Logo

08in-“Yatim Piatu! Mau Bangga dengan Apa?!” Arga Menghina Nadira… Beberapa Detik Kemudian, Wajahnya Pucat!


Article image


“Bos saya...?” suara Arga nyaris tak terdengar. Surya tidak menjawab. Ia berjalan melewati Arga seolah pria itu tidak ada, lalu membungkuk mengambil buket Nadira yang jatuh di lantai. Dengan tangan sendiri ia membersihkan beberapa kelopak melati yang tercecer, kemudian menatap bekas merah di pipi putrinya. Pemandangan itu membuat seluruh gereja membeku; pria yang beberapa detik lalu menghina Nadira sebagai perempuan miskin dan yatim piatu kini menyadari bahwa perempuan yang ditamparnya adalah putri dari orang paling berkuasa dalam kariernya. Surya bertanya lembut, “Dia yang melakukan ini kepadamu?” Nadira menahan tangis. “Iya, Ayah... tapi jangan lakukan apa pun karena marah.” Surya mengangguk, lalu akhirnya memandang Arga. “Tenang. Aku tidak perlu marah untuk mengetahui siapa sebenarnya calon suami anakku.”

Arga langsung maju dengan wajah pucat. “Pak Surya, saya tidak tahu Nadira putri Bapak. Saya diberi tahu dia yatim piatu dan hidup sederhana!” Surya tersenyum tipis. “Kalau kamu tahu dia anak saya, apakah kamu tetap akan menamparnya?” Arga terdiam. “Tentu tidak, Pak. Saya akan memperlakukannya dengan hormat.” Jawaban itu justru membuat tatapan Surya semakin dingin. “Berarti kamu baru saja mengaku bahwa rasa hormatmu bergantung pada siapa ayah seseorang.” Beberapa eksekutif di antara tamu mulai menundukkan kepala. Nadira menatap Arga dengan kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. “Aku hidup sederhana karena aku ingin dicintai tanpa nama Hartono. Aku ingin tahu apakah seseorang bisa mencintaiku sebagai Nadira saja. Hari ini kamu akhirnya menjawab pertanyaan itu.” Arga menggeleng panik. “Nadira, aku mencintaimu! Aku hanya kehilangan kendali!”

Nadira melepas cincin pertunangannya perlahan. “Tidak, Arga. Kamu tidak kehilangan kendali. Kamu menunjukkan siapa dirimu ketika merasa tidak akan ada konsekuensi.” Ia meletakkan cincin itu di telapak tangan Arga. “Kamu menghina kemiskinan yang sebenarnya tidak pernah kamu alami. Kamu menghina anak yatim hanya untuk membuatku merasa kecil. Dan ketika aku meminta berhenti, kamu menamparku di depan altar.” Arga mulai menangis. “Aku bisa berubah. Tolong jangan batalkan semuanya karena satu kesalahan.” Nadira menatapnya lurus. “Satu tamparan memang hanya terjadi sekali. Tapi penghinaanmu lahir dari cara berpikir yang sudah hidup lama di dalam dirimu. Aku tidak akan menikahi seseorang sambil berharap suatu hari dia belajar menghormati manusia.” Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Pernikahan ini selesai.” Suara para tamu bergemuruh kecil, sementara wajah Arga benar-benar runtuh.

Arga mendadak berbalik kepada Surya. “Pak, tolong bicara dengannya. Saya sudah bekerja sepuluh tahun untuk Hartono Group. Saya membangun karier saya dari nol. Jangan biarkan satu kejadian menghancurkan semuanya!” Surya menjawab tenang, “Kariermu bukan urusan pernikahan ini. Besok dewan akan memeriksa perilakumu berdasarkan aturan perusahaan, bukan berdasarkan kemarahan seorang ayah.” Arga tampak sedikit lega, tetapi Surya melanjutkan, “Namun malam ini saya melihat seorang eksekutif senior merendahkan orang yang dianggap miskin, mempermalukan perempuan di depan umum, lalu menggunakan kekerasan ketika egonya ditentang. Kalau kamu melakukan itu kepada calon istrimu, saya harus bertanya bagaimana kamu memperlakukan bawahan yang tidak punya kekuasaan melawanmu.” Arga gemetar. “Pak Surya, saya mohon satu kesempatan.” Surya menjawab, “Kesempatanmu bukan mempertahankan jabatan. Kesempatanmu adalah membuktikan bahwa kamu masih bisa menjadi manusia yang lebih baik setelah kehilangan semua alasan untuk berpura-pura.”

Di tengah ketegangan itu, Nadira tiba-tiba memegang tangan ayahnya. “Ayah, jangan pecat dia hanya karena dia menyakitiku. Kalau dia memang bersalah di perusahaan, biarkan bukti yang menentukan.” Surya menatap putrinya penuh bangga. “Bahkan setelah diperlakukan seperti ini, kamu masih memikirkan keadilan.” Nadira menjawab, “Karena kalau kita menggunakan kekuasaan untuk membalas penghinaan, apa bedanya kita dengan orang yang menggunakan status untuk merendahkan orang lain?” Arga menatapnya dengan air mata menggenang. “Nadira... maafkan aku. Aku tidak meminta kamu kembali. Aku cuma ingin kamu tahu aku menyesal.” Nadira mengangguk perlahan. “Suatu hari mungkin aku memaafkanmu. Tapi memaafkan bukan berarti menikahimu. Ada luka yang bisa sembuh tanpa harus membawa kita kembali kepada orang yang membuatnya.”

Surya kemudian menggandeng Nadira meninggalkan altar. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti di samping Arga dan berkata, “Kamu tadi bertanya, apa yang bisa dibanggakan seorang perempuan yatim piatu. Sekarang kamu sudah tahu dia tidak yatim. Tapi bahkan kalau dia benar-benar tidak punya siapa-siapa, nilainya tetap tidak berkurang sedikit pun. Ingat itu.” Arga menundukkan kepala. “Saya akan mengingatnya seumur hidup, Pak.” Surya menjawab, “Jangan mengingat karena takut kepada saya. Ingat saat suatu hari kamu bertemu orang yang tidak bisa memecatmu, tidak bisa menghancurkan bisnismu, dan tidak bisa memberi keuntungan apa pun kepadamu. Cara kamu memperlakukan orang itulah yang menunjukkan siapa dirimu.” Nadira menoleh sekali lagi kepada Arga. “Selamat tinggal, Arga. Semoga laki-laki yang berdiri di altar hari ini tidak menjadi laki-laki yang kamu bawa sampai tua.”

Setahun kemudian, Nadira kembali ke gereja yang sama untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Ketika keluar, ia melihat Arga sedang membantu seorang petugas tua mengangkat kotak-kotak tanpa mengetahui Nadira memperhatikannya. Arga akhirnya melihatnya dan tersenyum kecil. “Nadira... aku tidak berharap kamu percaya, tapi aku sedang berusaha berubah.” Nadira menjawab, “Aku bisa melihatnya. Teruskan, meski tidak ada aku yang melihat.” Arga mengangguk. “Aku kehilanganmu karena kesombonganku. Mungkin itu harga yang harus kubayar supaya akhirnya mengerti.” Dari kejauhan Surya memanggil, “Nadira, kita berangkat?” Nadira tersenyum kepada ayahnya. “Iya, Ayah.” Lalu ia menatap Arga untuk terakhir kali. Tidak ada kebencian, tidak ada keinginan kembali—hanya kedamaian. Karena akhirnya semua orang memahami bahwa harga diri seseorang tidak berasal dari nama keluarga, kekayaan, atau siapa ayahnya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan manusia ketika merasa dirinya lebih tinggi dari mereka.

Comments (0)

Loading comments...