Logo

08iutt Nadia Menghancurkan Peti di Depan Semua Orang… Tapi Reaksi Ratna Jauh Lebih Mencurigakan

Article image

 

Darma menatap Nadia dengan napas memburu. “Katakan sekali lagi… anak saya benar-benar masih hidup?” Nadia mengangguk sambil menangis. “Saya melihatnya sendiri tadi malam, Pak. Dia dibawa keluar lewat garasi belakang sebelum peti ini ditutup.” Semua mata langsung beralih kepada Ratna. Perempuan tua itu mundur satu langkah, tetapi Darma menghadangnya. “Ibu tahu soal ini?” Ratna mencoba mempertahankan ketenangannya. “Jangan percaya pembantu itu. Dia sedang panik.” Nadia membalas, “Kalau saya bohong, kenapa Ibu Ratna langsung ketakutan saat saya bilang pemakaman ini palsu?” Darma menatap ibunya tajam. “Mulai sekarang, tak seorang pun keluar dari rumah ini sampai saya tahu di mana anak saya.”

Nadia kemudian mengeluarkan ponsel lamanya dari saku apron. “Saya punya bukti.” Ia membuka rekaman pendek yang dibuatnya diam-diam di koridor servis. Dalam video terlihat dua pria membawa seorang anak yang terbungkus selimut menuju mobil hitam. Wajah anak itu tidak terlihat, tetapi terdengar suara lemah memanggil, “Ayah…” Lutut Darma hampir goyah. “Itu suaranya.” Ratna segera berteriak, “Matikan rekaman itu!” Darma menoleh perlahan. “Kenapa Ibu ingin rekaman ini dimatikan?” Ratna tak mampu menjawab. Nadia berkata, “Saya mengikuti mobil itu sampai sebuah vila tua di Puncak. Saya kembali karena saya tahu kalau saya pergi sendiri, mereka akan memindahkannya lagi.” Darma langsung memanggil kepala keamanan. “Siapkan mobil. Kita berangkat sekarang.”

Di perjalanan, Darma terus menuntut jawaban dari Ratna yang akhirnya ikut dibawa bersama mereka. “Kenapa anak saya harus disembunyikan?” Ratna akhirnya pecah. “Karena dokter menemukan sesuatu tentang garis keturunannya!” Darma menatapnya tak percaya. Ratna melanjutkan, “Ayahmu dulu membuat perjanjian keluarga. Anak pertama yang mewarisi kondisi tertentu tidak boleh menjadi penerus perusahaan. Dewan lama ingin menyingkirkannya sebelum hasil medis itu diketahui publik.” Darma menghantam sandaran kursi. “Jadi kalian membuat pemakaman palsu hanya demi saham?” Ratna menangis. “Aku pikir mereka hanya akan menyembunyikannya sementara!” Darma menjawab dingin, “Seorang anak kehilangan ayahnya bukan ‘sementara’. Dan seorang ayah yang menguburkan peti kosong tidak akan pernah melupakan hari ini.”

Ketika mereka tiba di vila, Nadia langsung menunjukkan pintu belakang yang pernah dilihatnya. Darma menerobos masuk bersama keamanan. Dari kamar paling ujung terdengar suara kecil memanggil, “Ayah?” Darma membeku, lalu berlari. Di sana, putranya terbaring lemah tetapi hidup, ditemani seorang perawat yang ketakutan. Darma memeluknya sambil menangis. “Ayah di sini. Ayah datang.” Anak itu berbisik, “Mereka bilang Ayah sudah tidak mau melihatku.” Darma menggenggam tangannya erat. “Jangan pernah percaya itu. Tidak ada satu hari pun Ayah berhenti mencintaimu.” Di belakang mereka, Ratna menangis tanpa suara. Nadia menatapnya dan berkata, “Inilah yang hampir hilang hanya karena orang dewasa lebih takut kehilangan kekuasaan daripada kehilangan keluarga.”

Penyelidikan internal kemudian membongkar semuanya. Beberapa anggota dewan keluarga ternyata bekerja sama dengan dokter pribadi lama untuk memalsukan laporan kematian dan memindahkan anak Darma. Ratna bukan dalang utama, tetapi ia mengaku mengetahui rencana itu dan memilih diam. “Aku takut keluarga ini hancur,” katanya di hadapan Darma. Darma menjawab, “Keluarga ini hampir hancur justru karena kebohongan Ibu.” Ratna menunduk. “Apakah kau masih bisa memaafkanku?” Darma terdiam lama. “Sebagai anak, mungkin suatu hari. Sebagai ayah, saya belum bisa.” Ia kemudian menyerahkan seluruh bukti kepada pihak berwenang dan mencopot orang-orang yang terlibat dari perusahaan. “Mulai hari ini, nama Wiratama tidak lagi lebih penting daripada nyawa siapa pun.”

Beberapa hari setelah putranya pulang, Darma mencari Nadia yang sedang mengemas barang di kamar pelayan. “Kenapa kamu mau pergi?” tanyanya. Nadia menjawab, “Saya sudah menghancurkan peti keluarga Bapak. Saya pikir tugas saya selesai.” Darma menggeleng. “Tidak. Kamu menghancurkan kebohongan yang hampir menghancurkan hidup saya.” Ia menyerahkan sebuah amplop. Nadia mundur. “Saya tidak melakukan itu demi uang.” Darma tersenyum tipis. “Saya tahu. Itu beasiswa. Kamu bilang dulu ingin kuliah keperawatan, kan?” Nadia terkejut. “Bagaimana Bapak tahu?” Darma menjawab, “Anak saya cerita. Katanya kamu satu-satunya orang yang menenangkannya ketika dia takut.” Nadia menangis. “Kalau begitu saya terima, bukan sebagai hadiah… tapi sebagai kesempatan.”

Setahun kemudian, Darma kembali memasuki ruang duka yang sama, tetapi kali ini tidak ada peti mati. Ruangan itu telah diubah menjadi aula yayasan perlindungan anak milik keluarga Wiratama. Putranya berdiri sehat di sampingnya, sementara Nadia hadir sebagai mahasiswa keperawatan penerima beasiswa pertama. Ratna datang paling belakang dan berhenti di depan Nadia. “Dulu aku membiarkan ketakutanku membuatku diam,” katanya. “Terima kasih karena kamu tidak melakukan hal yang sama.” Nadia menjawab, “Saya juga takut, Bu. Bedanya, saya memilih tetap bicara.” Darma menggenggam tangan putranya lalu berkata kepada para tamu, “Hari itu semua orang mengira Nadia sedang menghancurkan sebuah peti. Sebenarnya, dia sedang membuka jalan agar anak saya kembali kepada saya.”












 

Comments (0)

Loading comments...