Logo

07IDHH Darma Meninju Arga di Depan Semua Orang—Tapi Satu Kalimat Tentang Kantor Membuatnya Ketakutan

Article image

Keesokan paginya, Darma Wijaya tiba di kantor pusat lebih awal dari biasanya. Sepanjang malam ia hampir tidak tidur, terus teringat tatapan Arga dan kalimat terakhirnya di pesta. Namun di depan para staf, ia tetap mencoba mempertahankan wibawa. “Jangan ada yang membatalkan rapat saya pagi ini,” katanya tajam sambil berjalan menuju lift eksekutif. Sekretarisnya terlihat gugup dan menjawab pelan, “Pak Darma… semua direktur sudah menunggu di ruang rapat utama.” Darma berhenti. Ia tidak pernah memanggil rapat direksi pagi itu. Saat pintu lift terbuka di lantai tertinggi, dua anggota dewan berdiri menunggunya tanpa senyum. Salah seorang berkata, “Sebaiknya Bapak masuk. Mereka sudah menunggu.” Untuk pertama kalinya, langkah Darma terasa berat.

Begitu pintu ruang rapat terbuka, Darma membeku. Di ujung meja panjang duduk Arga Mahendra, mengenakan setelan navy yang sama tenangnya seperti malam sebelumnya. Di sebelahnya terdapat para komisaris, direktur senior, dan penasihat hukum perusahaan. Tidak seorang pun berdiri menyambut Darma. “Apa maksud semua ini?” bentaknya. Arga hanya menutup berkas di depannya dan menjawab, “Silakan duduk, Pak Darma. Kemarin Bapak bertanya siapa saya. Hari ini saya akan menjawabnya.” Darma mencoba tertawa. “Kamu pikir bisa masuk ke kantor saya dan membuat pertunjukan?” Seorang komisaris senior langsung memotongnya, “Pak Darma, ini bukan lagi kantor yang bisa Bapak sebut milik Bapak sesuka hati.” Wajah Darma perlahan kehilangan warna.

Arga kemudian mendorong sebuah dokumen ke tengah meja. “Nama saya Arga Mahendra. Keluarga saya adalah pemegang saham pengendali baru perusahaan ini, dan sejak tiga bulan lalu saya ditugaskan dewan untuk mengevaluasi kepemimpinan perusahaan secara langsung.” Ruangan mendadak sunyi. Darma menatap satu per satu wajah anggota dewan, berharap seseorang menyangkalnya. Tidak ada. “Tidak mungkin,” gumamnya. Arga menjawab tenang, “Itulah alasan saya datang ke acara kemarin tanpa pengawalan dan tanpa memperkenalkan jabatan saya. Saya ingin melihat bagaimana orang-orang di perusahaan ini memperlakukan seseorang ketika mereka mengira orang itu tidak memiliki kekuasaan.” Darma berdiri dengan panik. “Tentang pukulan itu… saya kehilangan kendali.” Arga menatapnya lurus. “Justru ketika seseorang kehilangan kendali, kita melihat siapa dirinya sebenarnya.”

Darma mulai memahami bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada satu pukulan. Penasihat hukum membuka berkas lain yang berisi laporan keluhan karyawan, penyalahgunaan wewenang, dan beberapa keputusan perusahaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani dipertanyakan. “Ini fitnah!” teriak Darma. Salah seorang direktur yang biasanya selalu membelanya akhirnya berkata, “Tidak, Pak. Banyak dari kami hanya terlalu takut untuk bicara.” Darma menatap mereka dengan tidak percaya. “Setelah semua yang saya lakukan untuk kalian?” Arga berdiri perlahan. “Itulah masalahnya. Bapak menganggap rasa takut sebagai kesetiaan.” Darma kemudian menatap Arga dengan suara melemah. “Apa yang kamu inginkan? Uang? Permintaan maaf di depan semua orang?” Arga menggeleng. “Saya tidak datang untuk membeli harga diri saya sendiri.”

Beberapa menit kemudian, ketua komisaris berdiri dan membacakan keputusan dewan. “Mulai hari ini, Darma Wijaya dinonaktifkan dari seluruh kewenangan eksekutif sampai proses pemeriksaan selesai.” Darma menghantam meja dengan telapak tangannya. “Kalian tidak bisa melakukan ini kepada saya!” Ketua komisaris menjawab tanpa emosi, “Keputusan sudah disetujui.” Darma menoleh kepada Arga. “Kamu menghancurkan hidup saya hanya karena satu pukulan?” Arga mendekat satu langkah, tetap tanpa kemarahan. “Bukan karena Bapak memukul saya. Kalau hanya itu, saya bisa menyelesaikannya kemarin malam. Bapak kehilangan jabatan karena selama bertahun-tahun Bapak percaya kekuasaan memberi Bapak hak untuk merendahkan orang lain.” Kalimat itu membuat Darma terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada bawahan yang menundukkan kepala di hadapannya.

Saat Darma keluar dari ruang rapat, lorong yang biasanya dipenuhi orang yang menyapanya kini terasa berbeda. Tidak ada ejekan, tetapi juga tidak ada lagi ketakutan. Seorang staf muda yang pernah dimarahinya berdiri tegak saat Darma lewat. Darma berhenti sejenak, lalu melihat pantulan dirinya di dinding kaca. Beberapa menit kemudian Arga keluar. Darma menoleh dan berkata pelan, “Arga… beri saya satu kesempatan.” Arga berhenti. Darma menelan ludah sebelum melanjutkan, “Saya akan meminta maaf kepada semua orang. Kepada kamu juga.” Arga menjawab, “Permintaan maaf bukan tiket untuk mendapatkan kembali kursi Bapak.” Darma menunduk. Arga kemudian menambahkan, “Kalau Bapak benar-benar menyesal, buktikan ketika tidak ada lagi jabatan yang bisa melindungi Bapak.”

Tiga bulan kemudian, perusahaan mengumumkan kepemimpinan baru dan kebijakan perlindungan karyawan yang jauh lebih ketat. Arga menolak pesta perayaan besar dan memilih bertemu langsung dengan para staf. Seorang pegawai bertanya, “Pak Arga, setelah semua yang terjadi, kenapa Bapak tidak membalas Darma malam itu?” Arga tersenyum tipis. “Karena orang yang benar-benar memiliki kekuasaan tidak perlu membuktikannya dengan pukulan.” Pada saat yang sama, Darma datang ke kantor hanya untuk menyerahkan dokumen terakhirnya. Ia berhenti di depan Arga dan berkata, “Sekarang saya mengerti apa yang saya kehilangan.” Arga menjawab, “Bukan jabatan Bapak yang paling berharga, Pak Darma. Rasa hormatlah yang seharusnya Bapak jaga sejak awal.” Darma mengangguk dan berjalan pergi tanpa pengawal, tanpa rombongan, tanpa siapa pun yang takut kepadanya. Arga memandang para karyawan di sekelilingnya lalu berkata, “Mulai hari ini, tidak ada seorang pun di tempat ini yang boleh merasa kecil hanya karena jabatannya lebih rendah.” Untuk pertama kalinya, tepuk tangan memenuhi ruangan—bukan karena takut, melainkan karena hormat.

Comments (0)

Loading comments...