Logo

14iutt Kirana Menangis dari Dalam Peti Mati… Reaksi Maya Membuat Arga Sadar Ada yang Disembunyikan!

Article image


Arga tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Maya sampai perempuan itu perlahan melepaskan pergelangan tangannya. Ruangan duka yang semula sunyi tiba-tiba terasa sesak. Arga melihat lagi jejak air mata di pipi Kirana, lalu mengangkat ponselnya. “Saya tidak bertanya lagi, Bu Maya. Saya akan menelepon dokter pribadi keluarga saya.” Wajah Maya semakin pucat. “Pak Arga, tolong dengarkan saya dulu.” Arga menekan nomor sambil membalas dingin, “Kalau istri saya benar-benar sudah meninggal, Ibu tidak punya alasan untuk takut.” Maya berdiri menghalangi satu langkah, tetapi tatapan Arga membuatnya berhenti. Beberapa detik kemudian sambungan terangkat. “Dokter Surya, datang ke rumah duka sekarang. Periksa Kirana dari awal. Jangan percaya laporan siapa pun.” Maya berbisik dengan suara bergetar, “Bapak tidak tahu apa yang sedang Bapak buka.” Arga menatapnya tajam. “Bagus. Berarti memang ada sesuatu yang harus dibuka.”

Kurang dari dua puluh menit kemudian, Dokter Surya tiba bersama seorang perawat dan peralatan pemeriksaan portabel. Maya mencoba tersenyum profesional, tetapi tangannya jelas gemetar. “Dokter, semua prosedur sudah dilakukan,” katanya cepat. Dokter Surya bahkan tidak menoleh. “Saya diminta keluarga untuk memeriksa ulang.” Arga berdiri di sisi peti, wajahnya tegang. Setelah memeriksa Kirana beberapa saat, ekspresi dokter berubah. Ia mengulang pemeriksaan, kali ini lebih lama. Arga akhirnya tidak tahan. “Dok, bicara.” Dokter Surya menatap Arga dengan wajah serius. “Saya belum mengatakan dia sadar. Tapi satu hal pasti—saya tidak berani menyatakan wanita ini meninggal berdasarkan kondisi yang saya lihat sekarang.” Maya mundur satu langkah. Arga langsung menoleh kepadanya. “Apa maksudnya?” Dokter membuka kelopak pemeriksaan cahaya dan menjawab, “Ada tanda yang tidak cocok dengan waktu kematian dalam dokumen. Saya ingin dia dipindahkan ke rumah sakit sekarang.” Maya tiba-tiba berkata, “Jangan!” Arga membentak, “Cukup!”

Ketika petugas medis bersiap memindahkan Kirana, Arga menghampiri Maya. “Siapa yang menyatakan istri saya meninggal?” Maya diam. “Saya tanya sekali lagi,” suara Arga semakin rendah, “siapa?” Akhirnya Maya menjawab, “Dokter yang dibawa keluarga malam itu.” Arga mengernyit. “Keluarga siapa?” Maya memejamkan mata sejenak, seakan tahu semuanya telah terlambat. “Keluarga Bapak.” Arga membeku. “Jangan main teka-teki.” Maya menahan napas. “Saya hanya diperintahkan menerima jenazah Kirana tanpa pemeriksaan tambahan. Dokumennya sudah lengkap. Mereka bilang tidak boleh ada autopsi, tidak boleh ada pemeriksaan ulang, dan pemakaman harus dilakukan secepat mungkin.” Arga mencengkeram ponselnya. “Siapa yang memberi perintah?” Maya menatap lantai. “Pak Bima Wijaya.” Mata Arga langsung berubah. Bima adalah kakak kandungnya sendiri. “Bima?” bisiknya. Maya mengangguk dengan air mata mulai memenuhi matanya. “Dia bilang kalau saya menolak, rumah duka ini akan ditutup.”

Di rumah sakit, kecurigaan itu berubah menjadi kenyataan yang lebih mengerikan. Kirana ternyata masih memiliki aktivitas vital sangat lemah dan segera dibawa ke ruang perawatan intensif. Arga berdiri di luar ruangan ketika Dokter Surya keluar. “Dia hidup?” tanya Arga hampir tanpa suara. Dokter mengangguk. “Masih kritis, tetapi ya. Dia hidup.” Lutut Arga nyaris kehilangan kekuatan. Ia menutup wajahnya, lalu berbisik, “Ya Tuhan…” Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali keras. Ia menelepon Bima. Begitu panggilan terangkat, Arga berkata, “Kirana masih hidup.” Di ujung sana terjadi keheningan panjang. Lalu Bima menjawab, “Arga, pulanglah. Kita bicara sebagai keluarga.” Arga tertawa pendek tanpa kegembiraan. “Keluarga? Kau hampir mengubur istriku hidup-hidup.” Suara Bima berubah tegas. “Kau tidak mengerti apa yang dia lakukan.” Arga membalas, “Kalau begitu datang ke rumah sakit dan jelaskan di depan polisi.”

Malam itu Bima datang, tetapi bukan untuk menyerahkan diri. Ia masuk ke lorong VIP dengan wajah tenang, seolah masih bisa mengendalikan keadaan. “Kirana membawa masalah yang bisa menghancurkan nama Wijaya,” katanya. Arga maju satu langkah. “Jadi kau menghancurkan dia dulu?” Bima mendengus. “Dia menemukan transaksi ilegal perusahaan. Dia mau menyerahkan dokumen kepada jaksa. Ayah sudah membangun semuanya selama empat puluh tahun. Aku melindungi keluarga.” Arga menatap kakaknya dengan jijik. “Kau tidak melindungi keluarga. Kau melindungi kejahatan.” Bima mendekat. “Pikirkan baik-baik. Kalau dokumen itu keluar, perusahaan runtuh. Ribuan orang kehilangan pekerjaan. Nama kita habis.” Arga mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar yang menyala. “Kau terlambat.” Bima pucat. “Apa itu?” Arga menjawab, “Rekaman percakapan kita. Dan polisi sudah mendengar semuanya dari ruangan sebelah.” Pintu di belakang Bima terbuka. Dua penyidik masuk. “Bapak Bima Wijaya,” kata salah seorang, “kami perlu Anda ikut bersama kami.” Untuk pertama kalinya, kesombongan Bima benar-benar hilang.

Tiga hari kemudian, Kirana akhirnya membuka mata di ruang ICU. Arga yang tertidur di kursi langsung terbangun ketika jarinya terasa disentuh sangat lemah. “Kirana?” Suaranya pecah. Kirana memandangnya dengan mata basah. “Aku kira… aku tidak akan melihatmu lagi.” Arga menggenggam tangannya hati-hati. “Aku hampir kehilangan kamu karena aku terlalu percaya pada orang-orang di sekitarku.” Kirana menggeleng kecil. “Bukan salahmu.” Arga menahan tangis. “Bima sudah ditangkap. Maya juga memberikan semua dokumen rumah duka kepada polisi. Dokter yang memalsukan laporan sedang dicari.” Kirana terdiam, lalu bertanya, “Flash drive-nya?” Arga mengeluarkan liontin kecil dari tas barang pribadi Kirana. “Yang kamu sembunyikan di sini?” Kirana tersenyum lemah. “Di dalamnya ada semuanya.” Arga mengecup tangannya. “Kita serahkan bersama. Tidak ada lagi rahasia keluarga yang lebih penting daripada hidupmu.”

Beberapa bulan kemudian, kasus keluarga Wijaya memenuhi berita nasional. Bima dan dokter yang terlibat diadili, jaringan transaksi ilegal perusahaan dibongkar, dan Maya mendapat perlindungan sebagai saksi setelah mengakui kesalahannya serta membantu penyelidikan. Arga menjual sebagian besar saham keluarganya dan menggunakan uang itu untuk membangun yayasan independen bagi korban malapraktik serta keluarga yang tidak mampu melakukan pemeriksaan medis kedua. Pada hari Kirana akhirnya pulang, mereka berhenti sebentar di depan rumah. Kirana menatap Arga dan berkata, “Satu air mata hampir menjadi satu-satunya kesempatan aku untuk tetap hidup.” Arga tersenyum sambil menggenggam tangannya. “Bukan air mata itu yang menyelamatkanmu.” Kirana mengangkat alis. “Lalu apa?” Arga menjawab, “Aku akhirnya berhenti percaya pada orang yang meminta kita diam.” Kirana menatapnya lama, lalu berkata, “Kalau begitu berjanjilah satu hal.” “Apa?” Kirana tersenyum. “Mulai sekarang, kalau sesuatu terasa salah, kita cari kebenaran bersama.” Arga mengangguk. “Sampai akhir.” Dan untuk pertama kalinya sejak hari pemakaman itu, Kirana menangis lagi—bukan karena takut, tetapi karena ia benar-benar mendapatkan hidupnya kembali.




Comments (0)

Loading comments...