13iutt Nadine Ternyata Masih Hidup di Dalam Peti… Tapi Kenapa Surya Begitu Ketakutan?

Suara teredam Nadine dari balik peti membuat seluruh ruangan duka berubah kacau. Dimas melempar palu ke lantai dan mencoba menarik tutup peti dengan kedua tangannya. “Kak Nadine! Aku di sini! Jangan takut!” teriaknya sambil menangis. Ratih ikut berlari, tetapi Surya tiba-tiba berdiri menghadang mereka. “Tidak ada yang membuka peti itu!” bentaknya. Semua pelayat menatapnya dengan tidak percaya. Ratih perlahan berbalik, wajahnya dipenuhi kecurigaan. “Surya… anakku masih hidup. Kenapa kamu justru melarang kami menyelamatkannya?” Surya terdiam. Dimas menunjuk retakan di peti. “Karena Om Surya sudah tahu, kan?” Ruangan langsung sunyi. Untuk pertama kalinya, wajah Surya benar-benar kehilangan seluruh ketenangannya.
Dua pengawal pribadi Surya bergerak maju, tetapi beberapa anggota keluarga langsung berdiri menghalangi mereka. Ratih berteriak, “Buka petinya sekarang!” Empat pria mengangkat tutup yang sudah retak. Begitu terbuka, Ratih menjerit melihat Nadine terbaring dengan mulut dilakban dan tangan terikat di bawah kain satin. Ia segera menarik lakban itu. Nadine terbatuk keras, menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu memeluk Dimas yang menangis di sisinya. “Kak… aku tahu Kakak belum mati!” Nadine menggenggam wajah adiknya. “Kamu menyelamatkan Kakak, Dimas.” Ratih memeluk putrinya sambil terisak, tetapi Nadine tiba-tiba menatap ke arah Surya. Ketakutan di matanya berubah menjadi kemarahan. Dengan suara lemah ia berkata, “Jangan biarkan dia pergi. Dia tahu siapa yang memasukkanku ke peti ini.”
Semua pandangan langsung beralih kepada Surya. Ia mencoba mundur menuju pintu, tetapi Dimas berdiri di depannya. “Kenapa Om takut?” tanyanya. Surya membentak, “Minggir! Kamu cuma anak kecil!” Nadine memaksakan diri duduk. “Tidak, Dimas. Jangan takut padanya lagi.” Ratih membantu menopangnya. Nadine lalu menatap para tamu. “Tiga malam lalu aku menemukan laporan transfer perusahaan. Ada miliaran rupiah yang dipindahkan ke rekening perusahaan palsu.” Surya menggeram, “Diam, Nadine!” Nadine justru tersenyum getir. “Itulah kenapa kamu memberiku obat dalam minuman, bukan?” Para pelayat mulai berbisik panik. Ratih menutup mulutnya. “Surya… kamu mencoba membunuh keponakanmu sendiri hanya karena dia mengetahui pencurianmu?” Surya menunjuk Nadine dengan tangan gemetar. “Kamu tidak punya bukti!”
Nadine tertawa lemah. “Justru karena aku tahu kamu akan mengatakan itu, aku menyimpan semuanya.” Ia memandang Dimas. “Mas, kalung Kakak.” Dimas mengambil liontin kecil dari leher Nadine. Di dalamnya ternyata tersembunyi kartu memori mungil. Surya langsung menerjang, tetapi dua kerabat menahannya. “Berikan itu kepadaku!” teriaknya. Dimas mundur dan menggenggam kartu itu erat. “Tidak!” Nadine menatap Surya tanpa berkedip. “Rekaman kamera kantor, laporan rekening, dan suara percakapanmu dengan dokter yang memalsukan surat kematianku semuanya ada di sana.” Surya membeku. Ratih menatapnya dengan jijik. “Jadi pemakaman ini bukan kesalahan medis.” Nadine menggeleng perlahan. “Tidak, Bu. Aku sengaja dibuat terlihat mati… supaya sebelum aku sadar, mereka bisa menguburku bersama semua bukti yang aku tahu.”
Suara sirene terdengar dari luar rumah duka. Surya menoleh panik. Beberapa petugas masuk bersama seorang penyidik. Ratih memandang Nadine terkejut. Nadine menjelaskan, “Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku mengirim pesan terjadwal kepada pengacaraku. Kalau aku tidak membatalkannya dalam dua puluh empat jam, semua bukti otomatis dikirim ke polisi.” Surya meronta saat tangannya diborgol. “Kalian tidak mengerti! Semua yang kulakukan untuk keluarga ini!” Nadine menatapnya dingin. “Tidak. Semua yang kamu lakukan untuk mempertahankan kekuasaanmu.” Surya kemudian menoleh kepada Dimas dengan penuh kebencian. “Kalau bukan karena anak itu—” Dimas memotongnya dengan suara bergetar tetapi tegas, “Kalau bukan karena aku, Kak Nadine sudah dikubur hidup-hidup.” Tidak seorang pun di ruangan itu mampu membantahnya.
Beberapa minggu kemudian, Nadine keluar dari rumah sakit dalam keadaan jauh lebih sehat. Kasus Surya mengguncang keluarga Wijaya dan dunia bisnis Jakarta. Dokter yang membantu memalsukan kematian Nadine akhirnya mengaku, sementara sejumlah eksekutif yang terlibat dalam pencurian dana perusahaan juga ditangkap. Suatu malam, Ratih duduk bersama Nadine dan Dimas di rumah keluarga. Ratih memegang tangan Dimas sambil berkata, “Maafkan Tante. Saat kamu bilang mendengar suara dari dalam peti, Tante hampir tidak mempercayaimu.” Dimas menunduk. “Aku juga takut aku salah.” Nadine tersenyum dan merangkulnya. “Tapi kamu tetap maju meskipun semua orang dewasa menyuruhmu berhenti.” Dimas menatap kakaknya. “Aku cuma nggak mau kehilangan Kakak.” Nadine mencium keningnya. “Dan karena kamu tidak menyerah, Kakak masih ada di sini.”
Beberapa bulan kemudian, Nadine kembali berdiri di kantor pusat Wijaya Group, kali ini sebagai pemimpin baru perusahaan setelah seluruh jaringan korupsi Surya dibersihkan. Dimas datang sepulang sekolah membawa sebuah palu mainan kecil yang dibungkus pita. “Buat Kak Nadine,” katanya sambil tersenyum nakal. Nadine tertawa untuk pertama kalinya tanpa ketakutan. “Kakak rasa satu keluarga kita sudah cukup trauma melihat palu.” Mereka tertawa, lalu Nadine memandang foto keluarga lama di dinding. Ratih bertanya pelan, “Kamu benar-benar sudah bisa memaafkan semuanya?” Nadine menggeleng. “Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi aku tidak akan membiarkan Surya mengubur hidupku dua kali—pertama di dalam peti, kedua di dalam rasa takut.” Ia kemudian menggenggam tangan Dimas. “Hari itu semua orang datang untuk menguburku. Tapi adikku datang untuk menyelamatkanku.” Dimas tersenyum. Nadine menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan berkata, “Selama masih ada seseorang yang berani mendengar suara kita, bahkan dari tempat paling gelap sekalipun… kebenaran tidak akan pernah bisa dikubur selamanya.”
Comments (0)
Loading comments...
















