Logo

05in- Ratih Menampar Alya dan Merampas Kalung dari Lehernya… Tapi Satu Telepon Membuatnya Langsung Ketakutan!

Article image


Ratih masih menatap Alya dengan wajah pucat, bibirnya gemetar setelah berbisik, “Apa yang sudah kamu lakukan...?” Alya tidak langsung menjawab. Bekas merah di pipinya dan goresan tipis di lehernya masih terlihat jelas—jejak dari tamparan serta kalung yang baru saja direnggut Ratih dengan paksa. Manajer senior yang berdiri beberapa meter dari mereka tiba-tiba menelan ludah dan berkata dengan suara bergetar, “Bu Ratih... sebaiknya Ibu jangan mengatakan apa-apa lagi.” Ratih langsung menoleh tajam. “Kenapa? Siapa perempuan ini sebenarnya?!” Sang manajer menunduk, tak berani menjawab. Alya akhirnya tersenyum tipis. “Tadi Ibu menyuruh saya tahu tempat saya, bukan? Sekarang sebentar lagi kita akan tahu siapa yang sebenarnya tidak tahu tempatnya.” Untuk pertama kalinya, Ratih mundur satu langkah.

Beberapa detik kemudian ponsel sang manajer berdering bertubi-tubi. Ia membaca layar, lalu wajahnya semakin pucat. “Bu Ratih... kantor pusat membekukan seluruh transaksi keluarga Wiratama dengan jaringan Maharani Group. Efektif sekarang.” Ratih tertawa gugup. “Maharani Group? Jangan bercanda! Keluarga saya sudah bekerja sama dengan mereka selama dua puluh tahun!” Alya menatapnya tanpa emosi. “Benar. Dan orang yang baru saja Ibu tampar bernama Alya Maharani.” Ruangan seketika sunyi. Kalung safir di tangan pegawai tampak seperti benda yang mendadak terlalu berat untuk dipegang. Ratih terdiam beberapa saat sebelum berbisik, “Maharani...? Kamu... putri Surya Maharani?” Alya menjawab dingin, “Bukan. Saya ketua baru kelompok perusahaan itu. Ayah saya menyerahkan kendali kepada saya enam bulan lalu. Tapi rupanya keluarga Ibu tidak pernah merasa perlu mengenal wajah orang yang menandatangani kontrak mereka.”

Ratih langsung kehilangan seluruh kesombongannya. Ia mendekati Alya dengan panik. “Dengar, Alya... tadi aku emosi. Kalung itu pusaka keluarga kami. Aku kira kamu mengambilnya tanpa izin.” Alya mengangkat alis. “Jadi kalau saya bukan Alya Maharani, tamparan itu menjadi pantas? Goresan di leher saya menjadi wajar? Penghinaan ‘orang rendahan’ tadi boleh dilakukan?” Ratih terdiam. Alya menunjuk kalung safir tersebut. “Dan ada satu hal lagi yang Ibu bahkan belum tahu.” Ratih menatapnya ketakutan. Alya berkata, “Kalung itu bukan lagi milik keluarga Wiratama. Perusahaan keluarga Ibu menggadaikannya tiga bulan lalu sebagai jaminan utang. Maharani Group yang menebusnya. Hari ini saya datang untuk memeriksa barang yang secara hukum sudah menjadi aset kami.” Ratih tercekat. “Tidak mungkin... suamiku tidak pernah mengatakan itu!” Alya menjawab, “Mungkin karena dia malu mengaku bahwa keluarga yang Ibu banggakan sedang hampir bangkrut.”

Pintu salon terbuka dan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk tergesa-gesa. Ratih langsung membeku. “Mas... kenapa kamu di sini?” Itu adalah suaminya, Harsono Wiratama. Ia bahkan tidak menjawab Ratih terlebih dahulu. Ia berjalan menuju Alya dan membungkuk. “Bu Alya, saya menerima pemberitahuan penghentian restrukturisasi. Tolong jangan batalkan kesepakatan karena tindakan istri saya. Ribuan pegawai bergantung pada perusahaan kami.” Ratih menatap suaminya tak percaya. “Restrukturisasi? Kita benar-benar sedang bangkrut?” Harsono menatapnya dengan marah. “Dan kamu baru saja menyerang satu-satunya orang yang bersedia menyelamatkan perusahaan kita!” Ratih menangis. “Aku tidak tahu siapa dia!” Harsono membentak, “Itulah masalahmu! Kamu selalu baik hanya kepada orang yang kamu anggap penting!” Alya mengangkat tangan. “Pak Harsono, saya tidak akan menghukum ribuan pegawai karena kesalahan satu orang. Kesepakatan bisa tetap berjalan. Tetapi ada syarat baru.”

Ratih segera menatap Alya dengan sedikit harapan. Alya melanjutkan, “Ratih Wiratama tidak boleh lagi memegang posisi apa pun dalam yayasan, perusahaan, atau kegiatan publik yang menggunakan nama keluarga Wiratama.” Ratih terperanjat. “Kamu ingin menghancurkan hidupku?!” Alya menggeleng. “Tidak. Saya justru memilih untuk tidak menghancurkannya. Kalau tujuan saya balas dendam, satu telepon cukup untuk membuat semua bank menutup pintu bagi keluarga Ibu.” Ratih mulai terisak. “Lalu kenapa kamu masih menyelamatkan perusahaan kami setelah semua yang kulakukan?” Alya menjawab, “Karena pegawai kalian tidak menampar saya. Sopir kalian tidak merobek kalung dari leher saya. Anak-anak mereka tidak pantas kehilangan makanan hanya karena kesombongan Ibu.” Harsono menundukkan kepala. Ratih akhirnya berkata pelan, “Saya... minta maaf.” Alya menatapnya lama. “Jangan minta maaf kepada Alya Maharani. Minta maaf kepada perempuan yang tadi Ibu anggap tidak punya kuasa.”

Ratih kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan para sosialita di ruangan itu. Ia mendekati Alya, menundukkan kepala dalam-dalam dan berkata, “Saya salah. Bukan karena sekarang saya tahu siapa Anda, tetapi karena saya sadar saya telah memperlakukan manusia berdasarkan nama keluarga dan pakaian mereka.” Alya mengambil kalung safir dari tangan pegawai, memandangnya sebentar, lalu menyerahkannya kembali kepada Harsono. “Simpan kalung ini.” Ratih terkejut. “Setelah semua ini, kamu mengembalikannya?” Alya menjawab, “Saya tidak membutuhkan kalung untuk membuktikan siapa saya. Tetapi mulai hari ini benda itu bukan simbol status. Jadikan ia pengingat tentang harga yang hampir keluarga kalian bayar karena kesombongan.” Harsono menerima kalung itu dengan tangan gemetar. “Saya tidak akan melupakan ini.” Alya menggeleng. “Yang harus mengingatnya bukan Bapak. Dia.” Tatapannya kembali kepada Ratih.

Enam bulan kemudian, Ratih kembali ke salon perhiasan yang sama tanpa rombongan, tanpa jabatan, dan tanpa hak istimewa. Seorang pegawai baru yang berpakaian sederhana tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak kecil di dekat kakinya. Perempuan itu panik. “Maaf, Bu! Saya benar-benar tidak sengaja!” Semua orang menunggu, seolah mengingat Ratih yang dulu. Namun Ratih membungkuk, membantu mengambil kotak tersebut dan berkata, “Tidak apa-apa. Jangan takut. Tidak ada benda di ruangan ini yang lebih mahal daripada harga diri seseorang.” Dari pintu masuk, Alya ternyata sedang memperhatikannya. Ratih tersenyum malu. “Bu Alya... saya tidak tahu Anda datang.” Alya menjawab, “Bagus. Karena saya memang ingin melihat siapa diri Anda ketika merasa tidak ada orang penting yang sedang melihat.” Ratih terdiam, lalu mengangguk. Alya tersenyum tipis dan berjalan pergi. Bekas goresan di lehernya sudah lama hilang, tetapi pelajarannya tertinggal jauh lebih lama: kekuasaan sejati bukanlah kemampuan membuat orang lain berlutut, melainkan kemampuan tetap menghormati mereka ketika kita merasa tidak membutuhkan apa pun dari mereka.

Comments (0)

Loading comments...