04in-“JANGAN MAKAN ITU!” Bocah Kotor Ini Menghentikan Arga… Tuduhannya Membuat Wajah Sang Istri Berubah!

Ratih masih terpaku di sisi meja, wajahnya pucat dan napasnya pendek. Tatapan Arga yang tak terlihat terasa seperti pisau menembus seluruh kebohongannya. Dimas telah diseret keluar setelah memperingatkan Arga agar melihat wajah Ratih, sementara daging wagyu itu tetap tak tersentuh di atas meja. Akhirnya Arga berdiri perlahan dan berkata, “Ratih, jangan sentuh makanan itu.” Jari Ratih langsung membeku. “Apa maksudmu? Kamu percaya pada gelandangan itu daripada istrimu sendiri?” Arga tidak menjawab pertanyaannya. Ia mengambil piring tersebut, menjauhkannya dari Ratih, lalu memanggil manajer restoran. “Simpan semuanya. Tidak boleh ada yang dibuang.” Ratih memaksakan senyum. “Kamu mempermalukanku di depan semua orang, Arga.” Arga menatapnya dingin. “Kalau Dimas berbohong, kamu tidak punya alasan untuk takut. Jadi kenapa tanganmu gemetar?”
Ratih mencoba pergi, tetapi Arga berdiri menghalangi jalannya. “Kita pulang sekarang. Masalah ini selesai di rumah.” Ratih berkata tajam. Arga menggeleng. “Tidak. Malam ini semuanya selesai di sini.” Ia meminta staf memeriksa rekaman kamera dari area meja mereka. Beberapa menit kemudian, manajer kembali dengan wajah tegang membawa tablet. “Pak Arga… ada sesuatu yang harus Bapak lihat.” Ratih langsung menyela, “Tidak perlu! Kamera restoran tidak selalu jelas!” Arga menoleh pelan. “Aku bahkan belum bertanya apa yang terlihat. Kenapa kamu sudah membela diri?” Ratih kehilangan kata-kata. Manajer memutar rekaman: terlihat Ratih beberapa menit sebelum Arga datang, membuka sebuah botol kecil dari dalam tasnya dan meneteskan sesuatu ke saus di piring suaminya. Ruangan seakan berhenti bernapas. Arga berbisik, “Jadi anak itu mengatakan kebenaran.”
“Aku bisa menjelaskan!” Ratih menjerit sambil meraih lengan Arga. “Itu bukan racun! Itu cuma obat!” Arga melepaskan tangannya. “Obat apa yang harus diberikan diam-diam kepada suamimu?” Ratih menangis semakin keras. “Aku tidak berniat membunuhmu! Aku hanya ingin kamu sakit beberapa hari!” Kalimat itu membuat para tamu tersentak. Arga memandangnya dengan ketidakpercayaan mendalam. “Kenapa?” Ratih terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Karena besok kamu mau mengubah surat wasiat dan menyerahkan sebagian besar saham kepada putrimu dari pernikahan pertama. Kalau kamu jatuh sakit, rapat itu tertunda. Aku hanya butuh waktu.” Arga mengepalkan tangan, tetapi tetap menahan diri. “Dua puluh tahun menikah… dan untuk saham, kamu berani mempertaruhkan nyawaku?” Ratih tersedu. “Aku takut kehilangan semuanya!” Arga menjawab, “Dan malam ini ketakutanmu membuatmu kehilangan jauh lebih banyak.”
Arga segera memerintahkan keamanan membawa Dimas kembali. Beberapa menit kemudian bocah itu muncul di pintu, masih terengah-engah dan ketakutan. Salah satu satpam yang tadi menyeretnya kini terlihat malu. Arga berjalan mendekatinya. Dimas mundur sedikit. “Saya tidak mencuri apa-apa, Pak. Saya cuma lihat dia menuangkan sesuatu.” Arga berlutut agar sejajar dengannya. “Aku tahu. Dan kalau kamu tidak datang, mungkin aku sudah memakan makanan itu.” Dimas menggeleng. “Saya cuma takut Bapak tidak percaya.” Arga menatap dua satpam. “Kalian menyeret anak ini keluar karena saya membiarkannya terjadi. Kesalahan itu milik saya juga.” Kemudian ia menatap Dimas lagi. “Maafkan saya.” Dimas terdiam, jelas tidak menyangka seorang pria sekaya Arga akan meminta maaf kepadanya. “Saya… cuma ingin Bapak selamat.” Arga mengangguk. “Dan malam ini kamu menyelamatkanku bukan hanya dari makanan itu, tapi dari orang yang selama ini hidup di sisiku.”
Ratih mendekat dengan putus asa. “Arga, jangan hancurkan keluarga kita karena satu kesalahan!” Arga berdiri dan menatapnya lama. “Satu kesalahan? Kamu mencoba membuatku sakit demi menguasai keputusan bisnis, lalu menghina satu-satunya orang yang berusaha menghentikanmu.” Ratih menangis. “Aku masih istrimu!” Arga menjawab, “Justru itu yang membuatnya lebih buruk.” Ia melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya perlahan di atas meja di samping piring yang belum disentuh. “Mulai malam ini, pengacara saya yang akan berbicara denganmu.” Ratih menatap cincin itu dengan mata membesar. “Kamu menceraikanku?” Arga berkata pelan, “Aku kehilangan kepercayaan kepadamu sebelum kehilangan cincin ini. Pernikahan tanpa kepercayaan hanyalah rumah indah yang sudah terbakar dari dalam.”
Ketika staf membawa Ratih ke ruangan terpisah untuk menunggu penyelidikan lebih lanjut, Arga memanggil Dimas kembali. “Kamu tinggal di mana?” tanyanya. Dimas menunduk. “Kadang di bawah jembatan, kadang dekat terminal. Ibu saya sudah meninggal.” Arga terdiam beberapa detik. “Mulai malam ini kamu tidak tidur di jalan lagi.” Dimas langsung mengangkat kepala. “Saya tidak mau dikasihani, Pak.” Arga tersenyum tipis. “Bagus. Aku juga tidak menawarkan belas kasihan. Aku menawarkan kesempatan. Sekolah, tempat tinggal, dan pekerjaan ketika kamu cukup umur. Sisanya kamu perjuangkan sendiri.” Dimas menggigit bibir menahan tangis. “Kenapa Bapak mau melakukan itu untuk saya?” Arga menjawab, “Karena saat semua orang di ruangan ini melihat pakaianmu yang kotor, kamu satu-satunya yang berani melakukan hal yang benar. Itu lebih berharga daripada jas mana pun yang kami pakai malam ini.”
Beberapa bulan kemudian, Dimas kembali ke restoran yang sama—kali ini mengenakan seragam sekolah yang bersih, membawa buku di bawah lengannya. Arga sudah menunggu di meja dekat jendela dengan pemandangan Jakarta. “Nilai ujianmu bagaimana?” tanyanya. Dimas tersenyum bangga. “Nomor dua di kelas. Semester depan saya kejar nomor satu.” Arga tertawa kecil. “Itu baru ancaman yang ingin saya dengar.” Dimas kemudian melihat meja tempat kejadian malam itu. “Bapak masih takut makan di sini?” Arga menggeleng. “Tidak. Justru tempat ini mengingatkanku bahwa kebenaran kadang datang dari orang yang paling mudah kita abaikan.” Dimas duduk di hadapannya. Arga mendorong sebuah piring makanan ke tengah meja dan berkata, “Sekarang makan. Kamu sudah menyelamatkan hidupku sekali, jangan membuatku harus menyelamatkanmu dari kelaparan setiap hari.” Dimas tertawa. Di luar jendela, lampu Jakarta berkilauan, dan malam yang dulu hampir berakhir dengan pengkhianatan kini menjadi awal kehidupan baru—karena seorang anak miskin yang dianggap tidak berharga ternyata memiliki keberanian yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun.
Comments (0)
Loading comments...


















