Logo

05iutt Wanita Itu Dipermalukan Karena Dianggap Miskin… Tapi Putranya Membalikkan Segalanya

Article image

 

“Sayang…!” suara Celine pecah di tengah keheningan. Arga menatapnya lama, lalu perlahan membantu Ratna berdiri tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dari Celine. “Jangan panggil aku begitu setelah apa yang kau lakukan pada ibuku,” katanya dingin. Celine langsung menangis. “Arga, aku tidak tahu dia ibumu! Kalau aku tahu—” Ratna memotong pelan, “Kalau kau tahu aku ibunya, kau tidak akan menamparku. Jadi kalau aku bukan siapa-siapa, aku pantas diperlakukan seperti tadi?” Kalimat itu membuat seluruh ruangan terdiam. Wajah Celine memucat. Untuk pertama kalinya, ia sadar masalahnya bukan kesalahan identitas, melainkan siapa dirinya sebenarnya.

Celine mencoba mendekati Arga. “Aku marah karena gaunku rusak. Aku kehilangan kendali.” Arga tertawa pendek tanpa sedikit pun humor. “Kehilangan kendali? Kau menampar perempuan tua, menghina kemiskinannya, lalu memaksanya berlutut.” Celine menggeleng keras. “Aku bisa mengganti semuanya. Aku akan minta maaf, aku akan memberikan apa pun.” Ratna menatapnya dengan mata basah. “Kau masih berpikir semua bisa dibayar dengan uang.” Beberapa tamu mulai menundukkan kepala, malu karena tadi hanya menonton. Arga kemudian berkata keras agar semua orang mendengar, “Mulai malam ini, siapa pun yang menganggap harga pakaian lebih tinggi daripada martabat manusia, tidak pantas berdiri di sisiku.”

Saat Celine hendak menjawab, seorang pria tua dari barisan tamu maju. Ia adalah Darma Adiprana, ayah Celine. “Cukup! Jangan hancurkan hubungan dua keluarga hanya karena perempuan itu tersinggung.” Ratna menatapnya tak percaya. Arga langsung berbalik. “Perempuan itu adalah ibu saya.” Darma mendengus. “Tetap saja, kita sedang membicarakan pernikahan, saham, dan masa depan dua perusahaan.” Celine menatap ayahnya. “Ayah, diam!” Namun Darma justru berkata, “Kau tinggal minta maaf. Arga akan mengerti.” Arga tersenyum dingin. “Sekarang saya mengerti. Kesombongan Celine tidak tumbuh sendirian.” Celine menatap ayahnya dengan marah. “Ayah yang selalu mengajariku bahwa orang miskin tidak perlu dihormati!”

Pengakuan itu membuat Ratna menutup mata sejenak. Arga lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Celine langsung mengenalinya: cincin pertunangan yang seharusnya diumumkan malam itu. “Arga, jangan…” bisiknya. Arga membuka kotak tersebut, lalu menutupnya kembali. “Aku datang malam ini untuk memperkenalkanmu kepada ibuku. Aku ingin meminta restunya.” Celine terisak. “Aku mencintaimu.” Arga menjawab, “Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau juga harus mampu menghormati perempuan yang membesarkanku.” Celine jatuh berlutut di depan Ratna. “Ibu Ratna… maafkan saya.” Ratna tidak membalas dengan penghinaan. Ia hanya berkata, “Berdirilah. Aku tidak ingin melihat siapa pun berlutut seperti kau memaksaku tadi.”

Celine perlahan berdiri sambil menangis. “Apakah masih ada kesempatan untukku?” tanyanya. Ratna memandang Arga, lalu kembali menatap Celine. “Pengampunan dan kepercayaan bukan hal yang sama.” Arga mengangguk. “Aku memaafkanmu suatu hari nanti mungkin bisa. Tapi menikahimu setelah melihat siapa dirimu malam ini? Tidak.” Celine menutup mulut, air matanya jatuh deras. “Jadi semuanya berakhir?” Arga menjawab tegas, “Hubungan kita, iya. Tapi hidupmu belum. Kau masih bisa memilih menjadi manusia yang berbeda.” Lalu ia menoleh kepada para tamu. “Dan kalian semua yang tadi diam—ingatlah, ketidakadilan menjadi besar karena terlalu banyak orang memilih menonton.”

Beberapa bulan kemudian, skandal malam itu tersebar ke seluruh lingkaran bisnis Jakarta. Darma kehilangan sejumlah jabatan setelah beberapa mantan pegawainya berani mengungkap perlakuan buruk di perusahaannya. Celine menghilang dari pesta-pesta elit. Suatu pagi, ia datang ke rumah Ratna tanpa gaun mahal, tanpa sopir, hanya membawa satu kantong jeruk. “Saya tidak datang meminta Arga kembali,” katanya. Ratna bertanya, “Lalu kenapa?” Celine menjawab, “Karena saya baru sadar, selama ini saya meminta orang menghormati saya karena nama keluarga saya. Saya ingin belajar bagaimana menghormati orang tanpa melihat namanya.” Ratna tersenyum tipis. “Kalau begitu, mulai dari satu hal sederhana: jangan pernah membuat orang merasa kecil agar kau terlihat besar.”

Setahun kemudian, Ratna menghadiri acara sosial yang didirikan Arga untuk pekerja rumah tangga dan karyawan berpenghasilan rendah. Di sana, ia melihat Celine bekerja sebagai relawan. Mereka berpapasan tanpa kemewahan, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan. Celine berkata pelan, “Ibu Ratna, saya belum menjadi orang baik. Tapi saya sedang belajar.” Ratna menjawab, “Itu lebih berarti daripada seribu permintaan maaf.” Arga datang dan menggenggam tangan ibunya. Celine menatapnya, lalu tersenyum pahit tanpa mencoba mendekat. Arga berkata, “Ibu, siap pulang?” Ratna mengangguk, kemudian menoleh pada Celine. “Ingat satu hal: harga gaun bisa dihitung. Harga diri manusia tidak.” Celine menunduk dan menjawab, “Sekarang saya mengerti.”

















 

Comments (0)

Loading comments...