Logo

12iutt Datang untuk Memberi Surpise, Alya Justru Memergoki Pengkhianatan di Ranjang Pernikahannya!

Article image

Alya berdiri membeku beberapa detik setelah kalimat terakhirnya menggantung di udara. Kue ulang tahun masih berada di tangannya, tetapi lilin kecil di atasnya kini tampak seperti ejekan. Raka menatapnya dengan rahang mengeras, sementara Keisha masih bersembunyi setengah langkah di belakang tubuh Raka. Alya akhirnya berjalan menuju meja marmer dan meletakkan kue itu perlahan, sangat hati-hati, seolah tidak ingin memberi mereka kepuasan melihat tangannya gemetar. “Tenang saja, Raka,” katanya sambil mengusap air mata terakhir di pipinya. “Aku tidak akan membuat keributan.” Raka menghela napas lega dan mencibir. “Bagus. Akhirnya kamu mengerti posisi kamu.” Alya tersenyum tipis. Senyum yang membuat Keisha justru merasa tidak nyaman. “Iya,” jawab Alya pelan. “Aku baru saja mengerti posisi kita semua.”

Raka mengira Alya akan pergi. Ia bahkan berbalik hendak menenangkan Keisha. Namun Alya mengeluarkan ponselnya dan mengirim satu pesan singkat. Keisha mulai gugup. “Kamu mau telepon siapa?” tanyanya. Alya menatapnya tanpa emosi. “Orang yang seharusnya tahu apa yang kalian lakukan di rumah ini.” Raka langsung mendekat. “Jangan bawa keluarga kita ke urusan rumah tangga!” Alya mengangkat alis. “Keluarga kita?” Ia tertawa kecil, pahit. “Lima menit lalu kamu bilang aku tidak punya hak apa pun di rumah ini.” Wajah Raka berubah. Alya melanjutkan, “Sayangnya, rumah ini dibeli memakai dana investasi ayahku. Perusahaan yang membuatmu disebut pengusaha sukses juga berdiri dari modal keluarga Wijaya.” Keisha perlahan melepaskan tangannya dari lengan Raka. “Raka… kamu bilang semuanya milik kamu.”

Belum sempat Raka menjawab, suara lift pribadi berbunyi dari ruang depan. Beberapa detik kemudian, ayah Alya, Surya Wijaya, masuk bersama pengacara keluarga dan dua orang staf keuangan. Raka langsung pucat. “Papa? Kenapa Papa ke sini?” Surya tidak menjawab pertanyaan itu. Pandangannya jatuh pada kotak hadiah yang ditendang di lantai, lalu pada Keisha yang berdiri di dekat ranjang. Alya berjalan mendekati ayahnya. “Pa, tadi Raka bilang aku tidak punya hak di rumah ini.” Surya menatap menantunya dengan wajah dingin. “Benarkah?” Raka mencoba tersenyum. “Pak, ini salah paham.” Surya melempar sebuah map ke meja. “Salah paham juga kalau selama delapan bulan kamu mengalihkan uang perusahaan ke rekening atas nama perempuan itu?” Keisha spontan menoleh tajam. “Delapan bulan? Kamu bilang uang itu dari bisnis pribadi!”

Ruangan langsung berubah menjadi medan perang. Raka mencoba merampas map tersebut, tetapi pengacara Surya segera menahannya. “Jangan sentuh dokumen ini.” Alya membuka beberapa lembar bukti transfer dan membaca nama Keisha berulang kali. Kini bukan hanya perselingkuhan yang terbongkar, tetapi juga pengkhianatan finansial. Raka mulai kehilangan kendali. “Alya, dengarkan aku! Aku bisa jelaskan semuanya.” Alya menatapnya lama. “Tadi aku meminta penjelasan ketika aku masih menjadi istrimu yang berharap kamu meminta maaf.” Ia meletakkan dokumen itu di dada Raka. “Sekarang aku tidak butuh penjelasan. Aku butuh tanda tanganmu.” Raka tertegun. “Tanda tangan apa?” Pengacara keluarga membuka map kedua. “Surat pemecatan Anda sebagai direktur utama dan dokumen gugatan cerai.”

Keisha langsung mundur beberapa langkah. “Raka… kamu bilang perusahaan itu milikmu!” Suaranya mulai meninggi. Raka berbalik dengan marah. “Diam, Keisha!” Namun perempuan itu tidak lagi tampak glamor dan percaya diri. Wajahnya penuh kepanikan. “Jangan bentak aku! Kamu sendiri yang bilang setelah menceraikan Alya, semua saham akan jatuh ke tanganmu!” Alya menatap Raka tanpa berkedip. Kalimat itu menjadi pukulan terakhir. “Jadi memang sudah direncanakan,” katanya pelan. Raka menyadari kesalahannya dan segera mendekat. “Alya, dia bohong!” Alya mengangkat telapak tangannya, menghentikannya. “Jangan dekat-dekat.” Surya menatap Raka dengan jijik. “Kamu mengkhianati anak saya, memakai uang keluarga kami untuk membiayai perempuan lain, lalu merencanakan mengambil perusahaan?” Raka mulai berkeringat. “Pak Surya, saya—” Surya memotong dingin. “Mulai hari ini, jangan panggil saya ‘Pak’ seolah kita masih keluarga.”

Beberapa jam kemudian, semua akses rekening perusahaan milik Raka dibekukan dan namanya dicopot dari jajaran direksi. Keisha yang sebelumnya berharap mendapatkan kehidupan mewah justru menjadi orang pertama yang meninggalkannya. Di depan lift, ia melempar gelang mahal pemberian Raka ke lantai. “Aku tidak mau ikut tenggelam bersama kamu!” bentaknya. Raka menatapnya tak percaya. “Keisha, setelah semua yang kulakukan untukmu?” Keisha tertawa sinis. “Yang kamu lakukan? Kamu bahkan tidak punya apa-apa tanpa Alya!” Pintu lift tertutup di depan wajah Raka. Saat ia berbalik, Alya sudah berdiri di ruang tamu membawa koper kecil. Raka mendekat dengan mata merah. “Alya… tolong. Kita bisa mulai lagi.” Alya menjawab tenang, “Aku datang ke rumah ini membawa kue karena ingin merayakan hidupmu. Tapi kamu justru menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”

Enam bulan kemudian, Alya berdiri di atas panggung sebuah acara bisnis besar di Jakarta sebagai CEO baru Wijaya Holdings. Di layar belakangnya terpampang laporan pertumbuhan perusahaan setelah restrukturisasi. Surya duduk di barisan depan dengan mata berkaca-kaca. Seusai acara, Alya berjalan keluar menuju lobi dan mendapati Raka berdiri di sana dengan setelan sederhana, wajah jauh lebih lelah dari terakhir kali mereka bertemu. “Alya,” panggilnya pelan. “Aku cuma ingin bilang… aku menyesal.” Alya berhenti, tetapi tidak ada lagi kemarahan di wajahnya. “Aku percaya kamu menyesal, Raka.” Mata Raka berbinar penuh harapan. Namun Alya melanjutkan, “Tapi penyesalanmu bukan tiket untuk kembali ke hidupku.” Raka terdiam. Alya tersenyum tipis lalu berjalan melewatinya. Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh sekali lagi. “Dulu kamu menendang hadiahku seolah aku tidak berarti apa-apa. Sekarang aku justru berterima kasih.” Raka mengernyit. Alya menatapnya dengan tenang. “Karena malam itu, kamu tidak menghancurkan hidupku. Kamu membebaskanku.” Pintu mobil tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu, Alya pergi tanpa air mata—hanya dengan senyum seorang perempuan yang akhirnya memilih dirinya sendiri.



Comments (0)

Loading comments...