Logo

10iutt Maya Mengusir Bocah yang Mengaku Anaknya… Sampai Sebuah Foto Lama Membongkar Kebohongannya

Article image

Maya menatap foto itu dengan wajah pucat, lalu perlahan mengangkat mata kepada Raka. “Dari mana kamu mendapatkan foto ini?” suaranya bergetar. Raka menggenggam ujung jaket lusuhnya. “Dari perempuan yang membesarkan saya. Sebelum meninggal, dia bilang saya harus mencari Ibu.” Arman langsung menatap Maya tajam. “Jadi kamu memang mengenalnya?” Maya menelan ludah, tetapi Raka lebih dulu berkata, “Nama saya Raka Kusumawardani. Itu nama yang tertulis di belakang foto.” Tubuh Maya seolah kehilangan tenaga. “Tidak… nama itu sudah dikubur sepuluh tahun lalu.” Raka menatapnya dengan mata basah. “Saya tidak pernah mati, Bu. Saya hanya dibuang dari hidup Ibu.”

Seluruh ballroom mendadak sunyi ketika Arman membalik foto itu. Di belakangnya terdapat tulisan tangan lama: Untuk Raka, putraku. Maafkan Ibu. Arman mengangkat foto tersebut di depan Maya. “Tulisan ini milikmu, bukan?” Maya akhirnya menangis. “Ya.” Para tamu mulai saling berbisik. Raka bertanya dengan suara pecah, “Kalau begitu kenapa tadi Ibu bilang tidak mengenal saya?” Maya menutup wajahnya sesaat. “Karena aku takut.” Raka menggeleng. “Takut pada anak sendiri?” Maya menjawab, “Bukan padamu. Aku takut pada keluarga yang pernah mengambilmu dariku.” Arman langsung menyela, “Siapa yang mengambilnya?” Maya menatap ke arah pintu ballroom. “Ayahku sendiri.”

Maya akhirnya mengaku bahwa bertahun-tahun sebelumnya keluarga Kusumawardani menolak kelahiran Raka karena ayah kandungnya berasal dari keluarga biasa dan kemunculan Raka dianggap mengancam pembagian warisan. “Ayah memaksaku menandatangani surat penyerahan hak asuh,” katanya sambil menangis. “Dia berkata, kalau aku melawan, hidupmu akan dibuat lebih buruk.” Raka mengepalkan tangan. “Jadi Ibu memilih diam?” Maya mengangguk penuh malu. “Aku pengecut.” Arman bertanya tajam, “Lalu kenapa kamu percaya dia sudah mati?” Maya menjawab, “Tiga tahun setelah mereka membawanya, aku menerima surat kematian dan abu yang katanya milik Raka.” Raka menatapnya tanpa berkedip. “Dan Ibu tidak pernah memastikan?” Maya berbisik, “Itulah dosa terbesar dalam hidupku.”

Tiba-tiba seorang pria tua yang sejak tadi berada di antara tamu berbalik hendak pergi. Maya langsung menunjuknya. “Paman Surya! Jangan bergerak!” Arman menghadangnya sebelum mencapai pintu. Surya, pengacara lama keluarga Kusumawardani, mencoba tersenyum. “Maya, jangan membuat keributan di depan tamu.” Raka mengeluarkan sebuah amplop kusut dari jaketnya. “Ibu asuh saya menyimpan ini.” Di dalamnya terdapat salinan dokumen pemindahan Raka ke sebuah yayasan di luar Jakarta dengan tanda tangan Surya. Arman membaca cepat lalu menatapnya. “Kau yang mengurus semua ini?” Surya membentak, “Aku hanya menjalankan perintah!” Maya maju selangkah. “Dan siapa yang membuat surat kematian palsu?” Surya terdiam. Diamnya menjadi jawaban.

Maya berdiri di tengah pesta ulang tahunnya sendiri, tidak lagi peduli pada tatapan para sosialita. “Dengarkan semuanya!” serunya. “Anak yang baru saja saya hina adalah putra saya.” Para tamu terdiam. Raka terlihat terpukul mendengar pengakuan itu akhirnya keluar. Maya melepas gelang berlian dari tangannya dan meletakkannya di meja. “Selama bertahun-tahun saya menjaga nama keluarga ini lebih keras daripada saya mencari anak saya. Malam ini semuanya berakhir.” Surya memperingatkan, “Kalau kau membuka kasus lama itu, reputasi keluarga Kusumawardani hancur!” Maya menatapnya dingin. “Kalau reputasi itu dibangun di atas seorang anak yang dibuang, biarkan hancur.” Arman tersenyum tipis. “Sekarang baru terdengar seperti seorang ibu.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan membuktikan dokumen kematian Raka memang dipalsukan untuk menghilangkan hak warisnya. Maya mengembalikan identitas hukumnya, tetapi Raka tidak langsung bersedia tinggal bersamanya. Di halaman rumah sederhana tempat ibu asuhnya pernah merawatnya, Maya bertanya, “Apa yang harus Ibu lakukan supaya kamu mau memaafkan Ibu?” Raka menjawab, “Jangan beli rumah untuk saya. Jangan kasih saya uang. Jangan jadikan saya pewaris hanya karena merasa bersalah.” Maya menangis. “Lalu apa yang kamu inginkan?” Raka menatapnya lama. “Datanglah besok. Lalu lusa. Dan hari setelahnya. Buktikan Ibu tidak akan meninggalkan saya lagi.” Maya menggenggam tangannya perlahan. “Kalau perlu sepanjang hidup, Ibu akan datang.”

Setahun kemudian, ballroom yang dulu menjadi tempat Maya menyangkal Raka kembali dipenuhi tamu. Namun kali ini bukan pesta ulang tahun, melainkan peluncuran Yayasan Raka, lembaga perlindungan anak-anak yang kehilangan keluarga dan identitas. Maya berdiri di samping Raka, sementara Arman tersenyum dari barisan depan. Maya berkata, “Dulu, di ruangan ini, saya lebih takut kehilangan harga diri daripada kehilangan anak saya untuk kedua kalinya.” Raka menatapnya lalu berkata, “Sekarang Ibu sudah tahu mana yang lebih berharga?” Maya menggenggam tangannya. “Iya. Keluarga bukan nama besar, bukan warisan, bukan pesta mewah. Keluarga adalah orang yang tetap kamu cari bahkan ketika seluruh dunia menyuruhmu melupakan.” Raka akhirnya memeluknya. “Kalau begitu… selamat datang kembali, Ibu.”









Comments (0)

Loading comments...