08IDHH Dia Menyuruh Ibu Tua Menjilat Lantai—Lalu Seorang Pria Datang dan Memanggilnya “Ibu”

Bima berdiri di depan ibunya seperti tembok, sementara Kirana masih memegangi pipinya dengan wajah pucat. Suasana pesta yang sebelumnya mewah berubah menjadi sunyi mencekam. “Sayang… dengarkan aku dulu,” bisik Kirana dengan suara gemetar. Bima menatapnya tanpa kehangatan. “Jangan panggil aku seperti itu setelah apa yang baru saja kamu lakukan kepada ibu saya.” Kirana mundur satu langkah. Baru beberapa detik lalu ia merasa menjadi perempuan paling berkuasa di ruangan itu, tetapi sekarang seluruh keberaniannya runtuh. Ibu Sari masih berlutut, air mata membasahi pipinya. Bima segera membungkuk dan membantu ibunya berdiri. “Ibu, berdiri. Ibu tidak seharusnya berlutut di depan siapa pun.” Kata-kata itu membuat para tamu menundukkan kepala karena malu setelah menyaksikan penghinaan terhadap perempuan sederhana yang ternyata adalah ibu Bima.
Kirana mencoba mendekat. “Aku tidak tahu dia ibumu! Kalau aku tahu—” Bima langsung memotongnya. “Kalau kamu tahu dia ibu saya, kamu tidak akan menamparnya? Jadi orang lain boleh kamu hina?” Wajah Kirana membeku. Pertanyaan itu menghantam jauh lebih keras daripada tamparan sebelumnya. Ia memandang sekeliling dan menyadari puluhan tamu sedang memperhatikannya. Seorang perempuan tua yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Kami semua melihat apa yang kamu lakukan, Kirana.” Kirana menelan ludah. “Itu hanya karena gaunku rusak!” Bima menatap noda jus di gaun mahal itu, lalu tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa lucu. “Sebuah gaun bisa dibeli lagi. Tapi harga diri ibu saya bukan sesuatu yang bisa kamu injak lalu kamu ganti dengan uang.”
Ibu Sari perlahan menyentuh lengan putranya. “Bima, cukup. Ibu tidak ingin pesta ini berubah menjadi keributan.” Suaranya masih lemah, tetapi justru ketenangannya membuat Kirana semakin malu. Bima menoleh. “Ibu masih mau memaafkannya?” Ibu Sari menatap Kirana lama sebelum menjawab, “Memaafkan bukan berarti membenarkan.” Kirana mulai menangis. “Bu Sari… saya salah. Saya benar-benar salah.” Namun Ibu Sari berkata pelan, “Kamu meminta maaf sekarang karena tahu siapa anak saya, atau karena kamu sadar sudah menyakiti saya?” Kirana terdiam. Tidak ada jawaban. Para tamu langsung memahami arti keheningan itu. Ibu Sari kemudian menatapnya dengan kecewa. “Kalau saya benar-benar perempuan miskin tanpa anak yang berkuasa, apakah kamu masih akan meminta maaf seperti ini?” Kirana menundukkan kepala, tidak sanggup menjawab.
Saat itulah seorang pria dari panitia gala bergegas menghampiri Bima. “Pak Bima, kami baru menerima konfirmasi. Donasi utama malam ini memang berasal dari keluarga Anda.” Para tamu langsung saling berbisik. Kirana mengangkat kepala dengan panik. Bima menjawab tenang, “Benar. Ibu saya yang memilih yayasan penerimanya.” Wajah Kirana semakin pucat. Selama ini ia mengira Ibu Sari hanyalah tamu biasa yang tidak penting. Bima melanjutkan, “Ibu datang tanpa perhiasan mahal karena beliau ingin melihat bagaimana orang-orang di sini memperlakukan seseorang tanpa simbol kekayaan.” Seorang tamu berbisik, “Jadi semuanya terlihat jelas malam ini.” Kirana menangis semakin keras. “Bima, beri aku satu kesempatan.” Bima menggeleng. “Kesempatan untuk apa? Menjadi baik hanya ketika kamu tahu siapa yang punya kuasa?”
Kirana meraih tangan Bima, tetapi Bima menariknya kembali. “Minggu depan kita seharusnya mengumumkan pertunangan kita,” kata Kirana putus asa. Beberapa tamu langsung terkejut. Ibu Sari pun menatap putranya. Bima mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Kirana langsung mengenalinya. Matanya membesar. “Bima… jangan.” Bima membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat cincin berlian yang seharusnya menjadi simbol masa depan mereka. “Saya membawa ini malam ini karena ingin meminta restu Ibu.” Kirana mulai terisak. “Aku bisa berubah!” Bima menutup kotak tersebut dan menjawab, “Karakter seseorang terlihat bukan dari bagaimana dia memperlakukan orang yang bisa memberinya keuntungan, tetapi bagaimana dia memperlakukan orang yang dianggap tidak berguna.” Kemudian ia memasukkan kembali kotak itu ke sakunya. “Dan malam ini, kamu menunjukkan semuanya.”
Kirana jatuh terduduk di kursi terdekat, seluruh kesombongannya lenyap. “Jangan tinggalkan aku, Bima. Aku mencintaimu.” Bima menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Kalau cinta membuatmu hanya menghormati keluargaku setelah tahu status mereka, itu bukan cinta yang saya inginkan.” Kirana menangis tanpa mampu berkata apa-apa lagi. Bima kemudian menggandeng tangan Ibu Sari. Sebelum pergi, Ibu Sari berhenti di depan Kirana. “Nak, saya tidak membenci kamu,” katanya lembut. Kirana mengangkat wajah dengan mata sembab. “Tapi ingat satu hal. Hari ini mungkin saya yang kamu suruh menjilat lantai. Besok bisa saja orang lain. Kalau kamu tidak berubah, suatu hari kamu akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada gaun.” Kirana berbisik, “Saya mengerti, Bu.” Ibu Sari menggeleng pelan. “Jangan bilang mengerti. Buktikan.”
Bima membawa ibunya meninggalkan pesta ketika para tamu memberi jalan dalam keheningan. Namun sebelum masuk lift, Bima berhenti dan menatap Kirana untuk terakhir kali. Kirana masih berdiri jauh di belakang, menangis sendirian di tengah kemewahan yang beberapa menit sebelumnya membuatnya merasa tidak tersentuh. “Bima!” teriaknya. Bima menoleh. “Apakah semuanya benar-benar selesai?” Bima menggenggam tangan ibunya lebih erat. “Hubungan kita selesai malam ini. Tapi hidupmu belum. Kamu masih bisa memilih menjadi manusia yang berbeda.” Pintu lift mulai menutup. Ibu Sari menatap putranya lalu berkata, “Ibu bangga kamu membela Ibu, tapi jangan simpan kebencian.” Bima mengangguk. “Saya tidak membencinya, Bu. Saya hanya akhirnya melihat siapa dia sebenarnya.” Pintu lift tertutup. Di ruang pesta, Kirana perlahan berlutut di dekat genangan jus yang tadi ia gunakan untuk mempermalukan Ibu Sari. Dengan air mata jatuh ke lantai, ia berbisik, “Maafkan aku…” Kali ini tidak ada yang menyuruhnya berlutut. Ia melakukannya karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa malu.
Comments (0)
Loading comments...
May You Like
















