Logo

03in-Semua Pegawai Menertawakan Pria Berpakaian Sederhana Ini… Tapi Mereka Langsung Diam Setelah Melihat Reaksi Direktur!

Article image


“Turun ke sini. Sekarang.” Suara Raka begitu tenang hingga justru terdengar lebih mengerikan daripada bentakan. Nadine membeku di samping sedan hitam itu, sementara para karyawan yang tadi menahan tawa kini saling memandang dengan wajah pucat. Dari balik kaca lantai atas, Bima terlihat berdiri kaku dengan telepon di telinganya—persis seperti ketakutan terbesar Nadine baru saja menjadi nyata. Beberapa detik kemudian, pintu lift eksekutif terbuka. Bima keluar dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Nadine segera tersenyum gugup. “Pak Bima, pria ini mengganggu pelanggan dan menyentuh mobil tanpa izin—” Bima bahkan tidak menatapnya. Ia berjalan lurus menuju Raka, berhenti di depannya, lalu menundukkan kepala. “Maaf membuat Bapak menunggu, Pak Raka. Saya tidak tahu Bapak datang hari ini.” Senyum Nadine langsung lenyap.

Ruangan menjadi benar-benar sunyi. Nadine menatap Bima seolah tidak memahami apa yang baru saja didengarnya. “Pak… Bima? Kenapa Bapak bicara seperti itu kepadanya?” tanyanya terbata-bata. Bima akhirnya menoleh, tetapi tatapannya kini dingin. “Kepadanya? Kamu bahkan tidak tahu dengan siapa kamu sedang berbicara?” Nadine menelan ludah. Raka memasukkan teleponnya kembali ke saku dan berkata datar, “Tidak perlu menjelaskan siapa saya dulu. Saya ingin mendengar penjelasannya.” Ia menunjuk kain microfiber yang masih berada di tangan Nadine. “Kenapa kamu membersihkan gagang pintu hanya karena saya hampir menyentuhnya?” Nadine buru-buru menjawab, “Saya cuma menjaga mobil, Pak. Mobil itu sangat mahal. Saya pikir Bapak hanya melihat-lihat dan—” Raka memotong pelan, “Dan pakaian saya membuatmu yakin saya tidak mampu membelinya?”

Wajah Nadine memerah. Beberapa pegawai yang tadi mengejeknya mulai menundukkan kepala. Bima berkata tajam, “Jawab pertanyaan beliau.” Nadine menarik napas gemetar. “Ya… saya salah menilai. Tapi saya tidak bermaksud sejauh itu.” Raka menatapnya beberapa detik. “Kamu menyuruh saya keluar. Kamu memukul tangan saya ketika saya ingin menyentuh mobil. Kamu membersihkan tempat yang bahkan belum sempat saya sentuh, seolah saya membawa kotoran. Lalu kamu menyebut saya kampungan. Bagian mana yang tidak sengaja?” Nadine tidak mampu menjawab. Tiba-tiba Bima berkata, “Pak Raka datang tanpa memberi tahu siapa pun karena beliau ingin melihat sendiri pelayanan showroom ini.” Nadine memucat. “Melihat… pelayanan?” Bima mengangguk. “Showroom ini berada di bawah perusahaan yang beliau dirikan.” Suara napas tertahan terdengar di seluruh ruangan.

Nadine hampir kehilangan keseimbangan. “Bapak… pemilik perusahaan ini?” bisiknya. Raka tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia berjalan menuju sedan hitam yang tadi dilarang disentuhnya, lalu meletakkan telapak tangannya dengan tenang di atas kap mobil. “Tadi saya bertanya berapa harga mobil ini. Kamu tidak pernah menjawab.” Bima berkata, “Unit flagship itu sekitar—” Raka mengangkat tangan menghentikannya. “Bukan harga mobil yang ingin saya tahu sekarang. Saya ingin tahu harga sebuah kesombongan.” Nadine mulai menangis. “Pak Raka, tolong… saya membutuhkan pekerjaan ini. Ibu saya bergantung pada saya. Beri saya satu kesempatan.” Raka menatapnya tanpa kemarahan. “Ketika kamu mengira saya miskin, apakah kamu pernah berpikir saya mungkin punya keluarga yang bergantung pada saya? Kamu bahkan tidak memberi saya kesempatan untuk berdiri di ruangan ini dengan harga diri.”

Bima segera berkata, “Saya akan memecatnya sekarang juga. Termasuk semua karyawan yang ikut menertawakan Bapak.” Namun Raka tiba-tiba menjawab, “Tidak.” Semua orang terkejut. Nadine mengangkat wajahnya, seolah melihat secercah harapan. Raka melanjutkan, “Memecatnya dalam lima menit terlalu mudah. Dia akan pulang dengan marah dan menganggap dirinya korban. Saya ingin dia memahami apa yang sebenarnya dia lakukan.” Ia menatap Nadine. “Mulai besok, selama tiga bulan kamu tidak lagi menangani pelanggan VIP. Kamu akan bekerja di bagian penerimaan umum, menemui setiap orang yang masuk tanpa melihat pakaian, kendaraan, jam tangan, atau status mereka.” Nadine terisak. “Dan setelah tiga bulan?” Raka menjawab, “Semua staf akan menilai apakah kamu berubah. Bukan saya. Kalau orang-orang yang posisinya lebih rendah darimu merasa kamu masih memperlakukan mereka seperti sampah, kamu pergi.”

Nadine menundukkan kepala dalam-dalam. “Saya mengerti… dan saya benar-benar minta maaf.” Raka menggeleng perlahan. “Jangan minta maaf karena sekarang kamu tahu saya punya kekuasaan. Itu tidak berarti apa-apa.” Ia menunjuk seorang petugas kebersihan tua yang sejak tadi berdiri jauh di belakang. “Besok, kalau orang itu datang memakai seragam lusuh dan bertanya tentang mobil termahal di sini, bisakah kamu melayaninya dengan senyum yang sama seperti seorang miliarder?” Nadine memandang petugas itu. Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan rasa malu yang nyata. “Saya akan mencoba.” Raka menjawab tegas, “Bukan mencoba. Lakukan. Karena mungkin orang yang kamu hina tidak punya perusahaan, tidak punya jabatan, dan tidak bisa membuatmu kehilangan pekerjaan. Justru kepada orang seperti itulah karakter aslimu terlihat.” Bima menunduk. “Saya juga bertanggung jawab, Pak. Budaya seperti ini tidak muncul dalam sehari.”

Raka akhirnya berbalik menuju pintu keluar. Sebelum pergi, Bima bertanya, “Pak Raka, bagaimana dengan sedan yang tadi Bapak lihat? Kami bisa menyiapkannya malam ini.” Raka berhenti dan tersenyum tipis untuk pertama kalinya. “Mobilnya bagus. Tapi hari ini saya menemukan sesuatu yang lebih penting untuk diperbaiki daripada mobil.” Ia lalu menoleh kepada Nadine. “Tiga bulan dari sekarang saya akan datang lagi dengan pakaian yang sama. Mungkin lebih sederhana. Dan saya tidak akan memberi tahu siapa pun.” Nadine mengangguk sambil menyeka air mata. “Kali berikutnya, Bapak akan mendapat pelayanan yang pantas.” Raka menggeleng. “Bukan saya. Semua orang.” Tiga bulan kemudian, ketika Raka benar-benar kembali dengan kemeja sederhana, ia melihat Nadine sedang membukakan pintu untuk seorang pengemudi ojek yang hanya ingin melihat mobil impiannya. “Silakan masuk, Pak. Tidak perlu membeli untuk diperlakukan dengan hormat.” Raka tidak mengatakan apa pun—ia hanya tersenyum dan berjalan pergi, karena akhirnya Nadine memahami bahwa harga manusia tidak pernah tercetak pada pakaian yang mereka kenakan.

Comments (0)

Loading comments...