Logo

11ti-JANGAN MINUM ANGGUR ITU!

Article image

Citra mundur satu langkah ketika gelas anggur itu tetap terulur di antara mereka. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini pucat seperti kehilangan darah. Para tamu hanya mendengar desir ombak dan napasnya yang berat. Surya tidak bergerak sedikit pun. “Kenapa kau takut, Citra?” tanyanya dingin. Citra memaksakan senyum. “Aku tidak takut. Aku hanya… tidak minum anggur.” Raka langsung menatapnya tajam. “Lima menit lalu kau sendiri yang menuangkan anggur itu untuk Pak Surya.” Kalimat itu menghantam suasana seperti petir. Citra menoleh panik ke meja, seolah mencari jalan keluar, tetapi Surya perlahan meletakkan gelas tersebut di atas meja tanpa meminumnya. “Tidak ada seorang pun meninggalkan kapal ini,” perintahnya. “Kapten, kunci akses menuju dermaga.”

Citra tiba-tiba menunjuk Raka. “Dia berbohong! Dia hanya pelayan yang ingin menghancurkan hubungan kita!” Surya menatap Raka tanpa emosi. “Kalau begitu, jelaskan semuanya.” Raka menarik napas, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. “Tiga malam lalu saya mendengar Bu Citra berbicara dengan seseorang di dek bawah. Saya tidak sengaja merekam sebagian percakapannya.” Rekaman diputar. Suara Citra terdengar jelas: Setelah dia minum, semuanya selesai. Jangan hubungi aku lagi. Para tamu langsung gempar. Citra menerjang hendak merebut ponsel itu. “Matikan! Itu palsu!” Namun dua petugas keamanan menghadangnya. Surya menatap perempuan yang selama dua tahun dipercayainya itu dengan mata membeku. “Jadi selama ini kau tidak mencintaiku?” Citra berteriak, “Aku mencintaimu!” Surya menjawab pelan, “Orang yang mencintai seseorang tidak merencanakan kematiannya.”

Namun kejutan yang lebih besar datang ketika kepala keamanan membawa seorang pria dari ruang mesin. Pria itu adalah Danu, dokter pribadi Surya selama hampir sepuluh tahun. Citra langsung gemetar. “Danu… kenapa kau di sini?” Surya menoleh tajam. “Kalian saling mengenal?” Danu menundukkan kepala. “Maafkan saya, Pak. Citra membayar saya untuk mengganti obat jantung Bapak beberapa bulan terakhir.” Surya terdiam. Raka mengepalkan tangan. “Jadi bukan hanya anggur ini?” Danu menggeleng. “Tidak. Rencananya membuat kesehatan Pak Surya memburuk perlahan. Hari ini seharusnya menjadi tahap terakhir.” Citra menjerit, “Pembohong! Semua itu idemu!” Danu membalas, “Kau menjanjikan dua puluh miliar setelah warisan jatuh ke tanganmu!” Seketika seluruh tamu memahami bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah rencana pembunuhan yang sudah disusun berbulan-bulan.

Surya kemudian mengambil sebuah map dari sekretaris pribadinya. “Ada satu hal yang tidak kau ketahui, Citra.” Citra menatapnya dengan napas tersengal. “Apa?” Surya membuka dokumen itu. “Aku tidak pernah memasukkan namamu sebagai ahli waris.” Mata Citra membelalak. Surya melanjutkan, “Aku memang sengaja memberitahumu bahwa setelah pernikahan, sebagian besar saham akan menjadi milikmu. Aku ingin melihat apakah kau mencintaiku atau hartaku.” Citra kehilangan kendali. “Jadi kau menjebakku?!” Surya menggeleng. “Tidak. Aku memberimu pilihan. Kau sendiri yang memilih pengkhianatan.” Kemudian Surya menunjuk Raka. “Dan orang yang kau sebut pelayan ini adalah orang yang baru saja menyelamatkan hidupku.” Raka menunduk. “Saya tidak butuh hadiah, Pak. Saya hanya tidak bisa diam melihat seseorang dibunuh.”

Polisi laut akhirnya naik ke kapal bersama tim penyidik. Gelas anggur diamankan sebagai barang bukti. Beberapa menit kemudian, seorang petugas mendekati Surya. “Pak Surya, pemeriksaan awal menunjukkan adanya zat berbahaya di dalam minuman itu.” Citra langsung jatuh terduduk. “Tidak… itu tidak mungkin.” Surya memandangnya tanpa belas kasihan. “Tadi kau mengatakan kau tidak takut meminumnya.” Citra menangis dan mencoba meraih tangan Surya. “Surya, tolong. Aku khilaf. Aku melakukan semua ini karena takut kehilangan masa depanku.” Surya menarik tangannya. “Kau bukan takut kehilangan masa depan. Kau takut kehilangan kekayaan.” Polisi memborgol Citra dan Danu. Sebelum dibawa pergi, Citra berteriak, “Aku melakukan semuanya karena kau tidak pernah benar-benar mempercayaiku!” Surya menjawab, “Hari ini kau membuktikan bahwa kecurigaanku adalah satu-satunya alasan aku masih hidup.”

Ketika kapal kembali tenang, Surya memanggil Raka ke ruang utama. “Kenapa kau mempertaruhkan hidupmu untukku?” Raka terdiam lama sebelum menjawab, “Karena ayah saya pernah bekerja untuk Bapak.” Surya mengernyit. Raka mengeluarkan sebuah foto lama. “Namanya Bagus Santoso. Dua belas tahun lalu dia dituduh mencuri uang perusahaan Bapak. Dia meninggal membawa nama buruk itu.” Wajah Surya berubah. “Bagus… ayahmu?” Raka mengangguk. “Saya datang bekerja di kapal ini untuk mencari bukti bahwa dia tidak bersalah. Tetapi ketika mengetahui rencana Citra, saya memilih menyelamatkan Bapak lebih dulu.” Surya menatap foto tersebut dengan penyesalan. “Ayahmu memang tidak bersalah. Aku menemukan bukti itu beberapa tahun kemudian, tetapi aku terlambat mencarinya.” Mata Raka berkaca-kaca. “Jadi nama ayah saya bisa dibersihkan?” Surya menjawab tegas, “Bukan hanya bisa. Aku sendiri yang akan mengumumkannya.”

Beberapa bulan kemudian, nama Bagus Santoso dipulihkan secara resmi di hadapan seluruh direksi perusahaan Surya. Semua kompensasi yang seharusnya diterima keluarganya dikembalikan, sementara Citra dan Danu dijatuhi hukuman setelah bukti percobaan pembunuhan, manipulasi obat, dan transaksi mereka terungkap. Di balkon kantor pusatnya, Surya menyerahkan sebuah kartu akses kepada Raka. “Mulai hari ini, kau bukan lagi staf kapal.” Raka melihat kartu bertuliskan Direktur Keamanan dan Integritas. “Pak, saya tidak pantas menerima jabatan sebesar ini.” Surya tersenyum tipis. “Orang yang berani menghentikan seorang miliarder ketika semua orang lain memilih diam adalah orang yang paling kubutuhkan.” Raka menerima kartu itu, lalu berkata, “Saya akan menerimanya dengan satu syarat.” Surya mengangkat alis. “Apa?” Raka menatapnya mantap. “Tidak ada lagi orang kecil yang dikorbankan demi melindungi orang berkuasa.” Surya mengulurkan tangan. “Sepakat.” Mereka berjabat tangan, dan untuk pertama kalinya sejak tragedi di yacht, Surya tersenyum lega. Pengkhianatan Citra hampir merenggut hidupnya, tetapi justru membuka kebenaran lama, membersihkan nama seorang ayah, dan mengubah seorang pemuda sederhana menjadi orang yang paling dipercaya di kerajaan bisnis Surya.

Comments (0)

Loading comments...