Logo

03IDHH Istrinya Mengusir Sang Ibu di Tengah Hujan, Tapi Satu Telepon Mengubah Segalanya

Article image

Arman membatalkan penerbangannya malam itu juga. Tanpa berkata banyak, ia berbalik menuju pintu keluar bandara, sementara bayangan ibunya berlutut di tengah hujan terus menghantui pikirannya.

Kurang dari satu jam kemudian, mobil Arman berhenti di depan rumah. Dari balik kaca, ia melihat Ibu Ratna masih duduk menggigil sambil memeluk foto keluarga yang basah.

Arman langsung berlari turun, melepas jasnya, lalu menyelimuti bahu ibunya. “Ibu, maafkan aku. Aku terlambat tahu,” katanya dengan suara pecah menahan amarah yang semakin membesar.

Ibu Ratna menatap wajah putranya dan mencoba tersenyum. “Jangan marah karena Ibu,” bisiknya. Namun tangan dinginnya yang gemetar membuat dada Arman semakin sesak malam itu.

Ketika Arman membawa ibunya masuk, Maya muncul dari lorong dengan wajah pucat. “Mas, dengarkan dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” katanya terburu-buru sambil mendekat.

Arman berhenti di tengah ruang tamu. Tatapannya dingin. “Aku melihat ibuku basah kuyup di depan rumah. Apa lagi yang harus aku pahami, Maya, setelah semua ini?”

Maya mencoba mendekat, tetapi Bi Sari akhirnya keluar dari balik pintu. Dengan suara gemetar ia berkata, “Tuan, saya melihat semuanya sejak awal. Ibu Ratna tidak bersalah.”

Arman meminta rekaman kamera keamanan dibuka. Layar besar menampilkan Maya mendorong Ibu Ratna, melempar koper, lalu membiarkannya berlutut sendirian di tengah hujan deras tanpa belas kasihan.

Wajah Maya kehilangan seluruh warna. Ia mencoba meraih tangan Arman. “Aku khilaf. Aku sedang emosi. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya sekali lagi malam ini.”

Arman menarik tangannya perlahan. “Kesalahan adalah ucapan yang tidak sengaja. Tapi mengusir seorang ibu tua ke tengah badai adalah pilihan yang kamu buat dengan sadar.”

Ruangan menjadi sunyi. Maya menatap Ibu Ratna, lalu mulai menangis. Untuk pertama kalinya, kesombongannya runtuh ketika semua orang melihat apa yang sebenarnya telah ia lakukan.

Ibu Ratna justru berkata pelan, “Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin rumah ini kembali menjadi tempat yang tidak membuat siapa pun takut pulang.”

Kalimat itu membuat Arman menunduk. Ia kemudian meminta staf menyiapkan kamar hangat untuk ibunya, memanggil dokter, dan memastikan seluruh barang Ibu Ratna dikeringkan malam itu.

Kepada Maya, Arman berkata tegas, “Mulai malam ini, kita berpisah sementara. Kamu tidak boleh tinggal di sini sampai semua ini selesai dan Ibu merasa aman.”

Maya terdiam, lalu perlahan melepaskan antingnya sambil menangis. Tanpa mampu membantah rekaman itu, ia mengambil tas kecil dan meninggalkan rumah yang tadi ia kuasai sepenuhnya.

Beberapa hari kemudian, kondisi Ibu Ratna membaik. Arman membatalkan seluruh perjalanan bisnisnya dan memilih tinggal di rumah, menemaninya makan, berbicara, serta perlahan memperbaiki hubungan mereka.

Bi Sari juga dipanggil Arman. “Terima kasih karena berani menelepon saya,” katanya. Ibu Ratna menggenggam tangan Bi Sari dan menambahkan, “Kamu menyelamatkan harga diri saya.”

Setelah melalui pembicaraan panjang, Arman memutuskan hubungannya dengan Maya tidak dapat diteruskan seperti sebelumnya. Ia memilih melindungi ibunya dan menyelesaikan perpisahan mereka secara terhormat sepenuhnya.

Suatu pagi, Ibu Ratna meletakkan kembali foto keluarga yang sempat terendam hujan ke dalam bingkai baru. Arman berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.

Ibu Ratna tersenyum dan berkata, “Rumah bukan soal siapa yang paling berkuasa, Nak. Rumah adalah tempat kita menjaga satu sama lain.” Arman memeluknya erat tanpa menjawab.

Comments (0)

Loading comments...