Logo

07in-Semua Mengira Sri Rahayu Sudah Gila… Sampai Ia Membongkar Rahasia di Balik Pemakaman Itu!

Article image



Mata Kirana yang terbuka lebar terlihat jelas melalui celah sempit peti, air mata membasahi wajahnya sementara pita abu-abu masih menutup mulutnya. Perempuan yang seluruh ruangan yakini telah meninggal itu ternyata hidup. Raka langsung menunjuk ke arah celah dan berteriak, “Lihat! Dia hidup! Kirana masih hidup!” Para pelayat serentak mundur dengan jeritan tertahan. Laras menatap Bima yang masih menggenggam pistol. “Turunkan senjata itu, Bima! Kalau kau masih mencoba menghentikan kami setelah melihat matanya, berarti kau tahu sesuatu!” Tangan Bima mulai gemetar. Dua petugas keamanan keluarga saling berpandangan, lalu salah satunya perlahan mengambil pistol dari tangannya. “Pak Bima, cukup. Kami semua melihatnya.” Bima tidak melawan. Ia hanya menatap peti dengan wajah seputih kain kafan.

Raka menjatuhkan palunya jauh dari peti lalu bersama beberapa orang membuka tutup yang sudah retak. Kirana terbaring di atas satin champagne, masih sadar namun sangat lemah. Laras segera menarik pita dari mulutnya. Kirana terbatuk keras dan menarik napas dalam-dalam. “Raka... kamu datang...” bisiknya. Raka menggenggam tangannya sambil menangis. “Aku bilang aku akan menemukanmu. Siapa yang melakukan ini?” Kirana menoleh perlahan ke arah Bima. Seluruh ruangan menahan napas. Bima mundur setengah langkah. Namun Kirana berkata, “Ayah tahu aku masih hidup... tetapi Ayah bukan orang yang memasukkanku ke dalam peti.” Raka terkejut. “Kalau begitu kenapa dia berusaha mati-matian menghentikanku?” Kirana menutup mata sesaat. “Karena seseorang mengancam akan membunuh adikku kalau Ayah membongkar semuanya.”

Semua tatapan beralih kepada Bima. Pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai kepala keluarga tak tergoyahkan itu akhirnya jatuh berlutut. “Maafkan Ayah, Kirana. Ayah pengecut.” Air matanya mulai mengalir. “Mereka mengirim video adikmu diikat di sebuah gudang. Mereka bilang kalau pemakaman ini tidak berjalan sesuai rencana, dia akan mati. Ayah pikir... kalau Ayah berpura-pura percaya kamu sudah meninggal, Ayah bisa menyelamatkan kalian berdua.” Kirana menangis. “Tapi Ayah membiarkan mereka hampir menguburku hidup-hidup!” Bima menunduk. “Ayah tahu. Dan tidak ada alasan yang cukup untuk itu.” Raka mendekat dengan marah. “Siapa ‘mereka’? Siapa yang punya kekuasaan sampai membuat seorang Bima Adinata ketakutan?” Bima mengangkat wajahnya dan berbisik, “Pamanku sendiri... Surono Adinata.”

Laras langsung menutup mulutnya. “Surono? Wakil ketua perusahaan keluarga?” Bima mengangguk. “Kirana menemukan dokumen bahwa Surono menggelapkan dana perusahaan selama bertahun-tahun. Dia akan menyerahkannya kepada dewan. Malam itu dia dibius, lalu kematiannya dipalsukan.” Kirana berusaha duduk dan berkata, “Dokumennya masih ada. Dia pikir sudah mengambil semuanya, tapi aku menyimpan salinannya.” Raka menatapnya. “Di mana?” Kirana menunjuk liontin kecil yang masih tergantung di lehernya. “Di dalamnya ada kartu memori.” Bima terbelalak. Tiba-tiba salah satu tamu berkata, “Pak Surono sedang menuju ke sini. Saya melihat mobilnya masuk gerbang tadi.” Bima berdiri panik. “Kunci semua pintu. Jangan biarkan dia membawa Kirana pergi lagi!” Kirana menggenggam tangan ayahnya. “Tidak, Ayah. Kali ini jangan sembunyi. Biarkan dia masuk dan melihat bahwa kita sudah berhenti takut.”

Beberapa saat kemudian Surono memasuki aula dengan wajah tenang, tetapi langkahnya langsung berhenti saat melihat Kirana duduk hidup di samping peti. “Tidak mungkin...” gumamnya. Kirana menatapnya tanpa berkedip. “Kecewa melihatku bernapas, Paman?” Surono berusaha tersenyum. “Kirana, kau pasti kebingungan. Kita harus membawamu ke rumah sakit.” Raka berdiri menghalangi jalannya. “Jangan sentuh dia.” Bima kemudian maju. Untuk pertama kalinya tidak ada ketakutan di wajahnya. “Selesai, Surono.” Surono tertawa kecil. “Kau berani melawanku sekarang? Bagaimana dengan putramu?” Bima menjawab, “Sudah ditemukan. Polisi mengevakuasinya dua puluh menit lalu setelah Raka memberikan lokasi gudang kepada keamanan.” Senyum Surono hilang. Kirana mengangkat liontinnya. “Dan semua bukti transaksi ilegalmu ada di sini.” Surono langsung berbalik menuju pintu, tetapi petugas keamanan sudah menutup jalannya.

Ketika polisi akhirnya membawanya pergi, Bima berdiri di depan Kirana dengan kepala tertunduk. “Ayah tidak meminta kamu memaafkan Ayah hari ini. Mungkin Ayah bahkan tidak pantas mendapatkannya.” Kirana menatapnya lama. “Aku lebih marah karena Ayah memilih ketakutan daripada mempercayaiku.” Bima mengangguk sambil menangis. “Ayah akan menghabiskan sisa hidup Ayah untuk memperbaikinya. Kalau kau ingin Ayah mundur dari perusahaan, Ayah akan melakukannya.” Kirana menjawab, “Mundur bukan hukuman yang aku mau. Bongkar semua kebusukan keluarga ini. Kembalikan uang yang dicuri kepada orang-orang yang dirugikan. Dan jangan pernah lagi mengorbankan seseorang demi menjaga nama Adinata.” Bima menatap putrinya. “Ayah berjanji.” Raka tersenyum tipis. “Kalau janji itu dilanggar, kali berikutnya saya tidak perlu palu untuk membuka kebenaran.” Untuk pertama kalinya malam itu, Kirana tertawa kecil di antara air matanya.

Beberapa bulan kemudian, aula pemakaman yang pernah dipenuhi bunga duka kembali dibuka, tetapi kali ini untuk perayaan. Kirana berjalan masuk dengan sehat, ditemani Raka dan keluarganya. Peti putih itu sudah tidak ada. Di tempatnya berdiri meja panjang berisi dokumen yayasan baru untuk membantu korban kekerasan dan orang-orang yang kehilangan keberanian melawan keluarga berkuasa. Bima menyerahkan pena kepada Kirana. “Mulai hari ini, kamu yang memimpin yayasan ini.” Kirana tersenyum. “Dengan satu syarat: tidak ada lagi rahasia keluarga yang lebih berharga daripada nyawa seseorang.” Bima menjawab, “Tidak akan pernah lagi.” Raka menggoda, “Dan saya berharap tidak ada peti yang perlu saya pecahkan lagi.” Kirana tertawa sambil menggenggam tangannya. “Kalau bukan karena dua pukulanmu malam itu, aku mungkin tidak pernah melihat matahari lagi.” Raka menatapnya dan berkata, “Bukan palu yang menyelamatkanmu. Kebenaranlah yang akhirnya terlalu keras untuk tetap dikubur.” Di tengah tepuk tangan keluarga, Kirana menatap cahaya matahari Jakarta dan akhirnya memahami bahwa kebohongan sebesar apa pun tetap memiliki satu kelemahan: selama masih ada seseorang yang berani mengetuknya sampai retak, kebenaran akan selalu menemukan jalan keluar.

Comments (0)

Loading comments...