ayahmu tahu semuanya. Dia memintaku merahasiakannya karena dia ingin melihat apakah suatu hari kamu akan menjadi pria yang layak dipercaya.” Suara dalam rekaman kemudian terdengar lagi, “Jika Raka mengkhianati Alya dan menghancurkan keluarganya sendiri, hak kendali atas aset yang kusisakan harus diberikan kepada Alya.” Celine langsung menatap Raka dengan panik. “Kamu bilang semua perusahaan itu milikmu!” Raka membentak, “Diam!”

Raka bergerak hendak merebut ponsel, tetapi Alya mundur satu langkah sambil menarik Nara aman ke sisinya. “Jangan sentuh aku.” Nada suaranya begitu dingin hingga Raka berhenti seketika. Alya lalu menekan satu tombol dan berkata, “Dokumen pemindahan hak suara sudah aktif sejak pagi ini. Aku hanya menunggu satu hal—apakah kamu masih punya sedikit rasa hormat untuk keluargamu.” Wajah Raka memucat. “Kamu tidak mungkin melakukan itu tanpa tanda tanganku.” Alya menatapnya tajam. “Aku tidak membutuhkan tanda tanganmu. Saham pengendali itu tidak pernah benar-benar menjadi milikmu.” Celine mulai gemetar. “Raka, bilang dia bohong.” Namun Raka tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, Celine menyadari bahwa pria yang ia pilih karena kekayaan dan kekuasaan ternyata berdiri di atas sesuatu yang selama ini dimiliki istrinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, bel pintu utama terdengar. Raka menoleh dengan panik saat pengacara keluarga dan dua eksekutif senior masuk ke ruang tamu. Salah satu dari mereka berkata, “Nyonya Alya, keputusan dewan sudah selesai. Mulai malam ini, seluruh akses Pak Raka ke rekening perusahaan dibekukan sampai audit selesai.” Raka menghantam meja dengan telapak tangannya. “Kalian semua bekerja untukku!” Sang eksekutif menatapnya tanpa emosi. “Tidak lagi.” Celine perlahan mundur, lalu berbisik, “Raka… kamu bilang akan membelikanku apartemen dan saham.” Alya memandangnya. “Kalau kamu datang karena cintanya, tetaplah bersamanya sekarang.” Celine terdiam. Beberapa detik kemudian ia melepaskan tangan Raka. “Aku tidak pernah bilang aku mau hancur bersamamu.” Raka menatapnya tak percaya. “Celine!” tetapi perempuan itu pergi tanpa menoleh lagi.

Raka akhirnya jatuh terduduk di sofa, seluruh kesombongannya lenyap. Ia memandang Alya dengan mata merah. “Aku salah. Aku bisa memperbaiki semuanya. Kita mulai lagi.” Alya menggeleng perlahan. “Tidak.” Raka menatap Nara. “Demi anak kita.” Alya langsung memotong, “Jangan gunakan Nara untuk menyelamatkan dirimu.” Nara memeluk tangan ibunya dan berkata lirih, “Mama, kita pulang saja.” Alya membungkuk dan mencium kening putrinya. “Iya, Sayang. Kita pulang.” Raka berdiri terburu-buru. “Alya, tunggu! Aku masih suamimu!” Alya berhenti di ambang pintu dan menoleh. “Kamu berhenti menjadi suamiku saat kamu memilih mempermalukan ibu dari anakmu di depan matanya.” Raka tidak mampu menjawab.

Beberapa bulan berlalu. Alya mengambil alih perusahaan melalui restrukturisasi resmi, tetapi ia tidak menghancurkan Raka karena dendam. Ia hanya memastikan setiap penyalahgunaan dana, pengkhianatan kontrak, dan keputusan ilegal diproses secara hukum. Raka kehilangan jabatan, rumah mewah, dan sebagian besar fasilitas yang selama ini membuatnya merasa tak tersentuh. Pada pertemuan terakhir mereka di kantor pengacara, Raka berkata pelan, “Jadi ini balas dendammu?” Alya menatapnya dengan tenang. “Bukan. Ini akibat dari pilihanmu sendiri.” Raka menunduk. “Aku kehilangan semuanya.” Alya menjawab, “Tidak. Kamu masih punya kesempatan menjadi ayah yang layak bagi Nara. Tapi kesempatan itu harus kamu bangun sendiri.” Untuk pertama kalinya, Raka tidak membantah. Ia hanya berbisik, “Aku mengerti.”

Setahun kemudian, Alya berdiri di dapur rumah barunya yang hangat dan terang. Ia tidak lagi mengenakan celemek abu-abu karena terpaksa, melainkan celemek putih yang dipilih Nara sebagai hadiah ulang tahun. Nara membantu menghias makanan sambil tertawa. “Mama, dulu Papa bilang Mama cuma bau minyak goreng, kan?” Alya tersenyum kecil. “Iya.” Nara mengerutkan hidung. “Menurutku wangi masakan Mama enak.” Alya tertawa dan memeluknya. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk dari Raka: Aku sudah menjemput Nara tepat waktu selama enam bulan. Terima kasih karena masih memberiku kesempatan menjadi ayahnya. Alya membaca lalu meletakkan ponselnya. Nara bertanya, “Mama bahagia sekarang?” Alya menatap putrinya dan menjawab, “Sangat bahagia. Karena Mama akhirnya tahu, harga diri tidak pernah ditentukan oleh siapa yang memilih kita… tetapi 

oleh keberanian kita memilih diri sendiri.” Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengambil kekuatan itu darinya.

 

Comments (0)

Loading comments...