Logo

04-“Saat Sang Ibu Melihat Kondisi Putranya, Tatapannya Langsung Berubah”

Article image

Maya menatap tangan Raka yang masih mencengkeram pergelangan tangannya. Tatapan dingin sang kolonel perlahan berubah menjadi cemas. “Apa yang dia ambil darimu?” tanyanya pelan. Raka menelan ludah, lalu berbisik, “Flashdisk milik Ayah.” Maya membeku. Nama suaminya yang telah meninggal tiga tahun lalu seolah kembali memenuhi ruangan. Raka menjelaskan bahwa sebelum meninggal, ayahnya pernah menitipkan sebuah flashdisk kepadanya dan berkata agar benda itu hanya diberikan kepada Maya jika suatu hari keluarga mereka berada dalam bahaya. “Aku bahkan belum pernah membukanya, Bu,” ujar Raka dengan suara bergetar. Maya menggenggam bahu putranya. “Kalau Dimas sampai menyiksamu demi benda itu, berarti isinya jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.”

Maya segera menelepon Gita lagi. “Batalkan perintah sebelumnya. Jangan tangkap Dimas dulu. Ikuti dia tanpa terlihat.” Gita terdiam sesaat. “Kolonel, apakah Ibu yakin?” Maya memandang hujan yang menghantam kaca jendela. “Aku ingin tahu kepada siapa dia menyerahkan flashdisk itu.” Beberapa jam kemudian, laporan masuk. Dimas menuju sebuah gudang kosong di pinggiran Jakarta dan bertemu dengan seorang pria berpangkat tinggi dari lingkungan militer. Ketika Gita mengirim foto pria itu, wajah Maya langsung pucat. “Jenderal Surya…” gumamnya. Raka yang mendengar nama itu langsung menoleh. Maya mengepalkan tangan. “Dia sahabat terdekat ayahmu.” Raka berbisik, “Kalau begitu… Ayah selama ini menyimpan rahasia tentang orang yang dia percaya?”

Tanpa memberi tahu siapa pun selain Gita, Maya membawa tim kecil menuju gudang tersebut. Dari balik kendaraan taktis, mereka melihat Dimas menyerahkan flashdisk kepada Jenderal Surya. Namun sebelum Surya sempat pergi, Maya muncul dari kegelapan. “Simpan benda itu di meja, Jenderal.” Surya tersenyum tipis. “Maya, kau masih sama. Terlalu berani.” Maya mengangkat dagu. “Dan kau masih sama. Terlalu yakin semua orang takut padamu.” Dimas mundur beberapa langkah, panik. Maya menatapnya tajam. “Kau menyentuh anakku hanya untuk mendapatkan barang ini?” Dimas menjawab terbata, “Saya cuma menjalankan perintah.” Surya langsung memotong, “Diam!” Maya tersenyum dingin. “Terlambat. Malam ini, semua topeng kalian jatuh.”

Gita kemudian menghubungkan flashdisk ke laptop aman militer. Isinya membuat semua orang terdiam: rekaman transaksi ilegal, penyalahgunaan dana, perintah operasi palsu, serta bukti bahwa kematian suami Maya tiga tahun lalu bukan kecelakaan. Maya menatap layar dengan mata berkaca-kaca. Dalam salah satu rekaman, suara mendiang suaminya terdengar, “Jika Maya melihat ini, berarti Surya sudah menemukan jalan menuju keluarga kita.” Maya hampir kehilangan napas. Surya mencoba meraih laptop, tetapi Gita segera mengamankannya. “Jangan bergerak, Jenderal.” Surya berteriak, “Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan!” Maya melangkah mendekat. “Aku tahu persis. Aku sedang berhadapan dengan orang yang mengkhianati sahabatnya sendiri… dan hampir menghancurkan anakku.”

Surya akhirnya tertawa sinis. “Kau pikir bukti itu cukup menjatuhkanku? Aku punya orang di mana-mana.” Maya tidak menjawab. Ia hanya menyalakan layar besar di gudang. Wajah beberapa pejabat pengawas militer muncul melalui sambungan video langsung. Gita berkata, “Semua file sudah dikirim ke Inspektorat, Polisi Militer, dan kejaksaan sebelum kita masuk.” Senyum Surya lenyap. Maya kemudian menatap Dimas. “Kau masih punya satu kesempatan. Katakan siapa yang menyuruhmu menyerang Raka.” Dimas jatuh berlutut. “Jenderal Surya! Semua perintah dari dia! Saya punya rekamannya!” Surya meraung, “Pengkhianat!” Maya membalas tanpa menaikkan suara, “Bukan. Dia hanya terlambat memilih sisi yang benar.” Beberapa detik kemudian, petugas masuk dan memborgol Surya.

Keesokan paginya, Maya kembali ke rumah sakit. Raka masih terlihat lemah, tetapi kali ini wajahnya lebih tenang. Maya duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangannya. “Surya ditahan. Dimas juga menyerahkan seluruh bukti,” katanya. Raka menatap ibunya lama. “Jadi Ayah… benar-benar dibunuh karena mencoba menghentikan mereka?” Maya menahan air mata. “Ya.” Raka menutup mata, lalu berbisik, “Aku benci mereka.” Maya menggeleng. “Jangan biarkan kebencian mewarisi hidupmu. Ayahmu tidak menyimpan bukti itu agar kita membalas dendam. Dia menyimpannya agar kebenaran suatu hari bisa pulang.” Raka mulai menangis. Maya memeluknya erat. “Sudah selesai, Nak. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang mengejarmu.”

Beberapa bulan kemudian, persidangan militer menjatuhkan hukuman berat kepada Surya dan jaringan yang terlibat. Nama suami Maya dibersihkan dan secara resmi dinyatakan sebagai perwira yang gugur ketika mengungkap pengkhianatan internal. Pada upacara penghormatan, Raka berdiri di samping ibunya dengan tubuh yang telah pulih. Maya meletakkan medali kehormatan di depan foto suaminya. “Kau akhirnya menang,” bisiknya. Raka menggenggam tangan Maya. “Bukan Ayah saja, Bu. Kita semua menang.” Maya tersenyum untuk pertama kalinya tanpa beban. “Tidak, Raka. Kebenaran yang menang.” Saat mereka berjalan meninggalkan halaman upacara, Raka bertanya, “Sekarang kita pulang?” Maya menatap putranya, lalu mengangguk. “Ya. Kali ini, kita benar-benar pulang.” Dan untuk pertama kalinya sejak malam mengerikan di rumah sakit itu, Maya tidak lagi berjalan sebagai seorang kolonel yang mencari musuh—melainkan sebagai seorang ibu yang akhirnya berhasil membawa anaknya kembali ke tempat yang aman.

Comments (0)

Loading comments...