08-“Kau Tahu Isi Surat Ini, Ya?” Pertanyaan Arya Membuat Selena Membeku

Arya membuka lipatan pertama surat Maya dengan tangan gemetar. Tulisan itu sudah pudar, tetapi setiap kata terasa seperti menghantam dadanya. “Arya, kalau surat ini sampai kepadamu, berarti aku sudah tidak ada. Raka adalah anakmu.” Arya menahan napas. Selena langsung menyela, “Itu bohong! Siapa pun bisa menulis surat seperti itu!” Namun Arya menatapnya tajam. “Kau bahkan belum membaca satu baris pun. Kenapa kau begitu yakin surat ini palsu?” Selena terdiam. Raka merangkul Naya lebih erat. Arya melanjutkan membaca, dan wajahnya berubah ketika menemukan kalimat berikutnya: “Sebelas tahun lalu, seseorang datang membawa surat atas namamu. Dia bilang kau membenciku, menolak anak kita, dan tidak ingin melihatku lagi.” Arya mengangkat kepalanya perlahan. “Selena… apa yang sebenarnya kau lakukan sebelas tahun lalu?”
Selena mundur sampai punggungnya menyentuh meja altar. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.” Arya menunjukkan surat itu. “Maya menulis bahwa perempuan yang datang kepadanya memakai liontin berbentuk bunga teratai.” Semua mata beralih ke leher Selena. Di sana tergantung liontin yang sama. Selena buru-buru meraihnya, tetapi sudah terlambat. Seorang perempuan tua di antara tamu berdiri dan berkata, “Saya ingat liontin itu.” Ia adalah mantan pengurus rumah keluarga Arya. “Nona Selena pernah meminta alamat Maya kepada saya. Dia bilang keluarga Arya ingin mengirim sesuatu.” Selena berteriak, “Diam!” Arya menatapnya dengan mata penuh kemarahan. “Jadi benar kau yang datang menemui Maya?” Selena menangis dan menggeleng panik. Arya maju satu langkah. “Jangan berbohong lagi. Sebelas tahun hidup anakku sudah hilang karena kebohongan seseorang.”
Akhirnya Selena kehilangan kendali. “Ya! Aku yang mengirim surat itu!” Suaranya pecah di tengah keheningan. “Aku tahu Maya hamil. Aku tahu kalau kau tahu tentang anak itu, kau akan kembali kepadanya. Aku mencintaimu, Arya! Aku takut kehilangan semuanya!” Raka menatapnya dengan mata merah. “Karena takut kehilangan dia, kau membuat Ibu kehilangan sebelas tahun hidupnya?” Selena tercekat. Raka mengeluarkan liontin kecil milik Maya dan berkata, “Setiap ulang tahunku, Ibu selalu bilang, ‘Ayahmu bukan orang jahat. Suatu hari dia pasti datang.’ Dia menunggu sampai hari terakhirnya.” Arya menutup mata, menahan air mata. “Maya menungguku… sementara aku mengira dia sudah meninggal?” Raka menjawab lirih, “Ibu tidak pernah berhenti percaya kepada Bapak. Bahkan ketika semua orang menyuruhnya berhenti.”
Arya perlahan melepas cincin pernikahannya. Selena menatapnya ngeri. “Arya, jangan lakukan ini. Kita bisa memperbaikinya.” Arya meletakkan cincin itu di atas meja altar. “Tidak. Kau tidak hanya membohongiku. Kau mencuri hak seorang ibu untuk mengatakan kebenaran dan hak seorang anak untuk mengenal ayahnya.” Selena menangis, “Kau akan membatalkan semuanya karena anak yang belum terbukti darahmu?” Arya menjawab dingin, “Pernikahan ini bukan batal karena Raka. Pernikahan ini batal karena akhirnya aku tahu siapa dirimu.” Para tamu mundur dari Selena. Arya lalu berlutut di depan Raka. “Aku tidak akan memaksamu memanggilku Ayah. Kita akan melakukan tes DNA. Tapi mulai malam ini, kau dan Naya tidak akan tidur di jalan lagi.” Raka bertanya, “Kalau ternyata saya bukan anak Bapak?” Arya menjawab, “Aku tetap tidak akan meninggalkan kalian sendirian.”
Tiga hari kemudian, Arya duduk bersama Raka dan Naya di ruang keluarga rumahnya. Sebuah amplop hasil tes DNA tergeletak di meja. Raka tampak tegang. “Buka saja, Pak. Saya sudah siap.” Arya merobek amplop itu dan membaca hasilnya. Tangannya langsung menutup mulut. Air mata memenuhi matanya. “Kemungkinan hubungan biologis ayah dan anak… 99,99 persen.” Raka membeku. Arya menatapnya dan berkata dengan suara pecah, “Kau benar-benar anakku.” Raka menunduk, berusaha menahan tangis, tetapi akhirnya gagal. “Ibu benar… Bapak benar-benar ada.” Arya memeluknya erat. Naya yang berdiri di samping mereka bertanya pelan, “Kalau begitu… aku harus pergi karena aku bukan anak Bapak?” Arya langsung menarik Naya ke dalam pelukan yang sama. “Tidak. Kalian datang bersama. Kalian tetap bersama. Tidak ada yang akan memisahkan kalian.”
Namun sebelum semuanya benar-benar selesai, Arya menemukan halaman terakhir surat Maya. Ia membacanya di depan kedua anak itu. “Arya, jangan ajarkan Raka membenci Selena. Aku kehilangan banyak hal karena dendam orang lain. Jangan biarkan anak kita tumbuh membawa dendam yang sama.” Raka menatap foto ibunya lama sekali. “Aku marah, tapi aku tidak mau hidup seperti Selena.” Arya mengangguk. “Kau berhak marah. Tapi kau tidak harus menjadi seperti orang yang menyakitimu.” Beberapa minggu kemudian, Selena datang untuk meminta maaf sebelum meninggalkan Jakarta. Ia berdiri di depan Raka sambil menangis. “Aku tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah hilang.” Raka menjawab, “Benar. Tapi mulai sekarang, jangan hancurkan hidup orang lain hanya karena takut kehilangan sesuatu.” Selena menundukkan kepala. Arya berkata dingin, “Pergilah. Bukan karena kami memaafkan semuanya, tapi karena kami memilih hidup tanpa kebohonganmu.”
Beberapa bulan kemudian, Arya membawa Raka dan Naya ke makam Maya. Pagi itu tenang, diterangi cahaya matahari lembut. Arya meletakkan bunga melati di atas makam dan berbisik, “Maaf aku terlambat sebelas tahun, Maya. Seandainya aku tahu…” Raka menggenggam tangan ayahnya. “Ibu pernah bilang, ‘Terlambat bukan berarti tidak pernah datang.’” Arya menatap Raka, lalu Naya yang berdiri di sisi lainnya. “Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bisa memastikan kalian tidak kehilangan rumah lagi.” Naya tersenyum kecil. “Rumah itu tempat kita bertiga?” Arya berlutut dan memeluk mereka. “Bukan bertiga. Kita berempat. Ibumu akan selalu menjadi bagian dari keluarga ini.” Raka menatap foto Maya, air matanya jatuh, tetapi kali ini ia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi menunggu seseorang datang. Ayahnya akhirnya sudah berada di sisinya.
Comments (0)
Loading comments...

















