13ti-“Sombong Pamer Mobil Mewah, Ending-nya Bikin Malu!”

Kirana terus berjalan tanpa menoleh lagi. Senyum kecil di wajahnya membuat Selena semakin kesal, sementara Celine dan Tasya masih tertawa di samping mobil merah itu. Namun beberapa detik kemudian, suara langkah cepat terdengar dari pintu utama mansion. Seorang pria berjas hitam bernama Pak Adrian, manajer keluarga Kirana, datang bersama dua staf. Ia langsung menghampiri mobil dan membungkuk hormat ke arah Kirana. “Nona Kirana, maaf kami terlambat. Kunci cadangan dan dokumen kendaraan Anda sudah saya bawa.” Tawa Celine langsung terhenti. Tasya menurunkan tangannya dari mulut. Selena mematung dengan telapak tangannya masih menempel di atap mobil. Kirana akhirnya berhenti, berbalik perlahan, lalu menatap Selena tanpa sedikit pun kemarahan. “Sekarang kamu sudah tahu jawabannya, kan?” Selena menatap Adrian, lalu mobil, kemudian Kirana. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan berubah pucat.
Selena mencoba mempertahankan harga dirinya. Ia tertawa gugup lalu menyilangkan tangan di dada. “Jangan bercanda. Mobil ini diparkir di rumah keluargaku. Mana mungkin milik dia?” Pak Adrian membuka map hitam yang dibawanya dan menunjukkan dokumen pembelian kendaraan. Ia menjawab dengan tenang, “Mobil ini dibeli tiga minggu lalu atas nama Kirana Adiprana. Pengirimannya memang diminta dilakukan ke alamat ini karena Nona Kirana akan menghadiri acara keluarga sore ini.” Celine spontan mundur selangkah dari mobil. “Selena… kamu bilang mobil ini hadiah ulang tahun dari ayahmu.” Selena langsung melotot kepadanya. “Diam!” Tetapi keadaan semakin buruk ketika Tasya mengingat semua foto yang telah mereka ambil. “Kamu bahkan menyuruh kami memotretmu seolah-olah baru menerima mobil ini.” Kirana hanya tersenyum tipis. “Aku sebenarnya tidak keberatan kalian berfoto. Yang membuatku penasaran, kenapa kamu harus merendahkan orang lain untuk terlihat lebih tinggi?”
Belum sempat Selena menjawab, pintu mansion terbuka lebar. Ayah Selena, Surya Mahendra, keluar bersama beberapa tamu penting. Ia langsung melihat kerumunan di dekat supercar dan bertanya, “Ada apa di sini?” Selena buru-buru menghampirinya. “Papa, perempuan ini mengaku mobil itu miliknya!” Surya mengernyit, lalu menatap Kirana. Ekspresinya seketika berubah. Ia mengenali perempuan yang selama ini hanya dikenalnya melalui rapat perusahaan. “Nona Kirana?” katanya terkejut. Selena membeku. Surya segera menghampiri Kirana dan menjabat tangannya dengan hormat. “Saya tidak menyangka Anda datang sendiri. Saya baru saja menunggu perwakilan utama Adiprana Group.” Selena berbisik dengan suara gemetar, “Adiprana Group?” Kirana menatapnya. “Ya. Perusahaan yang minggu depan akan memutuskan apakah investasi untuk proyek keluargamu dilanjutkan atau tidak.” Kesombongan di wajah Selena benar-benar menghilang.
Surya menatap putrinya dengan wajah keras. “Selena, apa yang kamu lakukan?” Selena mulai panik. “Papa, aku cuma bercanda. Dia juga tidak bilang siapa dirinya!” Kirana menggeleng pelan. “Jadi seseorang harus punya nama besar dulu supaya pantas dihormati?” Kalimat itu membuat semua orang terdiam. Selena mencoba mendekat. “Kirana, dengar dulu. Aku tidak bermaksud—” Kirana memotongnya tanpa meninggikan suara. “Kamu bilang aku bahkan tidak mampu membeli satu roda mobil ini. Kamu mengusirku hanya karena pakaian dan sikapku tidak sesuai dengan bayanganmu tentang orang kaya.” Selena menunduk. Surya berkata tegas, “Minta maaf.” Untuk pertama kalinya sore itu, Selena tidak memiliki jawaban cepat. Ia melepas kacamata hitamnya sepenuhnya dan berkata lirih, “Kirana… aku minta maaf.” Kirana menjawab, “Aku menerima permintaan maafmu. Tapi menerima maaf tidak berarti melupakan pelajarannya.”
Kemudian Kirana mengeluarkan ponselnya. Selena terlihat semakin takut, mengira penghinaan tadi telah direkam dan akan disebarkan. “Kamu mau menghancurkan aku di media sosial?” tanyanya. Kirana justru menyerahkan ponsel itu kepada Pak Adrian. “Tidak. Aku tidak perlu mempermalukanmu seperti kamu mempermalukanku.” Selena terdiam. Kirana melanjutkan, “Tapi keputusan bisnis tetap harus dibuat berdasarkan karakter orang-orang yang akan kami percaya.” Surya langsung memahami maksudnya. “Nona Kirana, tolong jangan batalkan kerja sama karena kesalahan putri saya.” Kirana memandangnya beberapa saat sebelum berkata, “Saya tidak akan membatalkannya hari ini. Tim saya akan melakukan evaluasi ulang.” Surya menghela napas berat. Kirana kemudian menatap Selena. “Kesempatan kedua lebih berharga daripada mobil mahal. Aku ingin melihat apakah keluargamu pantas mendapatkannya.” Selena akhirnya mengangguk tanpa berani membantah. “Aku akan memperbaikinya.”
Kirana lalu berjalan kembali menuju supercar. Kali ini tidak seorang pun tertawa. Pak Adrian membuka pintu pengemudi untuknya, tetapi Kirana menghentikannya dengan gerakan halus. “Biar aku sendiri.” Ia mengambil kunci, sementara Selena berdiri beberapa meter darinya dengan mata berkaca-kaca. Sebelum masuk, Kirana berkata, “Selena, kamu boleh memiliki gaun termahal, pesta terbesar, bahkan seratus mobil seperti ini. Tapi kalau kamu kehilangan rasa hormat kepada orang lain, semua itu tidak membuatmu kaya.” Selena menelan ludah. “Kenapa kamu tidak langsung bilang mobil ini milikmu?” Kirana tersenyum. “Karena aku ingin tahu bagaimana kamu memperlakukanku ketika kamu mengira aku tidak punya apa-apa.” Celine dan Tasya saling menatap malu. Selena akhirnya berkata tulus, “Hari ini aku benar-benar kalah.” Kirana menggeleng. “Ini bukan soal menang atau kalah. Pastikan besok kamu menjadi orang yang berbeda.”
Mesin supercar menyala dengan suara dalam yang menggema di halaman mansion. Kirana menurunkan kaca sebelum pergi. Surya berdiri di samping putrinya, sementara para tamu menyaksikan perempuan yang beberapa menit sebelumnya dihina kini duduk di balik kemudi mobil yang menjadi sumber kesombongan Selena. Selena maju satu langkah. “Kirana!” Kirana menoleh. Dengan wajah penuh penyesalan, Selena berkata, “Terima kasih karena kamu tidak mempermalukanku di depan semua orang seperti yang kulakukan padamu.” Kirana menjawab, “Jangan berterima kasih kepadaku. Buktikan perubahanmu kepada orang berikutnya yang kamu anggap berada di bawahmu.” Selena mengangguk perlahan. Kirana lalu menjalankan mobil melewati gerbang mansion, diterpa cahaya keemasan matahari sore. Di kaca spion, ia melihat Selena masih berdiri diam, tetapi kali ini tanpa pose sombong dan tanpa tawa merendahkan. Kirana tersenyum dan berbisik, “Harga sebuah mobil bisa dihitung. Harga sebuah karakter terlihat saat kita merasa tidak ada yang bisa menghukum kita.” Supercar merah itu melaju menjauh, sementara Selena akhirnya memahami bahwa orang yang ia anggap paling tidak mampu justru telah memberinya pelajaran paling mahal dalam hidupnya.
Comments (0)
Loading comments...

















