Logo

09iutt Semua Mengira Dia Hanya Gelandangan… Sampai Selina Berbisik, “Tidak Mungkin…”

Article image

Selina menatap Raka seolah melihat seseorang yang seharusnya sudah lama hilang. Tangannya gemetar hebat. “Kamu… Raka?” bisiknya. Remaja itu mengangkat wajah lebih tinggi, menahan sakit. “Jadi Ibu masih ingat nama saya.” Kalimat itu membuat Selina mundur hingga menabrak kursi. Arya menatap keduanya bergantian. “Ibu kenal Kak Raka?” Selina tidak menjawab. Raka justru tersenyum getir. “Tanyakan kenapa tujuh tahun lalu aku tiba-tiba menghilang dari rumah.” Seluruh meja mendadak sunyi. Selina berbisik, “Aku pikir kamu sudah…” Raka memotong tajam, “Mati? Itu yang mereka katakan kepada Ibu, kan?” Wajah Selina langsung pucat.

Arya bergerak mendekati Raka, tetapi Selina refleks menahan bahunya. “Jangan dekat-dekat dulu!” Raka tertawa lemah. “Masih takut aku mengotori keluarga ini?” Selina tersentak. “Bukan begitu.” Raka membuka bagian dalam hoodie-nya dan mengeluarkan sebuah gelang identitas tua bertuliskan nama keluarga Wiratama. Arya langsung menatap ibunya. “Kenapa dia punya itu?” Selina akhirnya kehilangan kekuatan untuk berdiri tegak. “Karena… Raka adalah kakakmu.” Arya membeku. “Kakak saya?” Raka menatap Selina dengan mata basah. “Akhirnya Ibu mengaku juga.” Selina berbisik, “Aku tidak pernah membuangmu.” Raka membalas, “Tapi selama tujuh tahun, Ibu juga tidak pernah menemukanku.”

Selina kemudian memerintahkan semua tamu menjauh dan membawa Raka ke ruang privat hotel. Di sana, ia menggenggam kedua tangannya. “Hari kecelakaan itu, mobilmu ditemukan hancur. Polisi mengatakan tidak mungkin ada yang selamat.” Raka menggeleng. “Aku selamat. Tapi seseorang datang lebih dulu sebelum polisi menemukan aku.” Ia mengeluarkan kartu nama lusuh milik seorang pria bernama Bastian Wiratama—adik Selina sekaligus direktur perusahaan keluarga. “Paman Bastian bilang Ibu tidak menginginkanku lagi. Dia mengirimku jauh dan mengambil semua dokumenku.” Selina langsung berdiri. “Bastian?” Raka menatapnya tajam. “Dia bilang selama aku hidup, aku tetap pewaris pertama keluarga Wiratama.” Arya berbisik, “Jadi semua ini… soal warisan?”

Belum sempat Selina menjawab, pintu ruang privat terbuka. Bastian masuk dengan wajah tegang. “Selina, jangan percaya anak itu.” Raka langsung berdiri meski tubuhnya lemah. “Masih ingat aku, Paman?” Bastian membeku sesaat sebelum berkata, “Kau seharusnya tidak kembali.” Kalimat itu membuat Selina menatapnya dengan ngeri. “Apa maksudmu ‘tidak seharusnya kembali’?” Bastian mencoba pergi, tetapi keamanan hotel menutup pintu. Raka mengeluarkan ponsel tua dan memutar rekaman suara. Suara Bastian terdengar jelas: “Selama Raka hilang, seluruh hak waris akan jatuh kepada Arya dan aku bisa mengendalikan semuanya.” Selina berteriak, “Kau mengambil anakku dariku demi saham?!” Bastian membalas, “Aku menyelamatkan perusahaan dari anak yang tidak pantas memimpinnya!”

Arya tiba-tiba berdiri di depan Raka. “Jangan bicara tentang kakakku seperti itu!” Selina menatap putra kecilnya dengan air mata mengalir. Bastian mengejek, “Kau bahkan baru mengenalnya lima menit.” Arya menjawab, “Lima menit cukup untuk tahu dia lapar, terluka, dan tetap tidak meminta apa pun dari kita.” Raka menunduk, terharu. Selina kemudian menatap Bastian. “Selama bertahun-tahun aku percaya anakku mati. Kau membiarkanku berziarah ke makam kosong.” Bastian berkata dingin, “Itu harga untuk menjaga nama keluarga.” Selina melepas cincin keluarga dari jarinya dan melemparkannya ke meja. “Kalau nama Wiratama dibangun dengan menghancurkan anakku, aku tidak menginginkan nama itu lagi.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan membuktikan Bastian memalsukan laporan kecelakaan, identitas, serta menggunakan jaringan yayasan keluarga untuk menyembunyikan Raka. Selina mendatangi kamar rumah sakit tempat Raka dirawat. “Aku tahu kata maaf tidak cukup,” katanya. Raka menjawab, “Aku tidak butuh uang atau warisan.” Selina duduk di sampingnya. “Lalu apa yang kamu mau?” Raka menatapnya lama. “Aku ingin tahu kenapa dulu Ibu lebih percaya laporan orang lain daripada mencari aku sendiri.” Selina menangis. “Karena aku pengecut. Aku menerima jawaban yang paling mudah saat seharusnya aku terus mencarimu.” Arya menggenggam tangan kakaknya. “Kalau Kak Raka belum bisa memaafkan Ibu, tidak apa-apa. Tapi jangan pergi lagi.” Raka akhirnya tersenyum kecil. “Aku tidak akan pergi.”

Setahun kemudian, di ballroom yang sama, Selina mengadakan acara amal untuk remaja terlantar. Kali ini Raka berdiri di samping Arya, sehat dan rapi, tetapi tanpa kemewahan berlebihan. Selina naik ke panggung lalu berkata, “Dulu aku mengusir seorang anak dari meja hanya karena pakaiannya kotor. Ternyata anak itu adalah putraku sendiri.” Raka menatapnya tenang. “Ibu, jangan jadikan aku alasan untuk merasa bersalah selamanya.” Selina bertanya, “Lalu apa yang harus Ibu lakukan?” Raka menunjuk puluhan anak yang duduk di ruangan. “Pastikan tidak ada lagi anak yang harus membuktikan siapa keluarganya sebelum layak diberi makan.” Arya tersenyum. Selina mengangguk sambil menangis. “Mulai hari ini, meja keluarga kita cukup besar untuk siapa pun yang membutuhkan tempat.”














Comments (0)

Loading comments...