Logo

12in-Dia Menendang Istrinya Turun dari Tangga dan Mencium Selingkuhannya… Beberapa Detik Kemudian, Konvoi Mewah Datang!

Article image


Pintu belakang sedan hitam terbuka sepenuhnya. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun dengan langkah tenang di bawah payung yang dibawakan pengawal. Raka langsung kehilangan warna wajah. Bibirnya bergerak tanpa suara sebelum akhirnya berbisik, “Pak Surya Pramesti…” Cinta mencengkeram lengannya. “Raka, itu siapa sebenarnya?” Raka menelan ludah. “Ketua Pramesti Group… pemilik perusahaan yang selama ini membiayai seluruh proyekku.” Surya tidak memandang mereka. Ia berjalan menembus hujan menuju Alya yang masih berdiri dengan satu tangan melindungi perutnya. Begitu melihat pipi putrinya memerah dan gaunnya kotor setelah jatuh, ekspresinya berubah membeku. “Alya, siapa yang melakukan ini?” Alya mengangkat matanya dan menjawab pelan, “Suamiku sendiri, Ayah.”

Raka langsung berlari mendekat. “Pak Surya, jangan percaya begitu saja! Alya sedang emosi. Ini hanya masalah rumah tangga!” Surya akhirnya menatapnya. “Masalah rumah tangga? Menampar istri yang sedang hamil delapan bulan lalu menendangnya di tangga kamu sebut masalah rumah tangga biasa?” Raka tersentak. “Saya kehilangan kendali, Pak. Saya menyesal.” Surya memberi isyarat kecil kepada salah satu pengawalnya. Pria itu mengangkat tablet berisi rekaman kamera mansion: tamparan, tendangan, Alya jatuh sambil memeluk perutnya, kemudian Raka memeluk dan mencium Cinta di depannya. Cinta langsung mundur. “Saya tidak tahu Alya putri Bapak!” katanya panik. Surya menatapnya tajam. “Jadi kalau dia bukan putriku, kalian merasa bebas memperlakukannya seperti sampah?” Tidak seorang pun mampu menjawab.

Alya perlahan melepas cincin pernikahannya. Hujan menetes dari rambutnya ketika ia berjalan mendekati Raka. “Tadi kamu bilang aku tua, jelek, bengkak, dan tidak ada yang menginginkanku.” Raka menggeleng cepat. “Alya, aku cuma marah! Aku tidak bermaksud—” Alya meletakkan cincin itu ke telapak tangannya. “Tidak. Saat seseorang marah, dia mungkin mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi kamu memilih menghina tubuh yang sedang membawa anakmu, lalu menendangku ketika aku tidak mampu melawan. Itu bukan kehilangan kendali. Itu karakter.” Raka mulai menangis. “Demi bayi kita, beri aku kesempatan!” Alya menatapnya lama. “Justru demi bayi ini aku tidak akan kembali. Aku tidak mau anakku tumbuh sambil belajar bahwa seorang laki-laki boleh menyakiti perempuan lalu meminta maaf ketika takut kehilangan segalanya.”

Cinta tiba-tiba melepaskan tangan Raka. “Aku pergi. Aku tidak mau terseret dalam masalah kalian.” Raka langsung menoleh marah. “Kamu mau meninggalkanku sekarang? Setelah semua yang kulakukan untukmu?!” Cinta membalas, “Kamu bilang Alya tidak punya siapa-siapa! Kamu bilang rumah ini segera menjadi milikmu!” Alya tersenyum pahit. “Jadi itu rencananya? Menyingkirkanku lalu mengambil semuanya?” Raka berteriak, “Jangan dengarkan dia!” Tetapi Cinta sudah kehilangan keberaniannya untuk melindungi Raka. “Dia janji setelah anak itu lahir, dia akan menceraikanmu dan memindahkan aset atas namanya.” Surya menoleh kepada pengacara keluarga yang baru turun dari SUV. “Catat semuanya. Besok pagi semua aset bersama dibekukan sampai audit selesai.” Raka pucat. “Pak Surya, jangan hancurkan hidup saya!” Surya menjawab dingin, “Saya belum melakukan apa pun. Kamu sendiri yang menghancurkannya.”

Alya kemudian memandang Cinta. “Aku tidak akan menyentuhmu atau membalas penghinaanmu. Tapi keluar dari rumah ini dan jangan pernah mendekati anakku.” Cinta menangis. “Alya, maafkan aku. Aku hanya percaya pada Raka.” Alya menggeleng. “Kamu melihat seorang perempuan hamil jatuh setelah ditendang, lalu kamu tetap berdiri di samping laki-laki yang melakukannya dan menertawakannya. Jangan menyebut dirimu korban.” Cinta menundukkan kepala dan berjalan pergi sendirian di bawah hujan. Raka mencoba mengejarnya, tetapi Surya berkata, “Tetap di sana.” Raka berhenti seketika. Surya mendekat. “Mulai malam ini, jabatanmu di perusahaan ditangguhkan sampai investigasi selesai. Dan kalau hasilnya membuktikan kamu menyalahgunakan aset atau posisi, kamu akan kehilangan lebih dari pernikahanmu.” Raka berbisik putus asa, “Saya sudah bekerja bertahun-tahun untuk semua ini.” Surya menjawab, “Sayang sekali kamu menghancurkannya dalam beberapa menit.”

Beberapa bulan kemudian, Alya melahirkan seorang bayi laki-laki sehat. Saat Surya menggendong cucunya, Alya tersenyum sambil menangis. “Ayah, aku takut suatu hari anak ini bertanya kenapa ayahnya tidak tinggal bersama kami.” Surya duduk di samping tempat tidurnya. “Jawab dengan jujur. Katakan ibunya memilih keselamatan dan harga dirinya daripada mempertahankan rumah tangga yang sudah kehilangan rasa hormat.” Perceraian Alya dan Raka selesai tidak lama setelah itu. Audit perusahaan juga menemukan sejumlah penyalahgunaan dana yang membuat Raka kehilangan posisi eksekutifnya. Ketika ia datang suatu hari untuk meminta kesempatan kedua, ia berkata, “Alya, aku sudah kehilangan semuanya. Apakah belum cukup?” Alya menjawab, “Kehilangan jabatan bukan penebusan. Kalau kamu ingin menjadi ayah yang pantas, berubah karena anakmu, bukan karena ingin mendapatkanku kembali.”

Setahun kemudian, Alya berdiri di taman rumah ayahnya sambil menggendong putranya yang mulai belajar berjalan. Raka datang untuk kunjungan yang telah diatur secara resmi. Ia terlihat jauh lebih sederhana dan tidak lagi membawa kesombongan lama. “Aku sedang mengikuti konseling. Aku tahu satu tahun tidak menghapus apa yang kulakukan, tapi aku ingin anak kita mengenal versi diriku yang lebih baik.” Alya menatapnya lama lalu berkata, “Aku tidak berjanji akan memaafkan semuanya, tapi aku akan menghargai perubahan yang nyata. Jangan sia-siakan kesempatan ini.” Raka mengangguk. “Aku tidak akan.” Ketika bayi itu mengulurkan tangan ke arahnya, Raka menangis untuk pertama kalinya tanpa memikirkan harga diri. Alya lalu menatap langit Jakarta yang cerah setelah hujan dan berbisik kepada anaknya, “Ingat suatu hari nanti, Nak: cinta tanpa rasa hormat bukan cinta. Dan seorang perempuan tidak pernah harus bertahan di tempat yang menghancurkan martabatnya hanya demi terlihat memiliki keluarga yang sempurna.”

Comments (0)

Loading comments...