Logo

04iutt Miliarder Itu Menghina Dimas di Depan Semua Orang… Detik Berikutnya Dia Malah Berlutut di Depannya

Article image

“Nama Ayahku… Arya Wiratama,” ucap Dimas akhirnya. Wajah Raka seketika kehilangan warna. Tangannya perlahan terlepas dari bahu bocah itu, sementara beberapa tamu tua saling berpandangan. “Tidak mungkin…” bisiknya. “Arya sudah meninggal dua belas tahun lalu.” Dimas menggeleng keras. “Ayah masih hidup! Dia sakit dan sekarang ada di rumah sakit. Sebelum pingsan, dia menyuruhku mencari pria yang memakai jam yang sama.” Raka menatap ukiran kecil di arlojinya, simbol keluarga yang hanya dimiliki dua orang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Di mana dia?” Dimas menjawab, “Ayah bilang kalau aku menemukanmu, aku harus bilang satu hal: jangan percaya Paman Hendra.” Di belakang kerumunan, seorang pria tua berjas hitam tiba-tiba membeku.

Raka langsung berdiri dan menatap Hendra Wiratama, pamannya sekaligus ketua utama perusahaan keluarga. “Paman, apa maksud semua ini?” Hendra tersenyum tipis. “Jangan percaya omong kosong anak jalanan.” Namun Dimas mengeluarkan liontin kecil dari sakunya. Di dalamnya ada foto Raka muda berdiri bersama Arya, keduanya memakai jam yang sama. “Ayah menyimpan ini seumur hidupnya,” kata Dimas. Raka merampas foto itu dengan tangan gemetar. “Aku ingat hari ini… Ayah memberikan jam itu kepada kami berdua.” Hendra membentak, “Cukup! Bawa anak itu keluar!” Raka berbalik tajam. “Siapa pun yang menyentuh dia, keluar dari gedung ini sekarang.” Suasana gala berubah total. Untuk pertama kalinya, seluruh ruangan melihat Raka bukan sebagai pengusaha dingin, melainkan seorang adik yang baru sadar kakaknya mungkin dirampas darinya.

Malam itu juga Raka membawa Dimas ke rumah sakit kecil di pinggir Jakarta. Di sana, seorang pria kurus dengan wajah lelah terbaring di ranjang. Begitu Raka masuk, mata pria itu terbuka perlahan. “Kau akhirnya datang…” katanya. Raka berhenti di ambang pintu. “Arya?” Pria itu tersenyum lemah. “Masih ingat adikmu?” Raka mendekat lalu memeluknya tanpa peduli pada jas mahalnya. “Aku mengira kau mati! Mereka menunjukkan mobilmu terbakar!” Arya menutup mata menahan emosi. “Hendra yang mengaturnya. Dia ingin sahamku. Aku selamat, tapi dia mengancam akan membunuh istri dan anakku kalau aku kembali.” Dimas berdiri di samping ranjang. “Ayah, kenapa Ayah tidak pernah bilang bahwa kami punya keluarga?” Arya menjawab, “Karena kadang keluarga adalah orang yang paling berbahaya.”

Keesokan harinya, Raka memanggil rapat darurat seluruh dewan direksi. Hendra datang dengan wajah tenang, tetapi ketenangannya hancur ketika Arya masuk menggunakan kursi roda bersama Dimas. “Masih mau bilang dia sudah mati?” tanya Raka. Hendra berdiri. “Ini penipuan!” Arya meletakkan sebuah flash drive dan dokumen lama di meja. “Ini bukti pemalsuan saham, pembayaran kepada orang yang membakar mobilku, dan rekening yang kau gunakan.” Hendra berteriak, “Kalian tidak bisa membuktikan apa pun!” Raka menyalakan rekaman suara. Terdengar jelas suara Hendra dua belas tahun lalu: “Buat kecelakaan itu terlihat sempurna.” Semua direksi terdiam. Raka menatap pamannya dingin. “Selama ini aku membangun kerajaan di atas kebohonganmu.” Hendra menunjuk Arya. “Kalau dia kembali, kau kehilangan separuh semuanya!” Raka menjawab, “Lebih baik kehilangan separuh harta daripada kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.”

Polisi kemudian membawa Hendra pergi setelah bukti diserahkan. Sebelum diborgol, ia menatap Raka penuh kebencian. “Kau pikir Arya akan memaafkanmu? Kau menikmati kekayaannya selama bertahun-tahun!” Raka terdiam. Arya justru berkata, “Raka juga korban kebohonganmu.” Dimas menatap Raka lalu bertanya polos, “Paman… waktu pertama melihatku, kenapa Paman memanggilku anak kumal?” Kata-kata itu menghantam Raka lebih keras daripada tuduhan Hendra. Ia berlutut di depan Dimas. “Karena aku sombong. Dan aku salah.” Dimas bertanya, “Kalau aku bukan anak Arya, apa Paman tetap akan minta maaf?” Raka terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Seharusnya iya. Manusia tidak perlu punya nama besar untuk pantas dihormati.”

Beberapa bulan kemudian, Arya resmi kembali sebagai pemegang saham keluarga Wiratama. Namun ia menolak rumah mewah yang ditawarkan Raka. “Aku tidak butuh istana,” katanya. “Aku cuma ingin Dimas punya masa depan.” Raka lalu menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Dimas. Di dalamnya ada jam mekanik baru dengan simbol yang sama. Dimas langsung menggeleng. “Aku belum pantas memakai ini.” Arya tersenyum. “Simbol itu bukan tanda orang kaya.” Raka menambahkan, “Itu tanda bahwa kau tidak boleh melupakan siapa dirimu.” Dimas memandangi dua pria di depannya. “Kalau begitu, aku akan memakainya saat aku berhasil dengan usahaku sendiri.” Raka tertawa kecil. “Keras kepala seperti ayahmu.” Arya menjawab, “Dan untungnya tidak sombong seperti pamannya dulu.”

Bertahun-tahun kemudian, Dimas kembali ke ballroom tempat semuanya bermula, kali ini mengenakan setelan sederhana sebagai penerima beasiswa nasional yang didirikan keluarganya untuk anak-anak kurang mampu. Di pergelangan tangannya terpasang jam itu. Seorang pelayan muda tanpa sengaja menjatuhkan gelas di dekatnya dan langsung ketakutan. Dimas membantu memungut pecahannya lalu berkata, “Tidak apa-apa. Semua orang bisa membuat kesalahan.” Dari kejauhan, Raka tersenyum. Arya berbisik, “Kau lihat? Dia mengubah warisan kita.” Raka mengangguk. “Bukan dengan uang.” Dimas mendekati mereka dan berkata, “Ayah, Paman… dulu jam ini membawa aku menemukan keluarga. Sekarang aku ingin simbol ini berarti satu hal.” Arya bertanya, “Apa?” Dimas tersenyum. “Bahwa tidak ada anak miskin yang boleh diperlakukan seolah hidupnya tidak berharga.”












Comments (0)

Loading comments...