Logo

15iutt Alya Menangis Sambil Memeluk Bayinya… Tapi Satu Panggilan Mengubah Segalanya!

Article image



Pintu utama mansion terbuka lebar. Ardian dan Ratna menoleh bersamaan, dan wajah mereka seketika kehilangan warna ketika seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk bersama dua pengacara dan kepala keamanan keluarga. Jas hitamnya sederhana, tetapi tatapannya membuat seluruh ruangan membeku. Alya masih menggendong bayinya ketika pria itu berhenti di sisinya. “Ayah…” bisik Alya. Ardian langsung mundur. Pria itu adalah Surya Mahendra, ayah Alya yang selama ini mereka kira hanya seorang pengusaha pensiunan biasa. Surya menatap botol susu dan perlengkapan bayi yang berserakan di lantai, kemudian menatap mata putrinya yang masih merah. “Siapa yang melakukan ini?” tanyanya dingin. Alya belum sempat menjawab ketika Ardian berkata gugup, “Pak Surya, ini cuma masalah rumah tangga.” Surya menoleh tajam. “Kalau putriku menangis sambil melindungi cucuku, itu bukan lagi masalah kecil.”

Ratna segera mencoba mengambil alih keadaan. Ia tersenyum tipis dan berjalan mendekati Surya. “Pak Surya, jangan salah paham. Alya sedang emosional setelah melahirkan.” Namun Surya bahkan tidak membalas senyumnya. Salah satu pengacara membuka sebuah map tebal dan menyerahkannya kepadanya. Surya kemudian meletakkan dokumen itu di atas meja. “Kalian benar-benar tidak pernah bertanya siapa sebenarnya keluarga Alya, bukan?” Ardian memandang dokumen itu dengan kening berkerut. Surya melanjutkan, “Rumah ini, perusahaan tempatmu menjadi direktur, bahkan sebagian besar saham yang membuat keluargamu tetap berkuasa… semuanya berada di bawah kelompok usaha Mahendra.” Ratna terdiam. “Tidak mungkin,” katanya pelan. Surya menatapnya tanpa berkedip. “Kalian menghina perempuan yang selama tiga tahun meminta ayahnya menyembunyikan identitasnya karena ia ingin dicintai tanpa nama besar.”

Ardian langsung mendekati Alya. Nada suaranya berubah drastis. “Alya, dengar dulu. Aku tadi cuma marah. Aku tidak sungguh-sungguh.” Alya menatapnya lama. Air matanya kembali menggenang, tetapi kali ini ia tidak terlihat rapuh. “Kamu tidak malu karena aku jelek, Ardian,” katanya pelan. “Kamu malu karena aku kelelahan merawat anakmu.” Ardian membuka mulut, tetapi Alya memotongnya. “Setiap malam aku bangun sendiri. Setiap kali bayi menangis, kamu pindah kamar karena katanya mengganggu tidurmu. Dan hari ini, saat aku bahkan belum pulih, kamu berdiri di depanku dan berkata kamu malu mempunyai istri seperti aku.” Ardian mencoba menyentuh lengannya. Alya langsung mundur. “Jangan sentuh aku.” Kalimat sederhana itu membuat Ardian berhenti seketika.

Ratna kemudian mendekati Alya dengan wajah panik. “Alya, Ibu mungkin tadi keterlaluan. Tapi semua ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.” Alya menatap perempuan yang beberapa menit sebelumnya menyebutnya sebagai aib keluarga. “Yang terbaik?” tanyanya. “Selama aku tinggal di rumah ini, Ibu terus mengatakan aku tidak pantas menjadi istri Ardian. Ibu menghitung berat badanku setelah melahirkan, mengkritik caraku menggendong bayi, bahkan berkata cucu Ibu lebih baik diasuh pengasuh daripada olehku.” Ratna mulai kehilangan kata-kata. Alya menggeleng perlahan. “Aku terus diam karena kupikir menghormati mertua berarti menelan semuanya.” Ratna meraih tangannya. “Kita masih keluarga.” Alya menarik tangannya kembali. “Keluarga tidak menunggu seseorang hancur dulu baru meminta maaf ketika tahu orang itu punya kekuasaan.”

Surya kemudian memberi isyarat kepada pengacaranya. Pria itu membuka lembar lain. “Mulai malam ini,” kata Surya, “Ardian diberhentikan dari seluruh posisi di perusahaan Mahendra Group. Audit atas penggunaan dana perusahaan selama dua tahun terakhir juga dimulai.” Wajah Ardian langsung pucat. “Apa? Bapak tidak bisa melakukan itu!” Surya menatapnya tajam. “Aku baru saja melakukannya.” Ardian membanting telapak tangannya ke meja. “Semua yang aku bangun akan hancur!” Alya menjawab dengan tenang, “Tidak, Ardian. Yang hancur adalah sesuatu yang kamu bangun dengan menganggap semua orang di sekitarmu lebih rendah.” Ardian menatapnya tidak percaya. “Kamu merencanakan ini?” Alya menggeleng. “Aku merencanakan hidup bersamamu. Kamu sendiri yang menghancurkannya.”

Ruangan menjadi sunyi ketika Alya berjalan menuju Surya. Ayahnya membuka kedua tangan, tetapi Alya berhenti sejenak dan menatap kembali suaminya. Ardian kini benar-benar kehilangan kesombongannya. “Alya, aku mohon. Jangan bawa anak kita pergi.” Alya memeluk bayinya sedikit lebih erat. “Aku tidak akan menghalangimu menjadi ayah kalau suatu hari kamu benar-benar belajar menjadi ayah. Tapi aku tidak akan membesarkan anakku di rumah yang mengajarinya bahwa cinta berarti penghinaan.” Ratna mulai menangis. “Lalu bagaimana dengan nama keluarga kami?” Alya menatapnya dingin. “Itulah masalah kalian sejak awal. Kalian lebih takut kehilangan nama daripada kehilangan manusia.” Surya kemudian berkata, “Mobil sudah menunggu.” Alya mengangguk. “Aku siap, Ayah.”

Sebelum keluar, Alya berhenti di ambang pintu. Ia menoleh untuk terakhir kalinya kepada Ardian dan Ratna yang berdiri di tengah ruang mewah yang kini terasa kosong. “Kalian tadi bilang aku mempermalukan keluarga ini,” katanya. “Mulai malam ini, aku tidak lagi menjadi bagian dari keluarga yang membuatku harus meminta izin untuk merasa berharga.” Ardian menunduk, sementara Ratna tak sanggup menatapnya. Beberapa bulan kemudian, Alya memulai hidup baru bersama bayinya dan mengambil posisi di yayasan keluarga yang membantu ibu-ibu muda korban kekerasan emosional. Suatu pagi, Surya melihat putrinya tertawa sambil menggendong anaknya di taman. “Masih menyesal pergi?” tanyanya. Alya tersenyum dan mencium kening bayinya. “Tidak, Ayah. Aku cuma menyesal terlalu lama percaya bahwa bertahan selalu berarti mencintai.” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah Alya benar-benar tenang.













Comments (0)

Loading comments...