Logo

06it-Dia Menampar Tunangannya… Lalu Menyesal Saat Tahu Siapa Ayahnya

Article image

Ratna berdiri membeku, wajahnya kehilangan warna setelah dua kata itu keluar dari bibirnya. “Wali... kota...” Bisikan itu cukup membuat puluhan tamu saling berpandangan. Arga menoleh tajam kepada ibunya, napasnya mulai tidak teratur. “Ibu... maksud Ibu apa?” Ratna tidak menjawab. Ia hanya menatap Nadzira seolah baru menyadari bahwa perempuan yang selama ini mereka anggap bisa dipermalukan ternyata adalah putri seseorang yang sangat mereka kenal. Nadzira mengusap air mata di pipinya tanpa membersihkan saus yang masih menempel di rambut dan gaunnya. Dengan suara pelan ia berkata, “Sekarang kalian takut karena tahu siapa ayahku? Beberapa menit lalu kalian bahkan tidak peduli siapa aku.” Ruangan yang sebelumnya dipenuhi musik dan tawa berubah menjadi sunyi. Untuk pertama kalinya, Arga tidak menemukan satu pun kata untuk merendahkannya.

Tak lama kemudian, suara beberapa mobil berhenti di halaman mansion. Pintu utama terbuka. Bima Prameswari masuk tanpa rombongan mencolok, hanya ditemani seorang ajudan yang berhenti jauh di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah ketika melihat putrinya berdiri dengan gaun kotor dan luka kecil di pelipis. “Nadzira.” Hanya satu kata, namun suara Bima membuat seluruh ruangan seperti kehilangan udara. Nadzira yang sejak tadi berusaha kuat akhirnya berjalan cepat dan memeluk ayahnya. “Ayah... aku seharusnya mendengarkan Ayah sejak dulu.” Bima memeluknya erat lalu menjawab, “Tidak. Kamu tidak salah karena pernah percaya kepada seseorang. Yang salah adalah orang yang menganggap cintamu sebagai izin untuk merendahkanmu.” Arga maju dengan tangan gemetar. “Pak Bima, saya bisa menjelaskan—” Bima mengangkat telapak tangannya. “Saya datang bukan untuk mendengar alasanmu.”

Ratna buru-buru mendekat, mencoba mempertahankan martabat keluarganya di depan para tamu. “Pak Bima, ini hanya pertengkaran pasangan. Jangan sampai masalah keluarga dibesar-besarkan.” Nadzira perlahan melepaskan pelukan ayahnya dan menatap Ratna. “Masalah keluarga?” tanyanya dingin. “Putramu memukulku di depan puluhan orang, dan Ibu berkata itu tidak separah itu.” Seorang tamu perempuan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, “Kami semua melihatnya, Bu Ratna.” Tamu lain menambahkan, “Dan kami mendengar semuanya.” Wajah Ratna langsung menegang. Bima memandang seluruh ruangan sebelum berkata, “Bagus. Jadi malam ini tidak membutuhkan cerita yang dibuat ulang besok pagi.” Arga mulai panik. “Nadzira, dengarkan aku. Aku marah, aku kehilangan kendali. Aku minta maaf.” Nadzira menatap cincin pertunangannya beberapa detik. “Kamu tidak kehilangan kendali, Arga. Malam ini kamu menunjukkan siapa dirimu ketika merasa memiliki kendali.”

Dengan gerakan tenang, Nadzira melepaskan cincin itu dan meletakkannya di atas meja di antara mereka. Bunyi kecil cincin menyentuh kaca terdengar seperti palu keputusan. “Pertunangan ini selesai.” Arga membelalakkan mata. “Tidak! Kamu tidak bisa menghancurkan semuanya hanya karena satu kesalahan!” Nadzira menjawab, “Satu pukulan bukan awal masalah kita. Itu hanya saat terakhir aku berhenti mencari alasan untukmu.” Ratna mencoba meraih tangan Nadzira, tetapi Nadzira mundur. “Kita bisa menyelesaikan ini diam-diam,” bisik Ratna. Nadzira menggeleng. “Selama berbulan-bulan kalian menyuruhku diam demi nama keluarga Wibisana. Malam ini aku memilih namaku sendiri.” Tepuk tangan kecil terdengar dari salah satu sudut, kemudian beberapa tamu lain ikut berdiri. Arga melihat sekeliling dan menyadari bahwa orang-orang yang biasanya tersenyum kepadanya kini justru menghindari tatapannya.

Namun Bima belum selesai. Ia menatap Arga lurus-lurus. “Saya tidak akan menggunakan jabatan saya untuk menghancurkanmu. Kamu akan menghadapi akibat dari tindakanmu melalui cara yang seharusnya.” Arga seperti mendapat sedikit harapan. “Jadi Bapak tidak akan—” Bima memotong, “Jangan salah mengerti. Besok, semua kerja sama pribadi keluarga Prameswari dengan perusahaan keluargamu akan ditinjau ulang oleh pengacara kami. Bukan karena balas dendam, tapi karena saya tidak akan lagi mempercayakan satu rupiah pun kepada keluarga yang menutupi perilaku seperti ini.” Ratna terkejut. “Pak Bima, kontrak itu bernilai sangat besar!” Bima menatapnya datar. “Aneh. Sekarang sesuatu terasa ‘besar’ bagi Anda. Ketika putri saya dipukul, Anda bilang itu tidak separah itu.” Ratna terdiam, sementara Arga menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada status, uang, atau nama besar yang mampu menyelamatkan mereka dari rasa malu.

Arga tiba-tiba berlutut di depan Nadzira. “Aku akan berubah. Tolong jangan pergi. Aku mencintaimu.” Nadzira menatap lelaki yang beberapa jam sebelumnya akan menjadi suaminya. Air matanya kembali jatuh, tetapi kali ini bukan karena takut. “Aku juga pernah mencintaimu,” katanya. “Itulah alasan aku bertahan terlalu lama.” Arga meraih udara seolah ingin memegang tangannya, namun Nadzira mundur satu langkah. “Nadzira, beri aku satu kesempatan lagi.” Ia menggeleng. “Kesempatan terakhir sudah kamu dapatkan setiap kali aku memaafkan penghinaanmu.” Kemudian ia menatap Ratna. “Dan Ibu... malam ini saya belajar sesuatu dari Anda.” Ratna menelan ludah. “Apa?” Nadzira menjawab, “Orang yang melindungi kesalahan demi menjaga nama keluarga akhirnya justru menghancurkan nama itu sendiri.” Tidak seorang pun di ruangan berani menyangkalnya.

Nadzira kemudian menggandeng tangan ayahnya dan berjalan menuju pintu utama. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh untuk terakhir kalinya. Arga masih berdiri dengan mata merah, sementara Ratna terduduk lemas di kursinya di tengah pesta pertunangan yang kini menjadi simbol kehancuran kesombongan mereka. “Nadzira...” panggil Arga dengan suara patah. Nadzira menatapnya tanpa kebencian. “Semoga suatu hari nanti kamu benar-benar berubah. Tapi aku tidak akan menjadi perempuan yang harus terluka untuk menunggu hari itu.” Bima tersenyum tipis kepada putrinya. “Pulang, Nak?” Nadzira menarik napas panjang, lalu menjawab, “Pulang, Yah. Tapi setelah malam ini, aku ingin membangun hidup yang tidak bergantung pada nama Ayah, nama Arga, atau siapa pun selain diriku sendiri.” Mereka berjalan keluar bersama. Di belakangnya, cincin pertunangan tetap tergeletak sendirian di atas meja. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nadzira tidak merasa kehilangan masa depan—ia merasa baru saja mendapatkannya kembali.

Comments (0)

Loading comments...